Sabtu, 10 Januari 2015

Kita Sudah Berbeda, Teman

Ada yang bilang pertemanan antara wanita satu dengan wanita-wanita lainnya biasanya adalah palsu. Bisa jadi benar, bisa jadi tidak. Buat aku.... aku selalu menghindar dengan pertemanan macam ini. Biasanya aku lebih nyaman dengan perempuan yang disebut orang setengah gila dan yang paling penting gak jaim.

Pertemanan dengan dua orang (satu perempuan dan satu lelaki) di circle-ku saat ini sudah berlangsung selama tujuh tahun sejak pertama kali aku mengenal mereka, lalu hadirlah dua teman lainnya yang salah satunya adalah pacar salah satu teman baikku

Aku mengerti benar sifat dan sikap dua sahabatku, tak pernah sedikitpun aku mengeluh berteman dengan mereka, meski kita serba kekurangan kita selalu bersedia menutupi satu sama lain tanpa bercerita tentang keburukan satu dengan yang lain di belakang, paling tidak aku tidak akan pernah menyampaikan cerita yang tidak seharusnya disampaikan kepada teman lainnya.

Peraturan tetap berjalan, tapi orang-orang berubah, mungkin dua temanku sekarang sudah lebih banyak bergabung dengan orang yang demand-nya tinggi, tanpa filter. Mereka bertindak semakin membabi-buta, adu sana adu sini, aku kehilangan teman-temanku yang manis yang aku kenal.

Setelah selisih paham kemarin, hubungan aku ya baik-baik saja dengan ke-empat temanku dulu, cuma kami tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya, seakrab sebelumnya. Mereka bilang ini salah pacarku, aku bilang ini tentang sikap mereka yang lama-lama seperti penjilat dan tak berperasaan.

Hanya karena numpang dugem sana-sini, mereka berteman dengan mantan pacar dari pacarku dan memusuhiku. Mereka lupa, bahwa pasangan di dalam pertemanan kami ini pernah aku bela. Dia lupa, bahwa saat dirinya tak memiliki satu teman pun karena berselingkuh dengan pacarnya sekarang ini, mereka hanya berteman padaku. Karena aku tidak peduli bagaimana bentukmu, siapapun pasanganmu jika itu yang terbaik, mau tak mau sebagai sahabat aku juga harus suka dan tetap mendukung.

Berteman dengan mantan dari pacarku, menjelekkan aku dan memusuhiku yang semuanya aku hadapi dengan senyuman, aku tidak merasa berbuat salah hingga detik ini. Aku tetap menyapa jika bertemu, melempar senyum jika bertatap, meski kalian membuang muka atau mungkin pura-pura tidak kenal padaku.

True heart always win.

Saat mereka tak lagi nyaman berteman dengan teman barunya, satu per satu mulai intens menghubungi aku. Sekadar mampir atau bahkan rela menunggu kepulanganku demi melepas rindu. Usut punya usut karena mereka ternyata berselisih dengan mantan dari pacarku itu. Secepat itu? Aku sih sudah ogah ikut campur.

Kemarin mereka semua datang mampir, tak ada acara yang spesial hanya rindu berkumpul katanya. Aku menanggapi meski Keda bergeming. Kita becrakap-cakap seperti biasa, tapi ada sesuatu yang menjanggal di hati, kita tidak lagi sudah sperti biasa.

Hati kecilku sudah menolak, kita berbicara dengan gaya yang berbeda sekarang. Kita membahas hal-hal yang berbeda saat ini. Sudah tidak ada jalan untuk kembali. Kita hanya bisa berteman dan bersapa karena saling mengenal, tapi tidak untuk berbagi cerita. :)

Akuilah, kita sudah berbeda, teman...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar