Minggu, 18 Januari 2015

Liburan ke Pulau Pandang dan Pulau Salah Namo

Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba temannya mama yang tahun lalu sempat menawari kami berlibur bersama ke Pulau Salah Namo, Ibu itu datang menagih janji. Secara tiba-tiba, hari itu juga kami harus berangkat, aku ditawarin untuk nantinya memasarkan secara online Cottage yang baru dia bangun di Pulau Pandang, sekitar 30 menit perjalanan naik kapal dari Pulau Salah Namo.

Berhubung sudah lama tidak liburan, aku langsung mengiyakan tanpa berpikir panjang, toh... sambil bekerja juga nantinya di sana. Karena pekerjaan ternikmat kan liburan yang gratis (...dan dibayar). Hehehe.

Aku boleh mengajak teman, kata Ibu itu. Orang pertama yang terlintas tentulah Keda, aku menelponnya dan langsung menyuruhnya bersiap-siap untuk pergi ke Pulau sekarang juga. Dia yang baru saja bangun tentu tidak percaya, sampai-sampai harus memastikan berkali-kali hingga akhirnya dia percaya.

Mama yang tadinya ragu untuk ikut karena harus meninggalkan papa juga memutuskan ikut pergi dengan kami, dan Emi juga turut serta secara mendadak hari itu. Tanpa persiapan kami pun berangkat.

Perjalanan dari Kisaran ke BatuBara memakan waktu 45 hingga 60 menit untuk mencapai ke pelabuhannya. Kami dijemput oleh anaknya dari rumah dan diantar hingga ke BatuBara, namun kali ini keberangkatan kami tidaklah dari pelabuhan melainkan dari dekat peberhentian kapal-kapal dekat Pantai Bunga. Tak masalah, namanya juga liburan seru (dan gratis) dari mana saja dan naik apa saja juga kami adem ayem saja. Hihihi.

Muara sebelum bertemu laut

Sampai sana Ibu tersebut sudah menunggu. Kami naik kapal barang, ukuran muat 20 orang yang pada hari itu hanya diisi oleh 8 orang beserta bahan-bahan bangunan untuk menyelesaikan tambahan bangunan Cottage di Pulau Pandang.

Kami mengira akan pulang hari itu juga, keberangkatan pukul 3 sore tentu saja tidak memungkinkan bagi kami untuk kembali pada hari itu juga. Terpaksa aku harus membolos kerja 2 hari. Wajarnya perjalanan naik kapal biasa memakan waktu 2 jam ke Pulau Salah Namo, namun laut pada sore hari itu kurang bersahabat, angin yang bertiup kencang menyebabkan ombak berderu dengan keras menghantam kapal kami sewaktu-waktu, alhasil aku pun basah setengah kuyub tapi hati senang.

Keda di atas kapal

Bapak yang membantu mengantarkan kami ke pulau

di atas kapa, selfie dulu...

menuju pulau pandang


Ternyata malam itu kami menginap di Pulau Pandang untuk merasakan Cottage terbaru milik Ibu itu, padahal awalnya aku berpikir kami akan menginap di Pulau Salah Namo, penginapan di sana sebenarnya milik pemerintah namun dikelola oleh Ibu tersebut. Tak menjadi masalah menginap di mana, karena ke dua pulau pada nantinya juga akan dikunjungi.

Tibalah kami di Pulau Pandang dengan total lebih kurang 3 jam perjalanan laut karena ombak yang kencang sore itu. Sesampainya di sana, seketika letih dan kecemasan dalam perjalanan menghilang begitu saja. Pemandangan yang masih alami dan sulit terjamah oleh manusia menjanjikan ketenangan hati yang membuat siapapun yang mengunjungi pulau-pulau tersebut melupakan polemik dunia sejenak.

langsung foto begitu tiba

Keda juga gak mau kalah minta difoto hahaha



Kami langsung mengambil gambar, berfoto-foto sana-sini dan berlarian sana-sini. Bebas dan Lepas. Pulau ini mirip dengan pulau pribadi bagi siapapun yang mengunjunginya. Karena tiba di pulau ini sekitar pukul 6 lewat maka matahari pun mulai tenggelam, sore yang cerah hari itu membuat kami cukup beruntung untuk menikmati sunset di pinggir pantai tanpa melakukan apapun, hanya menikmati kekayaan alam dan kebesaran Tuhan.

SUNSET!!!


Tentang Pulau Pandang

Pulau ini menawarkan banyak pantai yang dihiasi dengan batu-batu berukuran besar di sekeliling pulau. Pulau ini memanjakan mata, begitu banyak kekayaan alam yang tidak habis untuk dibahas. Pulau ini menenangkan, membawa kedamaian. Tadinya, begitu sampai di pulau ini, aku langsung mencari kamar mandi karena menahan kebelet pipis sejak dari atas kapal tadi, hampir keliling pulau karena nyari kamar mandi, bukannya gak ada tapi gak tau, mulut udah sampe gak bisa ngomong sangkin kebeletnya, jadinya cuma mondar mandir sana-sini nyariin kamar mandi. Mama dan Keda juga ikut mencari kamar mandi, ternyata ada sebuah kamar mandi dekat Mess Navigasi, ditungguin ternyata orangnya lagi mandi dan gak keluar-luar.

Aku mencari kamar mandi lagi dan Keda sudah sedari tadi ngibrit ke bibir pantai, dia pikir mungkin aku udah jadi ke kamar mandi jadi dia langsung pergi memancing, (lagi-lagi karena gak bisa ngomong) aku menggunakan bahasa isyarat untuk dicarikan kamar mandi, dan gak ngerti...

Yaudahlah, aku mencari kamar mandi sendiri. Setelah bertanya sama si Ibu yang punya Cottage, ternyata kamar mandinya ada di atas, di depan tempat kapal kami berlabuh tadi. Duh rasanya kakiku langsung lemes.
Setelah buang hajat, trus, eh, kita kan jadi ribut tuh gara-gara insiden pipis itu, aku ngambek... dan akhirnya dia ikutan ngambek.

Tapi akhirnya aku sadar, aku juga sih yang salah. Hehehe. Lagian masa kita mau liburan pake berantem-berantem sih. Sebentar saja kami sudah baikan lagi. Pulau ini membawa damai.

Di pulau ini, malam harinya setelah makan indomie bersama seluruh penghuni pulau kami langsung berlarian ke pantai dan... aku tidak akan pernah menduga aku akan melihat pasir yang menyala... BENAR-BENAR MENYALA berwarna kebiruan. Aku benar-benar kagum dan speechless, sementara Keda memancing dengan anak Ibu pemilik Cottage, Kak Winda. Aku sibuk memotret pasir yang menyala.

Batu-Batu Besar

Pasir Menyala!!!


Langit malam hari itu sempat mendung, bulannya tidak terlihat meski bintang-bintang sudah mulai menampakkan diri dari sore hari ketika senja tiba. Beruntung ketika tengah malam, bintang-binta seperti memanggil induknya, bulan purnama pun perlahan muncul menyinari pulau yang minim pencahayaan itu. Romantisme malam itu begitu lengkap, langit yang bertabur bintang, bulan yang terang benderang, pasir pantai yang bercahaya. Aku merasa seperti di surga.

Bulan Purnama


Sementara yang lain sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Aku mengikuti Keda dan Kak Winda yang akan memancing, pelosok demi pelosok kami telusuri. Berhubung ombak besar dan terang bulan malam itu, tak satupun dari pancingan kami yang di makan ikan. Hahaha

Paginya, sekitar jam 6 matahari sudah terang di pulau ini, tidak terasa mengantuk sama-sekali padahal kami baru saja tidur jam 3 pagi, dengan niat ingin mengeksplor pulau dari puncak mercusuar hingga batu belah, sebagai tempat wisata yang harus dikunjungi ketika di Pulau Pandang.

Sebelum Matahari Terbit

Matahari mulai terbit


Pulau Pandang dari atas Mercu Suar

Matahari Terbit dari Atas Mercusuar



Saat kami mengksplor pulau ditemani Pak Jon (juru kunci dari Pulau Pandang), kami juga melintasi pantai penyu, yang pada malam hari jika beruntung kita bisa melihat penyu-penyu yang akan bertelur mendarat di panatai. Sayangnya, kami kurang beruntung untuk menikmati pemandangan tersebut kemarin.



Tim Pencari Batu dan Intan


Jangan kaget jika di sepanjang jalan melintasi pulau akan menemukan batu-batu unik (bahkan sebagian bisa diasah menjadi batu cincin) juga intan-intan alami dari perut bumi yang berserakan di tanah. Pak Jon juga mengaku pernah mendapatkan berlian, saat ini dia sudah pernah mendapatkan 13 berlian. WOW!

Kami melihat pulau pandang dari atas Mercu Suar juga saat di Batu Belah, kami dapat melihat Pulau Salah Nama dari kejauhan dengan jelas. Setelah puas mengeksplor pulau, aku dan Keda bahkan sempat snorkeling sebelum pulang dan melanjutkan perjalanan ke Salah Namo. :)

Di atas Batu Belah


Snorkeling




Tentang Pulau Salah Namo

Selepas dari Pulau Pandang, kami ke Pulau Salah Namo ditemani Kak Winda selaku juru kunci dari Pulau Salah Namo yang turut menjaga pulau tersebut. Pulau ini menyimpan sejuta misteri. Berbeda dengan Pulau Pandang yang menawarkan keindahan pantai-pantai.

Di sini, airnya yang begitu hijau, alamnya yang benar-benar tak terjamah benar-benar mencengangkan mata. Ketenangan dengan bunyi ombak dan suara-suara burung lah yang menjadi kelebihan pulau ini.

Pelabuhan Salah Namo





Tadinya, kami hanya singgah sebentar saja di pulau ini dengan maksud agar kapal menunggu akan tetap kapal milik keluarga Kak Winda ini kurang mengerti maksud kami, dan meninggalkan kami di pulau Salah Namo, meski sudah diteriaki untuk kembali, tetap saja suara kami tertelan suara ombak laut dan suara kapalnya. Kami terdampar di pulau Salah Namo untuk sementara waktu hingga kapal kembali dan mengurungkan niat kami yang akan tiba di Batu Bara siang hari.

Hingga sore hari, kapal tak kunjung datang, Kak Winda yang tadinya sudah emosi akhirnya meluluh. Kami mengambil hikmahnya untuk dapat menikmati pulau ini lebih lama lagi. Kami berkeliling pulau yang di bangun oleh pemerintah Batu Bara ini. Tampak benar bahwa pembangunan di Pulau ini tidak setengah-setengah, meski minim pantai tapi jalan untuk mengelilingi pulau ini sudah di bangun.

Dengan empat titik penginapan yang masing-masing dengan gaya berbeda, di sepanjang jalan mengelilingi pulau juga terdapat guci-guci besar yang sengaja di letak untuk memperindah pulau. Pulau ini sungguh luar biasa. Mengundang rasa penasaran setiap manusia mana pun yang mengunjunginya.

Alkisah, pulau ini ditempati oleh enam orang puteri, seorang raja dan seorang ratu. Kak Winda membagi cerita tentang asal-muasal Pulau ini hingga akhirnya kami seperti terninabobokan oleh cerita khas pulau ini dan memutuskan untuk tidur siang sejenak sebelum kapal menjemput.

Menyempatkan macing sebelum pulang, ckckck

Hingga sore hari menjelang malam, kapal tidak juga datang. Kak Winda menantang kami untuk naik kapal nelayan. Siapa takut, pikirku. Perjalanan kali ini memang diawali dengan petualangan maka segala bentuk tantangan harus kami sanggupi demi pulau-pulau ini. Akhirnya kami pulang menggunakan kapal nelayan.

Sunset di Pulau Salah Namo


Satu lagi, keinginan dalam hidupku tercapai. Begitu lama aku mengimpikan langit penuh sesak dengan bintang, menghadap ke langit saat di tengah laut. Malam itu tercapai, dadaku bergemuruh riang atas pemandangan di atas kapal malam itu. Langitnya seperti begitu dekat di atas kepalaku.

Semabari tiduran, aku menghela nafas puas dan bahagia. Hari ini adalah momen paling bahagia yang tidak akan pernah kulupakan kebesaran-Nya atas semua nikmat-Nya. :)




NB: Bagi yang ingin mengunjungi pulau Salah Namo dan Pulau Pandang dapat menghubungiku melalui email atau kolom komentar di bawah ini. Aku akan dengan sangat senang hati membantu. :)

Sabtu, 10 Januari 2015

Kita Sudah Berbeda, Teman

Ada yang bilang pertemanan antara wanita satu dengan wanita-wanita lainnya biasanya adalah palsu. Bisa jadi benar, bisa jadi tidak. Buat aku.... aku selalu menghindar dengan pertemanan macam ini. Biasanya aku lebih nyaman dengan perempuan yang disebut orang setengah gila dan yang paling penting gak jaim.

Pertemanan dengan dua orang (satu perempuan dan satu lelaki) di circle-ku saat ini sudah berlangsung selama tujuh tahun sejak pertama kali aku mengenal mereka, lalu hadirlah dua teman lainnya yang salah satunya adalah pacar salah satu teman baikku

Aku mengerti benar sifat dan sikap dua sahabatku, tak pernah sedikitpun aku mengeluh berteman dengan mereka, meski kita serba kekurangan kita selalu bersedia menutupi satu sama lain tanpa bercerita tentang keburukan satu dengan yang lain di belakang, paling tidak aku tidak akan pernah menyampaikan cerita yang tidak seharusnya disampaikan kepada teman lainnya.

Peraturan tetap berjalan, tapi orang-orang berubah, mungkin dua temanku sekarang sudah lebih banyak bergabung dengan orang yang demand-nya tinggi, tanpa filter. Mereka bertindak semakin membabi-buta, adu sana adu sini, aku kehilangan teman-temanku yang manis yang aku kenal.

Setelah selisih paham kemarin, hubungan aku ya baik-baik saja dengan ke-empat temanku dulu, cuma kami tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya, seakrab sebelumnya. Mereka bilang ini salah pacarku, aku bilang ini tentang sikap mereka yang lama-lama seperti penjilat dan tak berperasaan.

Hanya karena numpang dugem sana-sini, mereka berteman dengan mantan pacar dari pacarku dan memusuhiku. Mereka lupa, bahwa pasangan di dalam pertemanan kami ini pernah aku bela. Dia lupa, bahwa saat dirinya tak memiliki satu teman pun karena berselingkuh dengan pacarnya sekarang ini, mereka hanya berteman padaku. Karena aku tidak peduli bagaimana bentukmu, siapapun pasanganmu jika itu yang terbaik, mau tak mau sebagai sahabat aku juga harus suka dan tetap mendukung.

Berteman dengan mantan dari pacarku, menjelekkan aku dan memusuhiku yang semuanya aku hadapi dengan senyuman, aku tidak merasa berbuat salah hingga detik ini. Aku tetap menyapa jika bertemu, melempar senyum jika bertatap, meski kalian membuang muka atau mungkin pura-pura tidak kenal padaku.

True heart always win.

Saat mereka tak lagi nyaman berteman dengan teman barunya, satu per satu mulai intens menghubungi aku. Sekadar mampir atau bahkan rela menunggu kepulanganku demi melepas rindu. Usut punya usut karena mereka ternyata berselisih dengan mantan dari pacarku itu. Secepat itu? Aku sih sudah ogah ikut campur.

Kemarin mereka semua datang mampir, tak ada acara yang spesial hanya rindu berkumpul katanya. Aku menanggapi meski Keda bergeming. Kita becrakap-cakap seperti biasa, tapi ada sesuatu yang menjanggal di hati, kita tidak lagi sudah sperti biasa.

Hati kecilku sudah menolak, kita berbicara dengan gaya yang berbeda sekarang. Kita membahas hal-hal yang berbeda saat ini. Sudah tidak ada jalan untuk kembali. Kita hanya bisa berteman dan bersapa karena saling mengenal, tapi tidak untuk berbagi cerita. :)

Akuilah, kita sudah berbeda, teman...


Jumat, 09 Januari 2015

Chessy but....

Aku tidak pernah se-chessy ini!!!! Hahahaha

Sekarang, sudah menjadi ritual setiap malam untuk tetap menelpon sekitar 30-60 menit sebelum tidur (kayak ABG) buat cerita hal-hal yang mungkin udah diceritain atau hal-hal yang di luar masuk akal dan gak penting. (kayak...kenapa nyamuk sekarang jahat-jahat, gigitnya sampe bentol-bentol)

Pernah gara-gara nyamuk juga percakapan ini terjadi, karena aku abis dibeliin sopel dan hit elektrik beserta isinya sekotak:

"ah yang kamu perhatian anet cih sama aku" kataku

dia menjawab

"hahaha udahlah yang, aku cuma gak mau cewekku mati karena kenak DBD"

Bisaan aja emang, padahal mau romantis-romantis gitu... eh eh back to the topic

Padahal rutinitasnya kita udah semaleman atau kadang seharian bersama, paling dalam sebulan hanya 2-3 hari aja gak ketemu, kita udah kayak Pak Lurah dan Bu Lurah nya Kisaran, ada aja yang diurusin, (dimainin dan digangguin)

Jadi, malam ini ketemu dan seperti biasa lanjut telponan, dan pembicaraanya ke arah:

"eh yang, aku mau fotokopi kamu dong ya?"

"buat apa yang?"

"buat aku tempel diguling trus aku liatin tiap malem..."

aku juga dengernya geli sendiri kok, hahaha. trus aku pikir udah dong selesai sampai situ aja.

"yang, di mana ya bisa nyetak baju gitu yang ada gambar kitanya?"

"maksudnya sablon baju yang? buat apa"

"mau bikin sarung bantal aja deh, sarung bantalnya ada foto aku, supaya kamu bobonya aku temenin tiap malem"

Aposeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee ya perempuan dan lelaki ini hahahaha, dan gak ngerti lagi berapa hal-hal sepemikiran, sechessy, segaring, seluluh apapun yang pernah kita ucapkan satu sama lain.

But I Thank God, I've Found You as My Other Half

Dilamar.... Pake Lilin

Hari ini lagi seneng banget!!!
Ya walaupun emang selalu seneng (dan terkadang sedih) bersama-sama. Pokoknya hari ini beda, ya kan biasanya setelah masa tiga bulan (sekarang udah enam bulan pacaran), masa manis-manisnya mulai... campur sama asinan. hihihi

Sepulang mengajar tadi, pulangnya aku dijemput naik Vespa, momen pejemputan ini sudah direncanakan dari sehari sebelumnya, tujuannya mewanti-wanti aku supaya pake celana hari ini karena Vespa mungil nan centil itu pas-pasan banget joknya didudukin sama dua dugong gak tau diri ini. Udah kepikiran juga sih, kasian pasti Vespanya, kan kita dua-duanya gendut, pasti Vespa-nya menjerit kalo kita naikin, tapi ya namanya juga pengen ya meskipun kita berdua kalo tampak belakang, tampak depan, tampak samping mirip gajah naik skuter tetep aja dinaikin walau gak ada bagus-bagusnya. Hahahaha

Nah, balik ke masalah celana, sebelum mengajar tadi aku udah dibuat pusing karena ini. Masalahnya aku cuma punya sekitar lima celana panjang yang layak pakai (yang lainnya ada yang kekecilan, kebesaran, robek, pudar, ada juga yang jadi kain lap, dll) dan cuma satu celana yang seneng aku pakai, dan itu pun lagi dicuci. Matilah aku!!! Jadi bingung sendiri karena kebiasaan lebih sering pake rok dan celana pendek yang mendominasi isi lemari, teronggoklah aku seperti karung beras, seusai mandi saat menentukan pakaian. Hampir menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk mencocokkan pakaian saja, Hahaha

Keda memastikan sekali lagi, saat aku mengirim kabar bahwa aku telah pulang. "kamu pake celana kan?" hahahaha, aku jadi ngikik sendiri jadinya. Jadilah aku dijemput naik Vespa, dibonceng di belakang, pakai celana, dan terlihat seperti duo panda naik sepeda.

Tapi kita gak peduli, namanya juga... ehem... cinta. hahaha

Kami berkeliling kota, meski cuaca sedang mendung romantis malam ini diwarnai juga oleh gerimis unyu-unyu yang bikin suasana malam ini mengubah moodku 1000x lebih baik. Kami memutuskan untuk singgah di tempat makan baru yang jadi favorit kami. Tempatnya di depan pagar sekolah, di pinggir trotoar jalan, berhubung di Kisaran jaraaaaaaaang banget yang namanya pejalan kaki, alhasil bahu jalan selalu digunakan oleh pedagang kaki lima.

Makanannya enak, yang dijual cuma miso dan nasi lemak, harganya 8.000 per porsi ada juga sate kerang rendang, sate telor rendang dan sate jengkol rendang, kesukaanya Keda. Hihihi. Pas kita mau mesen eh... hujannya makin deras, tadinya pengen duduk beratapkan bintang-bintang (padahal mendung) jadi batal dan harus pindah ke yang ada tendanya, tapi penuh... satu-satunya yang masih kosong hanya di HALTE yang BANGKUnya dijadikan MEJA!!!! Luar biasaaa hahaha, tapi unik sih, aku suka.

Pas makanan kita datang hujannya semakin deras sekali, makanan hangat tersaji di depan mata, sambil duduk berdua... eh makan berdua di halte memang menambah romantisme malam itu, walau tempatnya gak biasa. Hahahaha

Abis makan, kita bisa mainin air hujan dari halte, main ciprat-cipratan air hujan, walaupun aku doang yang kegirangan, biasaaaa anak kecil kaga pernah ketemu aerrrr... Nah, pas pulangnya kita yang bingung, akhirnya nunggu redaan hujan dan terpaksa harus pulang cepat karena Keda kebelet mpup... hahahaha

Sampe di rumah sebenernya bingung mau ngapain, udah kedinginan, akhirnya kita cari aktivitas yang bisa bikin anget yaituuuu... MAIN LILIN!!!!

Kemaren-kemaren sih udah pernah main lilin juga, berempat, Aku, Keda, Ican dan Fatur bikin kue, cabe, bebek, ayam, ikan, babi, donat, bunga, love, eek, ular, cacing, dll (maaf untuk benda yang tidak disebutkan)
jadi sekarang main lilin, rada bingung mau bikin apa... alhasil aku buat sesukaku

"yang, yang ini apa?" tanyaku

"apa tuh...?" Keda kebingungan dengan bentuk lilinku yang absurd

"ini Taurus"

Lalu aku bikin hal-hal absurd lainnya

"yang, yang ini apa?" tanyaku di lain waktu menempelkan bulatan lilin di wajahku

"lilin"

"bukan! ini jerawat"

....oke keadaan udah mulai garing, aku mulai serius menekuni bidang perlilinan ini, sedang Keda udah dari tadi serius dengan lilin-lilinnya. Hahahaha

Jadilah aku bikin kue, yang sok cantik, sok keren dan sok modern,ah.... yah yang penting bikin dah. Pas lagi asik-asiknya, ada cowok genit manggil aku...

"yang liat deh, dah jadi"

mesem-mesem sendiri, padahal udah daritadi ngintipin dia bikin ini. hahahaha

"Mana hape, sini biar aku foto..." katanya

itu yang di sebelah kanan, kue lilin buatanku. hahaha
Aku cengengesan sepanjang malam. hihihi.

Terus dia bikin lagi, kali ini aku gak ngintipin, aku juga lagi sibuk pengen bikin sate dari lilin mainan, tapi gagal, dagingnya (lilinnya) terlalu rapuh. Hahahaha

Batal bikin sate, aku alih profesi... BIKIN BAKSO, karena pastiiiii lebih mudah.

pas lagi asik bikin bakso, ada cowo genit yang memanggilku lagi...

"yang, kamu lagi buat apa?"

"buat bakso, jangan ganggu dulu. aku sibuk. hahaha"

"sini jarinya..."

lalu terseliplah sebuah cincin bermata dua dengan seikat cinta... haseeek....

LUAR BIASA  KAGETNYA!!! Anak ini ngapa tetiba manis begini kayak kucing, biasanya juga manis sih, cuma yang ini kebangetan manisnya sampe aku bisa-bisa diabetes karenamu, bang...

belaga jadi model perhiasan gitu hahaha

"Will you marry me?" katanya

"hahahaha... ampuuuuunnn yang...."

"Aku hari ini ngelamar kamu"

"Ah dulu juga kan udah pernah, pas baru tiga hari pacaran udah ditanya yang"

"oke, sekarang tuker cincinya kalo gitu"

...


Cowok yang satu ini emang selalu nggemesin. I Love You, Keda