Jumat, 13 Juni 2014

I Just Wanna Say Thanks


Sebulan lebih tidak menulis rasanya ada yang hilang, lagi-lagi karena urusan di dunia nyata lebih merepotkan dari biasanya sehingga hati dan pikiran sedang enggan menulis. Selain urusan percintaan yang menjadi bumbu-bumbu hidup tentunya anak-anak muridku di tempat les mengalihkan perhatianku.

Guyonan khas anak-anak, teriakan, tangisan, aduan, kemanjaan dan ketulusan hati  mereka membuat hidupku jauh lebih berwarna. Bahkan beberapa waktu yang lalu, murid-muridku di kelas terendah usia (5-7 tahun) bertanya padaku,

"miss kalau aku naik kelas gurunya tetap miss kan?"

Aku menjawab "tergantung, bisa jadi miss, bisa tidak"

Lalu dia membalas lagi, "wah kalau begitu aku tinggal kelas aja deh miss, biar gurunya miss lagi"

Spontan aku kaget, antara senang dan sedih mendengarnya. Senang karena akhirnya anak-anak ini memiliki rasa keterikatan batin denganku, sedih karena sebenarnya pada saat itu aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan mengajar dan kembali ke Jakarta.

Aku tidak dapat berkata apa-apa selanjutnya. Namun sejak saat itu aku bertekad akan meluangkan waktu untuk tetap mengajar anak-anak nantinya.

Mungkin yang membaca postingan sebelum ini akan bertanya-tanya bagaimana akhirnya aku bisa diizinkan kembali ke Jakarta. Singkat cerita, aku menuruti semua keinginan Ibu untuk tidak berhubungan dengan D lagi dan aku ikhlas. Hehe.

Meski pada saat itu aku belum berpikiran untuk kembali dan lebih memilih menjalankan hidup seperti biasa, membantu orangtua di perusahaan mereka dan mendapat uang tambahan sebagai guru les. Aku rasa saat itu aku sudah cukup.

Tapi seseorang yang tidak terduga hadir dalam hidupku, seseorang dari masa lalu sekitar tiga tahun yang lalu yang tidak mempunyai kesempatan untuk saling mendekat. Dia lelaki yang baik dan lucu, semua orang mengakuinya. Dia terkenal karena beberapa kali mucul di tv.

Mungkin kalian pernah mendengar kutipan "pernahkah kamu bertemu seseorang dan sebentar saja dia telah mengubah duniamu" aku menemukannya pada dia. Entah setan apa rasa ingin kembali ke Jakarta semakin menggebu.

Ajaibnya, setelah beberapa kali membujuk, Ibu pun setuju.

Aku mempersiapkan segalanya dan menyelesaikan semua hal yang harus diselesaikan di sini termasuk masa depan perusahaan Bapak. Aku berencana berangkat sekitar akhir bulan Juni atau awal bulan Juli. Aku mulai sibuk mencari pekerjaan dan tempat tinggal lagi di Jakarta.

Tapi sebelum masa itu datang, hubungan kami memburuk, kami bahkan tidak berbicara satu sama lain atau mungkin bisa disebut saling membenci entah karena pengaruh hubungan jarak jauh dengan komunikasi yang tidak lancar yang sering kali menimbulkan salah paham entah juga karena memang masa kami sudah habis.

Tak satupun di antara kami yang mau mengalah. Masa pendekatan-pengejaran-pelepasan selama tiga tahun harus terkalahkan dengan komitmen yang hanya bertahan satu bulan saja. hahahaha.

Aku bisa saja menganggap bahwa dia mungkin adalah seseorang yang Tuhan kirimkan untuk mengubah hidupku untuk kembali mengejar mimpiku melalui dia.

Namun di satu sisi rasa benci dan permusuhan di antara kami menggangguku, rasanya lebih baik aku tidak mengetahui atau masuk ke kehidupannya sama sekali daripada berakhir seperti ini. Aku terkadang masih diam-diam merindu, mendoakan kesuksesannya meski aku akan terlalu berat menyapa dia nantinya

Tapi... untuk semua yang dia lakukan, untuk kembali menyemangatiku mengejar mimpiku...

Aku berhutang rasa terima kasih yang teramat besar kepadanya.





...meski tidak akan kusampaikan sekarang. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar