Jumat, 11 Juli 2014

Liburan Terbaik di Danau Toba

Perjalanan kali ini tidak direncanakan seperti liburan yang sebelum-sebelumnya. Meski ini adalah kali kedua dalam tahun ini untuk berlibur sehari secara tiba-tiba (yang pertama, ke Medan) tapi inilah liburan yang terbaik di sepanjang hidupku.

Setelah makan malam, Aku dan Keda pulang ke rumah. Teman-temanku, Ivo dan Putri yang mengendus gelagat kencan pertama kami juga tidak mau kalah ingin merayakannya dan berinisiatif untuk mengajak pergi ke Prapat. Berhubung sedang bahagia, aku setuju saja.

Jadilah kami pergi ke Prapat malam itu juga sekitar pukul 2 dini hari dan tiba di Prapat sekitar pukul 4 lebih lalu singgah di rumah makan  untuk sahur meski pada akhirnya tidak ada satu pun yang dari kami yang puasa. Perjalanan nekat ini beranggotakan Aku, Keda, Putri, Ivo dan Opung. 

Matahari mulai terbit, kami pergi ke hotel Bahari untuk bertemu Danau Toba. Tentunya kami tidak menginap, kami hanya menumpang duduk di  dekat pantai perairan dari Danau Toba sambil menikmati matahari yang mulai menunjukkan sinarnya di ufuk timur.




Karena belum ada istirahat dan tidur, kami yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda mengantuk tidak mau menyerah begitu saja untuk perjalanan hari ini. Keda membawa kami ke suatu tempat dekat Rumah Pengasingan Bung Karno di Prapat.

Rumah Pengasingan Bung Karno

Pemandangan di sana sangat indah dan sejuk, kawasannya begitu adem karena terlindungi oleh pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Lalu kami menuruni anak tangga untuk mencapai perairan. Opung yang penasaran dengan Danau Toba memesan speed boat untuk melihat Batu Gantung.

Ada kejadian lucu saat kami hendak menaiki boat, saat menuju ke kapal tiba2 anjing liar dari belakang mengejar kami untungnya kami tidak lari, Aku Keda dan Putri yang jadi bulan-bulanan si anjing. Kami semuanya takut pada anjing jadi terjadilah drama tangis takut dan menggeletar saat anjing mendekat. Untungnya anjing-anjing tersebut segera diusir oleh warga sekitar.

Batu Gantung
Batu Gantung adalah Cerita Rakyat dari Pulau Samosir mengenai seorang Putri yang melompat dari tebing bebatuan tepi Danau Toba dikarenakan dipaksa kawin dengan Paribannya (sepupu). Tidak semua pengunjung bisa melihat rupa jelas bentuk batu ini, setelah bercakap-cakap dengan pengemudi Speed Boat sekaligus Tour Guide kami, tidak hanya sang putri saja yang melompat tapi anjingnya juga ikut melompat dan ikut menjadi batu di samping sang putri (yang katanya terlihat mahkotanya).

Tempat tersebut sangat sakral, tentu harus berhati-hati untuk berbicara dan bertingkah. Kedalaman air danau toba mencapai 400 meter di sekitar Batu Gantung. Setelah puas, kami kembali lagi ke tempat awal. Tour singkat ini memakan waktu 15-20 menit dengan harga 200-300rb per kapal.



Waktu masih menunjukkan pukul 8, tapi kami sudah tidak tahu mau kemana lagi setelah ini. Maklum orang Sumatera selalu berlibur ke Danau Toba setiap ada kesempatan jadi kebanyakan Prapat yang kecil itu sudah bosan untuk dijelajahi. Terjadi sedikit dilema juga saat Keda mengusulkan untuk menyebrang ke Tuk-Tuk untuk bersantai, tapi mengingat waktu yang sangat mepet karena sore hari aku dan Ivo harus pulang, kami mengurungkan niat.

Kami memutuskan untuk makan , bagi yang muslim dan meragukan kehalalan makanan di Prapat, boleh mencoba Rumah Makan Pak Pos di samping Kantor Pos. Halal dan enak! :)

Perjalanan kami selanjutnya adalah ke Kebun Binatang Siantar milik Rahmat Syah (bapaknya Raline Syah) kebun binatang ini baik terawat dan harga masuknya per orang adalah Rp. 15.000, rute kami ke kebun binatang ini atas permintaan Opung yang senang dengan alam dan binatang, juga Ivo yang ingin ketemu Singa. Kami bersantai sejenak di sana dan meluruskan kaki hingga pukul 1 siang.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke PAS Siantar (Pemandian Air Sejuk Siantar) agar bisa bersandar di bawah pohon beralaskan tikar sambil memakan ikan bakar ditemani oleh bunyi gemericik air dari sumber mata air. Hanya aku dan Keda saja yang mandi, meski aku tahu dia sebenarnya sudah gak kuat lagi buat mandi karena ngantuk tapi demi menemankan aku yang 'gak bisa lihat air' selalu ingin berenang dia rela mengorbankan waktu bersantainya.

Tidak ada yang membawa baju, untung saja di sana ada toko yang menjual pakaian-pakaian sekadarnya untuk mandi menyebur di mata air. Secara impulsif, Keda langsung membeli celana dan berniat membelikan untukku juga namun batal karena aku menolak untuk dibayarkan hal-hal yang bersifat pribadi.

Puas bermain dan berendam air, kami pun pulang dengan keadaan tepar seada-adanya. Kisaran menanti, kami tiba pukul 5 tapi aku tak bisa langsung tidur karena harus membantu di Resto terlebih dahulu. Aku baru tidur pukul 8 malam dan tak sadarkan diri hingga esok harinya.

Meski capek, tetap saja ini adalah perjalanan yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar