Sabtu, 04 Oktober 2014

An Extraordinary Journey to SABANG!!!

Meski tidak seberapa jauh dari Sumatera, khususnya Medan. Usahaku mencapai Sabang tak semulus berpergian ke daerah manapun, sebelumnya aku sudah dua kali mengajak teman-temanku ke Sabang, namun harus berhenti sebatas wacana. Sampai aku bertemu Keda, lelaki sepamahaman ini awalnya bercerita tentang keinginan terpendamnya ingin ke Sabang, begitu pun aku, seperti menemukan teman seperjalanan dan sepemikiran yang bernasib sama, kurang dari dua minggu kami merencanakan kepergian kami ke Sabang.

Akhirnya kami menentukan hari berangkat yang sudah tidak begitu repot bagi kami berdua dan tak sengaja hari yang disepakati adalah hari tepat sebulan kami berpacaran. Kami memutuskan pergi berdua setelah melewati sekian banyak drama dari teman-temanku yang juga ingin ke Sabang diam-diam tanpa sepengetahuan kami.

Awalnya aku sedikit kecewa dengan teman-temanku yang dari awal sudah kuajak lebih dahulu namun malah memilih pergi dengan teman-temanya yang lain, kecurigaanku mengendus gelagat mereka yang memainkan skenario untuk menutupi keberangkatan mereka dengan teman-temannya dari Medan tanpa aku padahal hari keberangkatan kami sama. Beruntung saat ini aku punya Keda yang juga berantusias ke Sabang, drama-drama temanku tak begitu berarti buatku... toh kami masih bisa bersenang-senang berdua.

Walaupun itu artinya perjalanan kami semakin menantang, Aceh yang terkenal sebagai kota syariah tentu tidak membolehkan pasangan non muhrim tidur sekamar dan biaya perjalanan sudah pasti mebengkak. Berhubung kami ke sana niatnya memang untuk liburan, segala cara pun kami tempuh.

Hari keberangkatan tiba. Dari Kisaran kami berangkat dini hari menumpang travel ke Medan milik temannya Keda. Setibanya pukul 5 di Medan kami berkeliling mencari bus perjalanan Medan - Aceh yang buka, berhubung masih awam, kami asal memilih bus yang sudah buka saja. Pilihan jatuh kepada Bus Pelangi dengan tiket seharga 160.000/orang, setelah mengobrol-obrol dengan bapak koordinator tiket bus tersebut, meski loket belum dibuka di terminal, tiket kami sudah ditangan karena dibantu oleh bapak tersebut.

Perjalanan memakan waktu hampir seharian, padahal aslinya Medan - Aceh hanya menghabiskan waktu 8-10 jam, bus yang kami tumpangi sedikit nakal, sepanjang perjalanan jalannya berlambat-lambat dan tetap mengangkut penumpang yang menyetop seperti angkot meski busnya sudah penuh dan berdesakan. Kami yang berangkat pukul 8 pagi tiba di Banda Aceh pukul 11 malam. Melelahkan.

Setibanya di Aceh tentu kami harus menginap di hotel karena sudah tentu tidak ada kapal penyebrangan ke Sabang pada waktu tersebut, tak ingin mendapat masalah kami memesan kamar hotel secara terpisah karena tidak akan mungkin menemukan hotel yang memungkinkan penginap non muhrim sekamar di Aceh. Padahal kamar yang kami inapi masing-masing berisi 3-4 tempat tidur, pemborosan sih tapi mau bagaimana lagi, hotel tersebut yang paling dekat dengan pelabuhan.

Paginya setelah segar kami segera berangkat ke pelabuhan Ulee-Lheue untuk menyebrang ke Sabang. Kami belum melakukan reservasi apapun di hotel manapun. Rencana awal ingin menginap di kawasan Iboih, kami menyewa mobil dan berkenalan dengan bapak supir yang nantinya banyak membantu kami dalam mencari penginapan.

Seperti yang sudah aku duga, usaha untuk mencari penginapan yang membolehkan kami sekamar tidak akan mudah. Di Iboih, ada yang menolak kami secara halus, ada yang harganya kemahalan dan ada juga yang marah-marah karena kami bertanya kamar kosong dan menjawab jujur bahwa kami belum menikah. Si ibu bilang begini

Tidak, walaupun ambil dua kamar pun tidak boleh. Saya mungkin tidak tahu apa yang kalian lakukan malam-malam, mungkin saja kalian menyelinap tapi itu urusan kalian dengan yang di Atas. Saya tidak mau terkena azab-Nya 

Keda sih langsung badmood waktu diceramahin begitu, kalo aku sih nyantai aja, sudah mempersiapkan diri bahkan ngerasa ini lucu banget, karena ini bagian dari petualangan yang tentunya gak mungkin mulus-mulus aja. Aku ketawa cekikikan di mobil dan meninggalkan Keda yang kena ceramah.

Batal di Iboih, kami mendatangi tempat yang lebih populer lagi, Sumur Tiga. Awalnya tempat ini tak menjadi dalam daftarku selain tempatnya yang mahal per malam, penginapan di daerah sini jarang yang kosong dan biasanya sudah full booking semua. Namun karena kami harus mencari tempat menginap maka aku pikir tidak ada salahnya mencoba. Kami mendatangi Freddy's dan Santai Sumur Tiga, keduanya sudah penuh.

Sejujurnya kami sudah putus asa tapi berkat bantuan kenalan abang supir mobil yang mengantarkan kami berkeliling Sabang hari itu, kami mendapat penginapan tepat di kota Sabang. Meski, tidak di pinggir pantai kami sudah harus bersyukur masih ada yang mau menerima gembel seperti kami ini. Dengan tarif 200.000/malam, aku berhasil menawar menjadi 500.000 untuk 3 malam. Hotelnya kecil tapi apik, hanya untuk tempat menginap saja, fasilitasnya standarlah AC, TV, air panas dan dispenser (lumayan menghemat beli minum).

Kalau kami bersikeras menginap di pinggir pantai sudah tentu tidak bisa dapat harga segitu. Untuk ongkos sewa mobil dan supirnya awalnya si abang yang mematok harga 100.000 untuk 2 orang dari pelabuhan ke Iboih (memakan waktu sekitar 1 jam), namun karena si abang yang sudah begitu baik membantu kami menego, mencarikan bahkan menempatkan kami di hotel yang 'yah begitulah', perjalanan pelabuhan-iboih-kota-sumur tiga dan kembali ke kota lagi, kami menyalamkannya 200.000 untuk setengah hari penuh petualangan itu.

Karena jauh dari mana-mana, kami memutuskan untuk menyewa motor untuk berkeliling Sabang. Tarif normal untuk penyewaan motor di Sabang adalah 100.000/ setengah hari atau 12 jam tapi lagi-lagi Tuhan mempertemukan kami dengan orang baik, kami menyewa motor 200.000 untuk 3 hari  non stop. Motornya sih kurang memadai, aku yang tadinya mau naik motor matic saja tapi karena abang penyewa adalah orang sekampung, ya dipaksa sajalah naik motor bebek biasa yang kalau jalanan menanjak, motornya jerit-jerit. hahahaha

Hari pertama setelah mendapat hotel, aku mengatur ulang jadwal perjalanan kami karena waktu sudah hampir senja, aku dan berkeliling di daerah kota saja. Jangan takut, di daerah kota kami masih bisa melihat pantai, karena sudah pasti Pulau Weh dikelilingi oleh pantai-pantai biru nan memanjakan mata.

Pantai Kasih adalah tujuan utama kami. Pantai Kasih sebenarnya biasa saja dan bisa dilihat di sepanjang pesisir kota Sabang, tidak ada pasir putih tempat orang-orang bisa bersantai atau berjemur seperti pantai-pantai lainnya. Pantai Kasih lebih ke wisata perkotaan, di pinggirnya ada Taman Wisata Kuliner yang bisa dijadikan tempat mencoba makanan-makanan Aceh sambil menikmati deru ombak pantai.

Ternyata kami salah, kami menelusuri perkotaan dan sepanjang Pantai Kasih, sampai kami menemukan ujung dari Pantai Kasih yang tidak dikunjungi oleh wisatawan manapun. Pantainya mudah diakses dan dekat dengan rumah warga, kami menghabiskan waktu sepanjang sore hari itu di Pantai Kasih, berdua saja. Ahey :D

Pantai Kasih


Malamnya kami bersantai di Taman Wisata Kuliner, tempat yang minim cahaya namun menambah romantisme pantai yang terang karena cahaya bulan yang benderang selama kami di Sabang, beruntung hari-hari di sana sedang dan selalu cerah. Kami mencoba sate gurita yang enak banget rasanya (pilih yang kuah kacang) dan kentang goreng sebesar jempol-jempolnya Keda.

Perjalanan ke Sabang ini merupakan hadiah bulan pertama setelah kami berpacaran, sebenarnya tidak disengaja perjalanan kami sudah sama-sama lega di tanggal lima, tapi aku benar-benar serasa sedang berbulan madu dengan sahabat terbaikku, Keda.

Esokknya kami menjelajah di kawasan Iboih. Sekitar pukul 10 pagi kami berangkat dari Kota menuju Titik Nol, perjalanannya sungguh luar biasa indah dan melelahkan. Kawasannya masih konservatif bahkan katanya kalau sedang beruntung di Titik Nol kita bisa melihat si Bro, babi hutan yang tidak lagi liar. Cerita sedih saat aku sedang berada di Titik Nol sesaat sedang menikmati Kelapa Muda, tiba-tiba perutku serasa melilit tidak karuan, aku muntah dan sembelit dua kali ke WC Umum, lemas parah tapi untung saja si ibu pemilik warung memberiku pertolongan pertama berupa Oralit yang lumayan membantu.

KM 0


Keda seketika panik, hahahaha, anak ini memang agak sulit mengurus orang sakit (karena akan selalu bingung). Aku sakit perut mungkin karena makanan nasi ala warteg yang padahal rasanya paling enak yang pernah kami datangi selagi di Sabang. Rasanya pas, pedasnya sesuai selera berbeda dengan nasi-nasi yang dijual di restoran nasi padang yang rasanya tidak terlalu berkesan, warung nasi rumahan ini enak banget, letaknya di perjalanan menuju ke Sumur Tiga.

Tak ingin berlama-lama menahan rasa sakit, Keda langsung mengajakku pulang dari Titik Nol dan kami melanjutkan perjalanan ke Iboih. Sesampainya di sana rasa sakit perutku seketika menghilang, kami akan Snorkeling di Pulau Rubiah dan ini adalah pengalaman menyelam pertamaku.

Setelah sesaat mengobrol-obrol dengan bapak penyewa alat Snorkeling, aku lagi-lagi mendapat potongan diskon untuk kami berdua biasanya sewa alat dan pelampung seharga 40.000/orang, aku mendapat harga 35.000 per orang padahal kami hanya berdua saja. Sesaat aku ingin bertepuk tangan untuk ilmu negosiasiku. hahahaha

Sebenernya kunci dari perjalanan ini (dan Indonesia) adalah beramah tamah dan sering mengobrol dengan warga sekitar, niscaya segala kemudahan akan terbentang luas begitu saja. Beruntung kami berdua adalah orang yang mudah berbaur, meski kami harus berbohong tentang status, kami mengatakan bahwa kami sudah menikah untuk menghindari pertanyaan dan anggapan sinis dari warga Aceh yang syariah ini.

Untuk sewa kapal boat, sudah tidak dapat ditawar lagi karena sudah menjadi ketentuan dan peraturan retribusi untuk perjalanan ke Rubiah, antar dan jemput (bonus berkeliling) dikenakan tarif 150.000 (padahal isi kapal cuma kami berdua). Karena budget terbatas kami tidak sanggup untuk berfoto underwater hahahaha (sebenarnya muka Keda udah pengen banget tapi dipelototin oleh Ibu Negara pengatur keuangan)

Pulau Rubiah


Di Pulau Rubiah, isinya kebanyakan orang Medan bahkan aku juga bertemu dengan teman-temanku yang berangkat ke Sabang dengan komunitas ehem uhuknya itu, aku sih biasa aja karena kita sama-sama senang kok menjalani liburan dengan cara kita masing-masing. Sesaat kami hendak pulang, sekumpulan ibu-ibu berbicara padaku

Wah ini istrimu ya, Dek? Cantik ya... Tinggal di Mana? Mirip ya sama keponakan Ibu. 
Sudah berapa bulan? Hati-hati ya dijaga kandungannya jangan terlalu lasak

Aku terheran-heran hanya membalas dengan senyuman karena tak mengerti, sudah pasti ini ulah Keda karena aku melihat dia tertawa cekikikan dari kejauhan. Ternyata sebelumnya dia sudah mengobrol dengan ibu-ibu ini dan mengatakan aku sedang hamil muda!!!%&??

Sepulangnya terjadi sedikit tragedi dari motor tua kami, bannya bocor. hahahaha. Agak sedikit kesal karena bannya bocor waktu maghrib setibanya di kota, sedangkan semua toko dan usaha apapun di Sabang tutup waktu maghrib dan buka lagi setelah maghrib usai. Setelah bertanya sana-sini akhirnya kami menemukan tukang tambal ban yang akan buka setelah maghrib.

Keda mengobrol dengan bapak tambal ban dan lagi-lagi mengatakan aku istrinya, tak berapa lama seorang ibu keluar dengan air sirup dan kue-kue sisa lebaran miliknya. Sungguh luar biasa ramah-tamah orang Sabang. Bahkan tak berapa lama, Keda sempat disinggahi oleh Walikota Sabang yang sedang berkeliling dan sempat bersalaman dengan beliau dan menanyakan kondisi kami saat itu. Aku sungguh terharu.

Hari ketiga kami habiskan dengan menjelajah ke Anoi Hitam di siang hari  dan Sumur Tiga di malam hari, sengaja kami menanti momen dinner di Freddy's meski berujung juga pada Pantai kasih juga malam itu agar tidak terlalu malam pulangnya.

Keesokan harinya, Hari Keempat kami bergegas pulang dan menyebrang lagi ke Aceh. Di perjalanan pulang di dalam kapal lagi-lagi Keda bercerita dengan ibu di sebelahnya bahwa kami sudah 4 tahun menikah dan sedang berbulan madu menanti momongan. Anak ini memang ada-ada saja, sebisa mungkin aku saat itu menahan cekikikan agar tidak terlihat mengarang cerita.

Tetapi lelaki ini memang luar biasa manisnya, I couldn't resist him. I love him deeply.
Thanks for this lovely journey that I would never ever forget until I die.


Pantai Sumur Tiga

You're the only one.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar