Jumat, 26 Desember 2014

Yang Ngambek Siapa?

Masih bingung sampe sekarang, kayaknya kalo Keda ngambek (atau cemburu.... cie...cie) senengnya belanjain aku ya? Hahahaha

Jadi ceritanya begini, setelah hampir gak ke mana-mana dua bulan, aku sering banyak nuntutnya, pengen diajak jalan-jalan. Seperti biasa, hari Minggu, Keda datengnya lebih cepat ke rumahku, udah dari siang di rumah. Sebenernya gak pengen ke rumah aja sih tapi sambilan ke bengkel Vespa depan rumah juga sih.

Trus kita pacaran unyu-unyuan gitu di rumah abis itu ke bengkel lagi abis itu ke rumah lagi (begitu aja terus sampe bengkelnya tutup), karena lain dan suatu hal, kita ribut kecil. Aku sih yang salah, hehehe

Malemnya Keda kelaperan, tadinya dia minta dimasakin indomi, ternyata mama juga lagi mau masak buat papa yang lagi ngidam makan ikan pake lalapan. Sekalian aja deh masaknya. Gak jadi masak indomi, kita makan yang lebih enak hari ini. Hahahah.. 

Nah, biar anteng Keda aku kasi laptopku buat nonton film, laptop zaman kuliah yang udah gak pernah kupake lagi.

Makanan udah selesai, ternyata ada Nanda juga, temannya. Trus aku disindir Keda...

"aku tadi liat film bagus,  pemerannya kamu"

aku mikir keras, aku bikin film apa kok mukanya masam begitu.....

"film yang mana yang?" aku masih bingung

Dia tidak menjawab, namun beberapa saat kemudian aku ingat akan video anniv tak seberapa dengan mantanku dulu yang lupa kuhapus. Alamak!!!

Siap boss, ngaku salah boss. Dia mengaku tak enak hati dan cemburu, aku meminta maaf atas kekhilafanku membiarkannya melihat masa laluku yang bahkan aku sendiri enggan mengingatnya.

Setelah usai makan, kami berjalan-jalan keliling kota mengademkan hati.

"Yuk, beli sandal," alih-alih di tengah perjalanan dia berhenti di toko sepatu

Memang tiga hari yang lalu, sendalku putus dan dia berjanji membelikan gantinya meski aku bersikeras menolak dia memaksa dengan manis hingga akhirnya sampai kami di toko sepatu pada malam itu. Aku sudah tidak bisa mengelak, mau tak mau harus turun, daripada diliatin orang. 

Di toko sepatu kami sempat bikin keributan, hahaha,

"yang murah aja sayang" 

"jangan, yang mahal aja" katanya

"yang murah aja, sama aja buatku, cepat rusak juga nanti yang"

Kali ini dia mengalah, dan menyetujui logikaku.

"wah ini murah banget!!! Ambil dua aja yang"

"satu aja  yang"

"dua"

"satu"

Persis kayak iklan KB dan kami diliatin mbak-mbak penjaga tokonya.

"Oke, dua mbak, yang ini juga satu" katanya  sambil menunjuk salah satu sandal lainnya sama penjaga tokonya.

itu di sudut kakki nyempil

Oke, aku luluh, dalam hati sudah berbunga-bunga bukan masalah harganya, bukan masalah bendanya yang dia berikan tapi tentang dia yang selalu berusaha membuat aku bahagia dengan cara apapun. 

Makasih ya sayang.

Aku pulang dengan bahagia, dalam hati yang berbunga-bunga dan wajah yang senyum-senyum.

"Yang ngambek siapa, yang dibeliin sandal siapa" batinku




Senin, 13 Oktober 2014

Papaku (Bukan) Pengacara

Tulisan ini dibuat karena rasa bangga kepada papa saya yang bukan seorang pengacara. Papa adalah hanya lulusan Hukum salah satu universitas negeri di Sumatera Utara. Dia menolak untuk menjadi pengacara, notaris atau apapun yang berhubungan dengan hukum di Indonesia. Dia mengakhiri segalanya yang berkaitan dengan hukum sejak diwisuda, yang bahkan hingga saat ini ijazah lulusan sarjana hukum itu tidak pernah diambil.

Yang bersisa hanyalah foto wisuda yang menggantung di dinding rumah sebagai tanda bahwa papa pernah mengemban bangku kuliahan di universitas negeri. Papa butuh waktu 9 tahun untuk menyelesaikan gelar sarjananya. Bukan karena tidak sanggup menyelesaikannya tepat waktu, papa meninggalkan status mahasiswanya beberapa saat (bercuti) sesaat setelah praktek di pengadilan, dia membanting setir mencari peruntungan di bidang lain sebagai wiraswasta..

Papa kecewa menyaksikan dan menjadi bagian dari praktek hukum di Indonesia. Dia selalu bilang...

"Yang benar saja harus bayar, apalagi yang salah..."

Awalnya pun papa enggan menyelesaikan kuliahnya. Tapi opa yang saat itu sedang di penghujung akhir hidupnya mengatakan keinginanya yang ingin melihat papa segera diwisuda. Beberapa saat setelah kematian opa, papa segera menamatkan kuliahnya.... dengan terpaksa.

Papa bukanlah orang yang tidak berbakat di dunia hukum, cuma prinsipnya mengenai kejujuran membuatku selalu bangga padanya. Papa orang yang lihai berbicara, kelihaiannya mempengaruhi orang lain hingga saat ini membutikan padaku bahwa hingga saat ini papa mengerti betul akan hukum-hukum di Indonesia.

Beberapa kali usaha papa dan urusan-urusan lainnya di keluarga coba dijatuhkan orang melalui jalur hukum dapat diselesaikan sendiri dengan jalan yang benar. Papa juga dengan senang hati membantu orang-orang yang berkonsultasi mengenai hukum kepada orang-orang yang buta hukum.

Papa tetap menjadi panutanku, karena dia selalu meberi nasihat untuk jujurlah dalam bekerja.

I love you, Papa.

Teman Vs Pacar

...adalah dua hal yang tidak bisa disatukan, salah satunya mesti terabaikan atau malah terjadi permusuhan di antara keduanya. Hari ini adalah saat di mana aku lepas kendali dan tidak tau harus berbuat apa selain menuliskannya di sini.

Keduanya adalah bagian yang penting dari hidupku, mengisi warna-warna di hidupku. Awalnya aku pikir aku merasa beruntung bisa memiliki keduanya, pacar dan sahabat (bahkan keluarga) di saat yang bersamaan tetapi semua hanya sementara, saat semuanya semakin indah maka semakin banyak yang tak suka.

Jadi begini, aku dimusuhi oleh teman-temanku karena aku terlalu dekat dengan pacarku, sedangkan pacarku memusuhi teman-temanku karena menurutnya mereka sudah berlaku tidak adil padaku.

Semuanya baik-baik saja di awal, pacar dan teman-temanku dapat saling berdampingan, sampai akhirnya pacarku mulai mengerti bahwa aku sering dibohongi oleh teman-temanku yang memainkan drama untuk menutupi kebohongan-kebohongan mereka. Posisinya selalu aku yang dirugikan.

Permasalahan dimula karena enggan bersamaku dan Keda ke Sabang karena kami tidak "sejenis".  Padahal aku tidak pernah mempermasalahkan mereka seperti apa, eh malah kenapa menyisihkan yang normal.

Aku merasa wajar jika saat ini aku jauh lebih dekat dengan pacarku karena aku tak lagi nyaman berteman dengan mereka. Aku lebih banyak bercerita dan menghabiskan waktu dengan pacarku. Mungkin teman-temanku semakin cemburu melihat tingkah kami.

Hingga pada akhirnya keadaan semakin memuncak ketika temanku memintaku untuk ikut campur dengan masalah yang berkaitan dengan uang pinjaman yang dipinjam oleh temannya Keda. Aku dianggap tidak setia kawan, hanya karena tidak mau melabrak, aku dianggap teman yang cuma tau senangnya saja, namun bahkan ketika aku susah pun, mereka entah di mana dan aku juga tidak pernah berharap.

Percuma, mereka akan sulit mebantu, toh selama ini aku susah dan senang, aku tanggung sendiri, kenapa baru sekarang membawa-bawa alasan atas nama pertemanan?

Aku dijauhi sejak mulai saat itu, lain lagi cerita salah satu temanku yang mencoba melaga aku dengan pacarku dengan kabar yang tidak baik tapi bohong. Aku semakin tidak nyaman berteman dengan mereka dan berniat untuk menjauhkan diri.

Dan ternyata untuk membalas sikapku mereka berteman dengan mantan pacar dari pacarku. Aku dianggap musuh dan dikatakan sombong. Aku bosan dan tidak peduli lagi.

Saat ini, aku hanya bersyukur. Setiap kali teman-temanku berteman dengan orang yang lebih buruk (memberikan dampak buruk), Tuhan selalu punya cara untuk menjauhkan aku dari lingkaran yang tidak sehat seperti itu.

Hal yang serupa juga terjadi pada Keda, semenjak kami berpacaran. Dia juga semakin jauh dengan temannya hanya karena hidup kami yang lebih baik tidak lagi mengikuti gaya gaya hidup anak muda zaman sekarang.

lagipula, ini sudah saatnya kami sudah untuk berubah, untuk menjadi yang lebih baik untuk masa depan yang baik. Jadi, jika harus memilih, tiada sesal di hatiku sama sekali atas keputusan meninggalkan dunia yang merugikan diri sendiri itu, karena untuk segala harapan dan cita-cita kami bersama di hari yang akan datang, Keda pantas untuk dipilih dan dipertahankan.

Sabtu, 04 Oktober 2014

An Extraordinary Journey to SABANG!!!

Meski tidak seberapa jauh dari Sumatera, khususnya Medan. Usahaku mencapai Sabang tak semulus berpergian ke daerah manapun, sebelumnya aku sudah dua kali mengajak teman-temanku ke Sabang, namun harus berhenti sebatas wacana. Sampai aku bertemu Keda, lelaki sepamahaman ini awalnya bercerita tentang keinginan terpendamnya ingin ke Sabang, begitu pun aku, seperti menemukan teman seperjalanan dan sepemikiran yang bernasib sama, kurang dari dua minggu kami merencanakan kepergian kami ke Sabang.

Akhirnya kami menentukan hari berangkat yang sudah tidak begitu repot bagi kami berdua dan tak sengaja hari yang disepakati adalah hari tepat sebulan kami berpacaran. Kami memutuskan pergi berdua setelah melewati sekian banyak drama dari teman-temanku yang juga ingin ke Sabang diam-diam tanpa sepengetahuan kami.

Awalnya aku sedikit kecewa dengan teman-temanku yang dari awal sudah kuajak lebih dahulu namun malah memilih pergi dengan teman-temanya yang lain, kecurigaanku mengendus gelagat mereka yang memainkan skenario untuk menutupi keberangkatan mereka dengan teman-temannya dari Medan tanpa aku padahal hari keberangkatan kami sama. Beruntung saat ini aku punya Keda yang juga berantusias ke Sabang, drama-drama temanku tak begitu berarti buatku... toh kami masih bisa bersenang-senang berdua.

Walaupun itu artinya perjalanan kami semakin menantang, Aceh yang terkenal sebagai kota syariah tentu tidak membolehkan pasangan non muhrim tidur sekamar dan biaya perjalanan sudah pasti mebengkak. Berhubung kami ke sana niatnya memang untuk liburan, segala cara pun kami tempuh.

Hari keberangkatan tiba. Dari Kisaran kami berangkat dini hari menumpang travel ke Medan milik temannya Keda. Setibanya pukul 5 di Medan kami berkeliling mencari bus perjalanan Medan - Aceh yang buka, berhubung masih awam, kami asal memilih bus yang sudah buka saja. Pilihan jatuh kepada Bus Pelangi dengan tiket seharga 160.000/orang, setelah mengobrol-obrol dengan bapak koordinator tiket bus tersebut, meski loket belum dibuka di terminal, tiket kami sudah ditangan karena dibantu oleh bapak tersebut.

Perjalanan memakan waktu hampir seharian, padahal aslinya Medan - Aceh hanya menghabiskan waktu 8-10 jam, bus yang kami tumpangi sedikit nakal, sepanjang perjalanan jalannya berlambat-lambat dan tetap mengangkut penumpang yang menyetop seperti angkot meski busnya sudah penuh dan berdesakan. Kami yang berangkat pukul 8 pagi tiba di Banda Aceh pukul 11 malam. Melelahkan.

Setibanya di Aceh tentu kami harus menginap di hotel karena sudah tentu tidak ada kapal penyebrangan ke Sabang pada waktu tersebut, tak ingin mendapat masalah kami memesan kamar hotel secara terpisah karena tidak akan mungkin menemukan hotel yang memungkinkan penginap non muhrim sekamar di Aceh. Padahal kamar yang kami inapi masing-masing berisi 3-4 tempat tidur, pemborosan sih tapi mau bagaimana lagi, hotel tersebut yang paling dekat dengan pelabuhan.

Paginya setelah segar kami segera berangkat ke pelabuhan Ulee-Lheue untuk menyebrang ke Sabang. Kami belum melakukan reservasi apapun di hotel manapun. Rencana awal ingin menginap di kawasan Iboih, kami menyewa mobil dan berkenalan dengan bapak supir yang nantinya banyak membantu kami dalam mencari penginapan.

Seperti yang sudah aku duga, usaha untuk mencari penginapan yang membolehkan kami sekamar tidak akan mudah. Di Iboih, ada yang menolak kami secara halus, ada yang harganya kemahalan dan ada juga yang marah-marah karena kami bertanya kamar kosong dan menjawab jujur bahwa kami belum menikah. Si ibu bilang begini

Tidak, walaupun ambil dua kamar pun tidak boleh. Saya mungkin tidak tahu apa yang kalian lakukan malam-malam, mungkin saja kalian menyelinap tapi itu urusan kalian dengan yang di Atas. Saya tidak mau terkena azab-Nya 

Keda sih langsung badmood waktu diceramahin begitu, kalo aku sih nyantai aja, sudah mempersiapkan diri bahkan ngerasa ini lucu banget, karena ini bagian dari petualangan yang tentunya gak mungkin mulus-mulus aja. Aku ketawa cekikikan di mobil dan meninggalkan Keda yang kena ceramah.

Batal di Iboih, kami mendatangi tempat yang lebih populer lagi, Sumur Tiga. Awalnya tempat ini tak menjadi dalam daftarku selain tempatnya yang mahal per malam, penginapan di daerah sini jarang yang kosong dan biasanya sudah full booking semua. Namun karena kami harus mencari tempat menginap maka aku pikir tidak ada salahnya mencoba. Kami mendatangi Freddy's dan Santai Sumur Tiga, keduanya sudah penuh.

Sejujurnya kami sudah putus asa tapi berkat bantuan kenalan abang supir mobil yang mengantarkan kami berkeliling Sabang hari itu, kami mendapat penginapan tepat di kota Sabang. Meski, tidak di pinggir pantai kami sudah harus bersyukur masih ada yang mau menerima gembel seperti kami ini. Dengan tarif 200.000/malam, aku berhasil menawar menjadi 500.000 untuk 3 malam. Hotelnya kecil tapi apik, hanya untuk tempat menginap saja, fasilitasnya standarlah AC, TV, air panas dan dispenser (lumayan menghemat beli minum).

Kalau kami bersikeras menginap di pinggir pantai sudah tentu tidak bisa dapat harga segitu. Untuk ongkos sewa mobil dan supirnya awalnya si abang yang mematok harga 100.000 untuk 2 orang dari pelabuhan ke Iboih (memakan waktu sekitar 1 jam), namun karena si abang yang sudah begitu baik membantu kami menego, mencarikan bahkan menempatkan kami di hotel yang 'yah begitulah', perjalanan pelabuhan-iboih-kota-sumur tiga dan kembali ke kota lagi, kami menyalamkannya 200.000 untuk setengah hari penuh petualangan itu.

Karena jauh dari mana-mana, kami memutuskan untuk menyewa motor untuk berkeliling Sabang. Tarif normal untuk penyewaan motor di Sabang adalah 100.000/ setengah hari atau 12 jam tapi lagi-lagi Tuhan mempertemukan kami dengan orang baik, kami menyewa motor 200.000 untuk 3 hari  non stop. Motornya sih kurang memadai, aku yang tadinya mau naik motor matic saja tapi karena abang penyewa adalah orang sekampung, ya dipaksa sajalah naik motor bebek biasa yang kalau jalanan menanjak, motornya jerit-jerit. hahahaha

Hari pertama setelah mendapat hotel, aku mengatur ulang jadwal perjalanan kami karena waktu sudah hampir senja, aku dan berkeliling di daerah kota saja. Jangan takut, di daerah kota kami masih bisa melihat pantai, karena sudah pasti Pulau Weh dikelilingi oleh pantai-pantai biru nan memanjakan mata.

Pantai Kasih adalah tujuan utama kami. Pantai Kasih sebenarnya biasa saja dan bisa dilihat di sepanjang pesisir kota Sabang, tidak ada pasir putih tempat orang-orang bisa bersantai atau berjemur seperti pantai-pantai lainnya. Pantai Kasih lebih ke wisata perkotaan, di pinggirnya ada Taman Wisata Kuliner yang bisa dijadikan tempat mencoba makanan-makanan Aceh sambil menikmati deru ombak pantai.

Ternyata kami salah, kami menelusuri perkotaan dan sepanjang Pantai Kasih, sampai kami menemukan ujung dari Pantai Kasih yang tidak dikunjungi oleh wisatawan manapun. Pantainya mudah diakses dan dekat dengan rumah warga, kami menghabiskan waktu sepanjang sore hari itu di Pantai Kasih, berdua saja. Ahey :D

Pantai Kasih


Malamnya kami bersantai di Taman Wisata Kuliner, tempat yang minim cahaya namun menambah romantisme pantai yang terang karena cahaya bulan yang benderang selama kami di Sabang, beruntung hari-hari di sana sedang dan selalu cerah. Kami mencoba sate gurita yang enak banget rasanya (pilih yang kuah kacang) dan kentang goreng sebesar jempol-jempolnya Keda.

Perjalanan ke Sabang ini merupakan hadiah bulan pertama setelah kami berpacaran, sebenarnya tidak disengaja perjalanan kami sudah sama-sama lega di tanggal lima, tapi aku benar-benar serasa sedang berbulan madu dengan sahabat terbaikku, Keda.

Esokknya kami menjelajah di kawasan Iboih. Sekitar pukul 10 pagi kami berangkat dari Kota menuju Titik Nol, perjalanannya sungguh luar biasa indah dan melelahkan. Kawasannya masih konservatif bahkan katanya kalau sedang beruntung di Titik Nol kita bisa melihat si Bro, babi hutan yang tidak lagi liar. Cerita sedih saat aku sedang berada di Titik Nol sesaat sedang menikmati Kelapa Muda, tiba-tiba perutku serasa melilit tidak karuan, aku muntah dan sembelit dua kali ke WC Umum, lemas parah tapi untung saja si ibu pemilik warung memberiku pertolongan pertama berupa Oralit yang lumayan membantu.

KM 0


Keda seketika panik, hahahaha, anak ini memang agak sulit mengurus orang sakit (karena akan selalu bingung). Aku sakit perut mungkin karena makanan nasi ala warteg yang padahal rasanya paling enak yang pernah kami datangi selagi di Sabang. Rasanya pas, pedasnya sesuai selera berbeda dengan nasi-nasi yang dijual di restoran nasi padang yang rasanya tidak terlalu berkesan, warung nasi rumahan ini enak banget, letaknya di perjalanan menuju ke Sumur Tiga.

Tak ingin berlama-lama menahan rasa sakit, Keda langsung mengajakku pulang dari Titik Nol dan kami melanjutkan perjalanan ke Iboih. Sesampainya di sana rasa sakit perutku seketika menghilang, kami akan Snorkeling di Pulau Rubiah dan ini adalah pengalaman menyelam pertamaku.

Setelah sesaat mengobrol-obrol dengan bapak penyewa alat Snorkeling, aku lagi-lagi mendapat potongan diskon untuk kami berdua biasanya sewa alat dan pelampung seharga 40.000/orang, aku mendapat harga 35.000 per orang padahal kami hanya berdua saja. Sesaat aku ingin bertepuk tangan untuk ilmu negosiasiku. hahahaha

Sebenernya kunci dari perjalanan ini (dan Indonesia) adalah beramah tamah dan sering mengobrol dengan warga sekitar, niscaya segala kemudahan akan terbentang luas begitu saja. Beruntung kami berdua adalah orang yang mudah berbaur, meski kami harus berbohong tentang status, kami mengatakan bahwa kami sudah menikah untuk menghindari pertanyaan dan anggapan sinis dari warga Aceh yang syariah ini.

Untuk sewa kapal boat, sudah tidak dapat ditawar lagi karena sudah menjadi ketentuan dan peraturan retribusi untuk perjalanan ke Rubiah, antar dan jemput (bonus berkeliling) dikenakan tarif 150.000 (padahal isi kapal cuma kami berdua). Karena budget terbatas kami tidak sanggup untuk berfoto underwater hahahaha (sebenarnya muka Keda udah pengen banget tapi dipelototin oleh Ibu Negara pengatur keuangan)

Pulau Rubiah


Di Pulau Rubiah, isinya kebanyakan orang Medan bahkan aku juga bertemu dengan teman-temanku yang berangkat ke Sabang dengan komunitas ehem uhuknya itu, aku sih biasa aja karena kita sama-sama senang kok menjalani liburan dengan cara kita masing-masing. Sesaat kami hendak pulang, sekumpulan ibu-ibu berbicara padaku

Wah ini istrimu ya, Dek? Cantik ya... Tinggal di Mana? Mirip ya sama keponakan Ibu. 
Sudah berapa bulan? Hati-hati ya dijaga kandungannya jangan terlalu lasak

Aku terheran-heran hanya membalas dengan senyuman karena tak mengerti, sudah pasti ini ulah Keda karena aku melihat dia tertawa cekikikan dari kejauhan. Ternyata sebelumnya dia sudah mengobrol dengan ibu-ibu ini dan mengatakan aku sedang hamil muda!!!%&??

Sepulangnya terjadi sedikit tragedi dari motor tua kami, bannya bocor. hahahaha. Agak sedikit kesal karena bannya bocor waktu maghrib setibanya di kota, sedangkan semua toko dan usaha apapun di Sabang tutup waktu maghrib dan buka lagi setelah maghrib usai. Setelah bertanya sana-sini akhirnya kami menemukan tukang tambal ban yang akan buka setelah maghrib.

Keda mengobrol dengan bapak tambal ban dan lagi-lagi mengatakan aku istrinya, tak berapa lama seorang ibu keluar dengan air sirup dan kue-kue sisa lebaran miliknya. Sungguh luar biasa ramah-tamah orang Sabang. Bahkan tak berapa lama, Keda sempat disinggahi oleh Walikota Sabang yang sedang berkeliling dan sempat bersalaman dengan beliau dan menanyakan kondisi kami saat itu. Aku sungguh terharu.

Hari ketiga kami habiskan dengan menjelajah ke Anoi Hitam di siang hari  dan Sumur Tiga di malam hari, sengaja kami menanti momen dinner di Freddy's meski berujung juga pada Pantai kasih juga malam itu agar tidak terlalu malam pulangnya.

Keesokan harinya, Hari Keempat kami bergegas pulang dan menyebrang lagi ke Aceh. Di perjalanan pulang di dalam kapal lagi-lagi Keda bercerita dengan ibu di sebelahnya bahwa kami sudah 4 tahun menikah dan sedang berbulan madu menanti momongan. Anak ini memang ada-ada saja, sebisa mungkin aku saat itu menahan cekikikan agar tidak terlihat mengarang cerita.

Tetapi lelaki ini memang luar biasa manisnya, I couldn't resist him. I love him deeply.
Thanks for this lovely journey that I would never ever forget until I die.


Pantai Sumur Tiga

You're the only one.

Jumat, 11 Juli 2014

Liburan Terbaik di Danau Toba

Perjalanan kali ini tidak direncanakan seperti liburan yang sebelum-sebelumnya. Meski ini adalah kali kedua dalam tahun ini untuk berlibur sehari secara tiba-tiba (yang pertama, ke Medan) tapi inilah liburan yang terbaik di sepanjang hidupku.

Setelah makan malam, Aku dan Keda pulang ke rumah. Teman-temanku, Ivo dan Putri yang mengendus gelagat kencan pertama kami juga tidak mau kalah ingin merayakannya dan berinisiatif untuk mengajak pergi ke Prapat. Berhubung sedang bahagia, aku setuju saja.

Jadilah kami pergi ke Prapat malam itu juga sekitar pukul 2 dini hari dan tiba di Prapat sekitar pukul 4 lebih lalu singgah di rumah makan  untuk sahur meski pada akhirnya tidak ada satu pun yang dari kami yang puasa. Perjalanan nekat ini beranggotakan Aku, Keda, Putri, Ivo dan Opung. 

Matahari mulai terbit, kami pergi ke hotel Bahari untuk bertemu Danau Toba. Tentunya kami tidak menginap, kami hanya menumpang duduk di  dekat pantai perairan dari Danau Toba sambil menikmati matahari yang mulai menunjukkan sinarnya di ufuk timur.




Karena belum ada istirahat dan tidur, kami yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda mengantuk tidak mau menyerah begitu saja untuk perjalanan hari ini. Keda membawa kami ke suatu tempat dekat Rumah Pengasingan Bung Karno di Prapat.

Rumah Pengasingan Bung Karno

Pemandangan di sana sangat indah dan sejuk, kawasannya begitu adem karena terlindungi oleh pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Lalu kami menuruni anak tangga untuk mencapai perairan. Opung yang penasaran dengan Danau Toba memesan speed boat untuk melihat Batu Gantung.

Ada kejadian lucu saat kami hendak menaiki boat, saat menuju ke kapal tiba2 anjing liar dari belakang mengejar kami untungnya kami tidak lari, Aku Keda dan Putri yang jadi bulan-bulanan si anjing. Kami semuanya takut pada anjing jadi terjadilah drama tangis takut dan menggeletar saat anjing mendekat. Untungnya anjing-anjing tersebut segera diusir oleh warga sekitar.

Batu Gantung
Batu Gantung adalah Cerita Rakyat dari Pulau Samosir mengenai seorang Putri yang melompat dari tebing bebatuan tepi Danau Toba dikarenakan dipaksa kawin dengan Paribannya (sepupu). Tidak semua pengunjung bisa melihat rupa jelas bentuk batu ini, setelah bercakap-cakap dengan pengemudi Speed Boat sekaligus Tour Guide kami, tidak hanya sang putri saja yang melompat tapi anjingnya juga ikut melompat dan ikut menjadi batu di samping sang putri (yang katanya terlihat mahkotanya).

Tempat tersebut sangat sakral, tentu harus berhati-hati untuk berbicara dan bertingkah. Kedalaman air danau toba mencapai 400 meter di sekitar Batu Gantung. Setelah puas, kami kembali lagi ke tempat awal. Tour singkat ini memakan waktu 15-20 menit dengan harga 200-300rb per kapal.



Waktu masih menunjukkan pukul 8, tapi kami sudah tidak tahu mau kemana lagi setelah ini. Maklum orang Sumatera selalu berlibur ke Danau Toba setiap ada kesempatan jadi kebanyakan Prapat yang kecil itu sudah bosan untuk dijelajahi. Terjadi sedikit dilema juga saat Keda mengusulkan untuk menyebrang ke Tuk-Tuk untuk bersantai, tapi mengingat waktu yang sangat mepet karena sore hari aku dan Ivo harus pulang, kami mengurungkan niat.

Kami memutuskan untuk makan , bagi yang muslim dan meragukan kehalalan makanan di Prapat, boleh mencoba Rumah Makan Pak Pos di samping Kantor Pos. Halal dan enak! :)

Perjalanan kami selanjutnya adalah ke Kebun Binatang Siantar milik Rahmat Syah (bapaknya Raline Syah) kebun binatang ini baik terawat dan harga masuknya per orang adalah Rp. 15.000, rute kami ke kebun binatang ini atas permintaan Opung yang senang dengan alam dan binatang, juga Ivo yang ingin ketemu Singa. Kami bersantai sejenak di sana dan meluruskan kaki hingga pukul 1 siang.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke PAS Siantar (Pemandian Air Sejuk Siantar) agar bisa bersandar di bawah pohon beralaskan tikar sambil memakan ikan bakar ditemani oleh bunyi gemericik air dari sumber mata air. Hanya aku dan Keda saja yang mandi, meski aku tahu dia sebenarnya sudah gak kuat lagi buat mandi karena ngantuk tapi demi menemankan aku yang 'gak bisa lihat air' selalu ingin berenang dia rela mengorbankan waktu bersantainya.

Tidak ada yang membawa baju, untung saja di sana ada toko yang menjual pakaian-pakaian sekadarnya untuk mandi menyebur di mata air. Secara impulsif, Keda langsung membeli celana dan berniat membelikan untukku juga namun batal karena aku menolak untuk dibayarkan hal-hal yang bersifat pribadi.

Puas bermain dan berendam air, kami pun pulang dengan keadaan tepar seada-adanya. Kisaran menanti, kami tiba pukul 5 tapi aku tak bisa langsung tidur karena harus membantu di Resto terlebih dahulu. Aku baru tidur pukul 8 malam dan tak sadarkan diri hingga esok harinya.

Meski capek, tetap saja ini adalah perjalanan yang terbaik.

Senin, 07 Juli 2014

Selamat Melenium.

Masa kecil itu absurd.

Di saat itu kita pasti ngerasa sesuatu yang kita lakukan pasti udah keren banget. Eh, giliran udah gede (dan melupakannya), pas mengingat-ingat lagi masa itu rasanya bikin nangis jungkir balik karena menertawakan keanehan diri sendiri. Hahahaha, aduh mau nyeritainnya aja nulisnya udah sambil ketawa-ketawa.

Jadi ceritanya begini, karena sekeluarga nocturnal dan hidup di malam hari. Sekitar jam 1 malam aku membongkar kotak-kotak di gudang lalu mama dan adik-adikku menyusul. Salah satu kotaknya adalah isi dari lemari si mama. 

Pas lagi bongkar-bongkar, mama nemuin kartu ucapan "Selamat Hari Ibu" dari adek-adekku, Ican dan Fatur. Kartunya dari kertas yang ada bingkai dari ms. word kemudian diprint sukse bikin aku ketawa-ketawa heboh di rumah.



Awalnya juga tersentuh tapi setelah membaca isi kartu ucapan punya Ican, aku mati-mati menertawakan puisi yang ditulisnya... dan saat itu mikir "wahahahahaha kok begini amat ya punya adek."


Mama juga ikut-ikut tertawa seadanya dan berkomentar
"Tunggu sampe kau tengok punya kau sendiri hahahaha"
Sebenernya udah deg-degan, gak punya clue sama sekali pernah nulis apa buat mama. Sampai akhirnya, entah-apa-ini sampai di tanganku:


Apalagi waktu tau kalo di belakang ucapan selamat melenium itu ada cerita Sangkuriang-nya seketika aku merasa miris dengan masa kecilku.


Sekarang aku mengerti setelah aku dewasa, mengapa aku aneh begini, ya dari masa kecilnya aja udah keliatan absurd ya, gak jelas hidupnya.


Selasa, 01 Juli 2014

Dewa Siwa, Dewi Sati & Dewi Parwati



Om Swatiastu.

Belakangan ini saya sedang tergila-gila dengan serial asal India berjudul asli Devon Ke Dev... Mahadev (Lord of the Lords... Mahadev). Di Indonesia sendiri sinetron ini berjudul Mahadewa tayang di ANTV setiap Senin-Sabtu.

Bagi saya. serial ini bermakna luar biasa dan memberikan berbagai pelajaran penting dalam hidup. Meski tidak mengikuti mulai dari episode pertamanya, sejak mengenal serial ini, saya langsung tertarik. Serial yang menceritakan tentang mythology Hindu dari India  yang berkisah mengenai para dewa khususnya Dewa Siwa (Shiva).

Awalnya saya setia menanti setiap kelanjutan per episode-nya di tv, tapi lama-lama rasa ingin tahu saya kepada Mahadewa semakin mendalam hingga membawa saya ke penelusuran lebih lanjut di dunia maya. Ternyata, sinetron ini sudah mulai tayang di tahun 2011 dan masih berlangsung hingga sekarang. Saat ini episodenya sudah mencapai 700 episode versi LifeOk (27/06/2014)

Demam Mahadewa saya terbawa ke semua orang yang ada di rumah. Meski serial ini sirat akan ajaran agama Hindu tapi beruntung keluarga saya (yang menganut agama islam) bisa menerima dengan pikiran terbuka dan menghargai ajaran lain sebagai sesama umat beragama. Dari dulu saya memang mengagumi ajaran Agama Hindu. Dari yan terlihat, agama ini banyak mengajarkan kedamaian, ketenangan dan pribadi yang santun.

Saat ini saya sudah menyelesaikan setengah perjalanan dari serial ini. Di awal cerita lebih berkisah tentang perjuangan percintaan untuk bersatunya Dewa Siwa dengan Adhi Sakti (yaitu Dewi Sati kemudian bereinkarnasi menjadi Dewi Parwati). Sakti yang dimaksud adalah setengah bagian dari Dewa yang berperan untuk membantu mengemban tugas.

Serial ini juga menceritakan tentang peran Trimurti; Brahma (Dewa Pencipta), Wisnu (Dewa Pemelihara) dan Siwa (Dewa Pelebur) dalam menjaga keseimbangan dunia. Dewa Siwa dianggap mempunyai peran lebih tinggi dan ditakuti di antara Trimurti ini. Dewa yang sangat pemaaf ini mampu menghancurkan dunia sesuai kehendaknya dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda di dalam dirinya. Jadi wajar, jika Dewa Siwa memiliki banyak nama dan panggilan di daerah tertentu.

Siwa juga terkenal sebagai master of yogi dan mengajarkan peleburan dosa melalui meditasi dan reinkarnasi. Dalam segi penampilan, Siwalah yang paling sederhana dan tinggal di dalam hutan, sedangkan Brahma yang tinggal di atas awan dan Wisnu tinggal di perairan berpakaian lebih layak. Siwa tidak memiliki aturan khusus dalam hidup selain kembali ke alam, dan dua Dewa lainnya jelas memiliki aturan-aturan penting yang menjadi pedoman manusia hingga saat ini.

Dalam Hindu, secara keseluruhan tunduk kepada Trimurti yang menngacu kepada Brahman (Tuhan) mereka, tidak ada yang tidak layak untuk tidak disembah. Ketiga Dewa memiliki posisi yang sama sebagai penyelaras dunia. Meski demikian Siwa adalah penguasa tiga waktu, masa lalu, masa kini dan masa depan. 

Cerita dimulai saat Siwa menolak untuk bersatu dengan Adhi Saktinya di mula pembentukan zaman oleh Brahma. Dewa Siwa memilih sendiri dan tenggelam dalam damainya meditasi untuk mengurus kepentingan umat manusia. Karena penolakan tersebut, Adhi Sakti dari Dewa Siwa kemudian memilih berbentuk sebagai manusia yang dikenal sebagai Sati.

Sati adalah anak dari Prajapati Daksa yang merupakan anak dari Dewa Brahma sendiri. Pertemuan yang tidak siap dan cinta yang belum layak dari Sati menimbulkan banyak masalah untuk bersatu. Termasuk penolakan dari ayah ati, Prajapati Daksa yang sejak awal sudah membenci Siwa dan tidak menganggap Siwa sebagai dewa dan malah menanggap Siwa sebagai gelandangan.

Berbagai konflik dan peperangan terjadi akibat permusuhan dari Prajapati Daksa dan Siwa terutama setelah Sati yang mengetahui bahwa dirinya adalah Sakti dari Siwa. Sati yang belum layak dan bersikeras dengan egonya ingin segera menikah dan memiliki Dewa Siwa.

Mouni Roy as Devi Sati

Pernikahan terjadi secara terpaksa. Ayah Sati yang masih ingin Sati menikah dengan orang lain akhirnya membuat syembara karena sebelumnya tak ada satupun yang hendak dan berani melamar Sati sebab kabar Sati adalah Sakti dari Siwa telah tersebar luas. Sati menikah dengan Siwa sebagai pemenang syembara dan ayahnya tetap tidak menganggap pernikahan tersebut hingga Dewa Brahma dan Dewa Wisnu datang untuk murka kepadanya.

Sati yang belum layak dan masih mementingkan hal-hal duniawi menjadi hambatan untuk rumah tangga mereka. Setelah beberapa waktu tinggal di Kailash, Sati yang diajarkan untuk bermeditasi dan mencapai Adhi Saktinya malah memikirkan tentang ritual api terakhir ayahnya namun hanya dirinya dan Siwa tidak diundang.

Merasa tak memerlukan undangan untuk mengunjungi rumah orang tuanya, Sati bersikeras untuk menghadiri acara tersebut dan mengajak Siwa ke sana. Dewa Siwa menolak untuk datang karena mereka satu-satunya yang tidak diundang. Sati menginginkan akhir dari permusuhan ini, hingga dia ingin meluruskan dan memohon kepada ayahnya nanti untuk mengundang Siwa.

Dewi Sati berangkat dengan Nandi (kerbau kendaraan Dewa Siwa), sesampainya di sana meski sudah ditolak untuk masuk ke dalam, Sati tetap masuk berkat belas kasihan penjaga pintu. Hari itu adalah akhir dari permusuhan anatara ayahnya dan Siwa.

Siwa mengetahui bahwa hari itu adalah bencana bagi semua umat. Karena tidak diundang dan terlanjur berjanji pada Sati untuk datang setelah sesuatu terjadi padanya, Siwa tak kuasa untuk mencegah hal itu terjadi. Di puncak perseteruan Sati dengan ayahnya, Sati mengorbankan dengan membakar diri di api ritual karena tidak tahan atas hinaan yang ditanggung oleh suaminya.

Sebelum membakar diri, Sati mengutuk siapapun yang hadir di acara ritual ayahnya menanggung dosa yang amat besar kepada Dewa Siwa termasuk Dewa Brahma dan Adhi Saktinya (Dewi Sarasati) juga Dewa Wisnu dan Adhi Saktinya Dewi Laksmi.

Dewa Siwa sangat murka atas meninggalnya Dewi Sati. Bumi tengah porak poranda dan Mahishasura (setan) yang dari awal ingin membunuh Sati bersuka cita. (Karena terlibat perjanjian dengan Dewa Siwa bahwa yang hanya dapat membunuhnya adalah anak dari Dewa Siwa). Ayah Sati, Prajapati Daksa dipenggal kepalanya di depan api ritual oleh Rudra (bentuk lain dari Dewa Siwa).

Dewa-Dewi lainnya merasa bersalah dan mengatur ntuk kelahran kembali dari Adhi Sakti milik Siwa dalam bentuk manusia lagi. Adhi Sakti tersebut dilahirkan sebagai putri dari keluarga Raja Himalaya dengan kondisi yang lebih siap dan layak. Putri tersebut bernama Parwati (Parvati/Uma/Durga).

Sementara itu Siwa berlarut dalam kesedihan di bentuk manusia dan mengembara keliling dunia.

Setelah terlahir ke dunia, seluruh dewa dan brahmana (sebagai penebus rasa bersalah) membantu kesiapan dan kelayakan Parwati untuk mengahadap dan mendampingi Dewa Siwa. Kelebihan Parwati sedari kecil adalah dapat melindungi dirinya sendiri.

Semuanya bejalan dengan lebih lancar jika dibandingan dengan kisah Dewa Siwa dan Dewi Sati. Parwati yang merupakan reinkarnasi dari Dewi Sati sudah mengetahui dirinya adalah istri dari Dewa Siwa sejak dia masih kecil.Dewi Sati dan Dewi Parwati adalah sama, hanya kesiapan dan kesabaran saja yang menjadi keunggulan Dewi Parwati, cinta dari bentuk Adhi Sakti ini hanya untuk Dewa Siwa saja.

Dewi Parwati menyiapkan dirinya bahkan menempuh peleburan dosa untuk menjadi layak bagi Dewa Siwa. Dengan menjalankan berbagai macam proses, pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua mereka juga dirayakan oleh semua umat Hindu sebaga hari yang berbahagia, Hari Maha Shivaratri.

Kelanjutan cerita ini menceritakan tentang anak-anak dari Dewa Siwa dan Dewi Parwati, salah satunya yaitu Ganesha yang saat ini menjadi Dewa yang paling banyak disembah di muka bumi karena simbolnya yang mencerminkan pengetahuan dan pelindung sastra. 

Untuk kisah lengkap dan selanjutnya tentang Dewa Siwa dan Dewa Parwati serial ini bisa di tonton langsung di websitenya atau saluran resmi milik LifeOk di Youtube. Selain itu, ada juga serial yang menceritakan tentang Ganesha di masa kecilnya, berjudul Katha Mahadev Putra Bal Ganesh Ki. 

Sonarika Bhadoria as Parvati



Nb: Tulisan ini dibuat semata hanya berdasar kepada ilmu pengetahuan saja, tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun. Jika tercantum ketidak-akuratan cerita, saya meminta maaf secara tulus.

Selasa, 24 Juni 2014

Anaknya Untungan


Kalau kata temenku, aku anaknya untungan...

Begitulah kira-kira, meski gak sering-sering banget tapi terkadang aku bisa menang kuis, memprediksi kemenangan, ditawarin tiket gratis, dibayarin makan, ada aja rezekinya, Alhamdulillah... bahkan terkadang bisa dapet hadiah tiba-tiba.

Percaya atau tidak, dalam beberapa hal aku juga selalu mendapatkan urutan pertama/kedua atau urutan terakhir ketika mencabut nomor atau kepentingan lainnya. Tidak pernah di tengah-tengah.
Masih bersyukur walaupun gak semuanya yang aku inginkan bisa didapatkan dengan mudah. Makanya aku paling males bersaing dalam hal apapun itu, contohnya;

1. Aku gak pernah ikut SNMPTN waktu tamat SMA kemaren.
2. Aku gak pernah ikut tes kerja dengan peminat ribuan orang, alhamdulillah ada aja yang nawarin.
3. Kalau pacarku selingkuh yang kulakukan cuma bisa pasrah. Hahaha.

Jadi sebenarnya bukan karena takut kalah (salah satu faktornya juga sih) tapi masalah melihat kesempatan menang itu berapa persen atau kalahnya berapa persen. Yang paling aku hindari adalah rasa kecewa, kalau ternyata usaha maksimal berbuah kecewa ya buat apa?

Karena dulu pernah waktu tes masuk UI melalui jalur UMB pertama kalinya dan gagal, aku ikhlas, logika dan hatiku juga legowo, tapi malah badan yang gak terima, di malam yang sama dengan pengumuman itu juga aku sakit panas turun panas turun sampai tes UI yang ke-dua kalinya.

Alhamdulillah masuk dan sakitnya berangsur reda setelah itu.

Masalah cinta ya, hmmm... ya sebenernya bukan gak mau diperjuangkan juga sih tapi terkadang kalo pacar udah punya indikasi selingkuh sana sini mendingan gak usah deh, kita hidup kan mau cari damai bukan mau cari masalah.

Ya kalau selingkuh ya diikhlasin aja, putus baik-baik dan jangan mau balikan lagi. Biarin aja dia hidup bahagia dengan selingkuhannya gitu. Ambil deh ambil... karma does exists.

eh ini cerita jadi merembet kemana-mana hahahaha

Padahal tadinya mau cerita aku dapet paket dari Viva Cosmetic karena mendaftar iseng sebagai exclusive member di websitenya, gak tau bakal dapet paket kayak gini.

Tapi asli seneng banget, sesimple dan sekecil ini aja udah bikin aku bahagia luar biasa. Paket yang berisi masker, milk cleanser, face tonic, hand body, face cleanser, kartu anggota dan memo. Banyak....

Berbeda dari yang sebelumnya saat Ponds juga mengirimkan hanya sample sabun cuci muka ke Kisaran. 
Tapi itu juga udah seneng banget banget karena aku sampai sekarang masih bingung bagaimana mereka menemukan alamatku yang di sini.

Anw, terima kasih buat marketing-marketing luar biasa, you guys did a great job. I'm a very satisfied customer. Makin setia deh aku pake sabun cuci muka dari Ponds dan pembersih wajah dari Viva.

Love.


Nami

Senin, 23 Juni 2014

Pusat Pakaian Bekas: Monza

Menepati janji aku akan membahas tentang Monza yang sebelumnya pernah dibahas pada tulisan sebelum ini yang bercerita tentang pengurusan paspor di Tanjung Balai. Bagaimana aku saat itu dalam keadaan terdesak dan uang pas-pasan harus membeli rok di bawah lutut agar diizinkan masuk ke dalam kantor imigrasi karena tidak mungkin pulang dengan tangan kosong.

Monza adalah barang atau pakaian bekas yang dijual dan dibeli dengan harga yang sangat murah mulai dari 2.000 hingga 200.000 tergantung kualitasnya. Berhubung yang dijual adalah barang impor dari negara-negara Asia lainnya sepert Vietnam, Thailand, Korea atau Jepang tidak jarang kita bisa mendapatkan barang bekas bermerek dengan harga jutaan di toko asalkan kita jeli melihat dan memilihnya.

Barang yang diperjualbelikan berupa segala jenis pakaian untuk semua umur, kain, bantal, selimut, boneka, sprei, sepatu, tas bahkan pakaian dalam. Pasar yang awal mulanya hanya ditemukan di Tanjung Balai saja atau biasa disebut dengan Pasar TPO menjadi tumpuan kemajuan perekonomian masyarakat sekitar yang berjualan pakaian bekas.

Jangan membayangkan TPO sebagai pusat perbelanjaan layaknya Mall, kondisinya sama dengan pasar tradisional, kering kerontang saat panas dan becek saat hujan. Namun, semua usaha akan terbayar jika kamu menemukan barang-barang lucu dengan harga gak wajar (murahnya).

Buat yang senang 'belanja impulsive' dan 'belanja ah nanti suatu saat pasti perlu kok' bakalan khilaf di tempat ini pasar yang semuanya berisi kios-kios berjualan monza. Aku contohnya meski bekali-kali diingatkan papa agar tidak menambah sampah di rumah aku tetap pulang tidak dengan tangan kosong meskipun itu cuma baju sepotong.

Aku pernah membeli baju kaos seharga 10.000 dapat 5 dengan kondisi ya lumayan buat pakai di rumah untuk sekadar santai tapi kaos kualitas premium pada umumnya dibandrol sepotong 10.000-20.000, kemeja 25.000-35.000. Aku juga pernah membeli celana jeans pendek dengan harga 5.000 dan 15.000 dapat 2, kondisinya masih bagus semua tergantung kejelian kita saja dan biasanya celana jika tidak obral bisa mencapai 25.000-50.000 baik panjang atau pendek.

Bagian yang paling seru adalah mengubrak-abrik obralan bersama pemburu-pemburu monza lainnya.

Bisnis monza ini sudah dari dulu melagenda dan dulunya juga pernah terhenti pada tahun 2002 dan mulai muncul lagi di 2012 dan kembali bersinar di 2014. Bahkan saat ini,  tepat di belakang rumahku (di Kisaran) penjual monza-monza sudah mulai menjamur dan ramai setiap hari.

Mungkin beberapa orang ada yang kurang sreg dengan pakaian bekas tapi buat saya tidak masalah toh buat dipakai sehari-hari juga, aku menyiasatinya dengan merendam dengan air panas sebelum dicuci lalu dicuci dengan detergen dan pewangi.

Karena sekarang monza semakin dekat, setiap ada kesempatan aku akan berkeluyuran di belakang rumah memilah-milih, bedanya kualitas di Kisaran jauh lebih bagus dan harganya juga sedikit lebih mahal. Aku bisa mendapat dress yang benar-benar masih bagus dengan 25.000 dan rok yang masih bagus 10.000. Adikku juga pernah membeli jersey asli dengan 15.000 dan baju baseball asli masi bercap belum pernah dipakai dengan 25.000. Gila!

Buat yang masih bingung. Sistemnya begini...

Penjual mendapatkan barang bekas dalam paketan yang dibeli dari pemasok, setiap paket berbungkus plastik goni besar berisikan 100 -300 potong pakaian dengan harga yang bervariasi setiap paketnya mulai dari 1.500.000 - 5.000.000 semakin bagus isinya semakin mahal paket atau biasa disebut dengan BAL.

Baju-baju itu dipilih oleh penjual terutama yang bagus-bagus untuk dijual dengan harga lebih tinggi dan selebihnya dijual dengan cara obral. Kisaran yang semakin ramai dengan penjual monza ternyata memberi dampak pendapatan yang signifikan terhadap penjual baju-baju baru tentang berkurangnya pembeli. 

Tapi, ya mau bagaimana lagi... sebagai pecinta monza aku ingin mereka tetap selalu ada.:D


Tas 20.000 dan sepatu 30.000

Jumat, 13 Juni 2014

I Just Wanna Say Thanks


Sebulan lebih tidak menulis rasanya ada yang hilang, lagi-lagi karena urusan di dunia nyata lebih merepotkan dari biasanya sehingga hati dan pikiran sedang enggan menulis. Selain urusan percintaan yang menjadi bumbu-bumbu hidup tentunya anak-anak muridku di tempat les mengalihkan perhatianku.

Guyonan khas anak-anak, teriakan, tangisan, aduan, kemanjaan dan ketulusan hati  mereka membuat hidupku jauh lebih berwarna. Bahkan beberapa waktu yang lalu, murid-muridku di kelas terendah usia (5-7 tahun) bertanya padaku,

"miss kalau aku naik kelas gurunya tetap miss kan?"

Aku menjawab "tergantung, bisa jadi miss, bisa tidak"

Lalu dia membalas lagi, "wah kalau begitu aku tinggal kelas aja deh miss, biar gurunya miss lagi"

Spontan aku kaget, antara senang dan sedih mendengarnya. Senang karena akhirnya anak-anak ini memiliki rasa keterikatan batin denganku, sedih karena sebenarnya pada saat itu aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan mengajar dan kembali ke Jakarta.

Aku tidak dapat berkata apa-apa selanjutnya. Namun sejak saat itu aku bertekad akan meluangkan waktu untuk tetap mengajar anak-anak nantinya.

Mungkin yang membaca postingan sebelum ini akan bertanya-tanya bagaimana akhirnya aku bisa diizinkan kembali ke Jakarta. Singkat cerita, aku menuruti semua keinginan Ibu untuk tidak berhubungan dengan D lagi dan aku ikhlas. Hehe.

Meski pada saat itu aku belum berpikiran untuk kembali dan lebih memilih menjalankan hidup seperti biasa, membantu orangtua di perusahaan mereka dan mendapat uang tambahan sebagai guru les. Aku rasa saat itu aku sudah cukup.

Tapi seseorang yang tidak terduga hadir dalam hidupku, seseorang dari masa lalu sekitar tiga tahun yang lalu yang tidak mempunyai kesempatan untuk saling mendekat. Dia lelaki yang baik dan lucu, semua orang mengakuinya. Dia terkenal karena beberapa kali mucul di tv.

Mungkin kalian pernah mendengar kutipan "pernahkah kamu bertemu seseorang dan sebentar saja dia telah mengubah duniamu" aku menemukannya pada dia. Entah setan apa rasa ingin kembali ke Jakarta semakin menggebu.

Ajaibnya, setelah beberapa kali membujuk, Ibu pun setuju.

Aku mempersiapkan segalanya dan menyelesaikan semua hal yang harus diselesaikan di sini termasuk masa depan perusahaan Bapak. Aku berencana berangkat sekitar akhir bulan Juni atau awal bulan Juli. Aku mulai sibuk mencari pekerjaan dan tempat tinggal lagi di Jakarta.

Tapi sebelum masa itu datang, hubungan kami memburuk, kami bahkan tidak berbicara satu sama lain atau mungkin bisa disebut saling membenci entah karena pengaruh hubungan jarak jauh dengan komunikasi yang tidak lancar yang sering kali menimbulkan salah paham entah juga karena memang masa kami sudah habis.

Tak satupun di antara kami yang mau mengalah. Masa pendekatan-pengejaran-pelepasan selama tiga tahun harus terkalahkan dengan komitmen yang hanya bertahan satu bulan saja. hahahaha.

Aku bisa saja menganggap bahwa dia mungkin adalah seseorang yang Tuhan kirimkan untuk mengubah hidupku untuk kembali mengejar mimpiku melalui dia.

Namun di satu sisi rasa benci dan permusuhan di antara kami menggangguku, rasanya lebih baik aku tidak mengetahui atau masuk ke kehidupannya sama sekali daripada berakhir seperti ini. Aku terkadang masih diam-diam merindu, mendoakan kesuksesannya meski aku akan terlalu berat menyapa dia nantinya

Tapi... untuk semua yang dia lakukan, untuk kembali menyemangatiku mengejar mimpiku...

Aku berhutang rasa terima kasih yang teramat besar kepadanya.





...meski tidak akan kusampaikan sekarang. :)

Selasa, 22 April 2014

Selamat 23 Tahun, Sabrina

21 April 2014, putri pertama dari Bapak bersuku Jawa dan Ibu bersuku Batak yang membuat aku menjadi anak pejabat. (Peranakan Jawa Batak).

Bertambahnya umur, bertambah juga tuntutan dari orang tuaku. Kejadian yang terjadi beberapa hari sebelum ulang tahunku, saat ibu bertanya berapa usiaku sekarang dan aku menjawab 23 lalu ibu berkata

"hei kau kalo gak bisa nyari jodoh yang betul biar kucarikkan"

Dan di hari ulang tahunku, aku juga menerima kejutan dari teman-temanku di Kisaran. Putri, Ivo, Keke dan Yudis mengatur sandiwara untuk mengagetkan aku di tengah malam di ulang-tahunku. Aku yang sebenarnya mengetahuinya harus berpura-pura untuk tidak tau dengan gerak-gerik mereka yang mencurigakan sepanjang hari.

Dan benar saja, kejutan itu gagal.

Com'on I'm too old to playing that games lah. Aku yang tidak sengaja keluar untuk mengangkat telepon dari teman-temanku yang mengucapkan ulang tahun dari pulau seberang, Jakarta, memergoki mereka yang baru saja turun dari mobil sambil memegang kue dengan lilin yang belum menyala.



Kaget sih enggak, cuma lucu aja, lumayanlah menghibur di hari yang sebenarnya yang paling aku inginkan sebagai hari paling menyendiri sedunia buatku. Dan ulang tahunku malam itu dihabiskan untuk menertawakan kejadian itu dan meminum Soju (hadiah dari Putri dan Keke) beramai-ramai.

Honestly, I'm not so birthday person.

Aku bahkan enggan mengucapkan selamat ulang tahun kepada orang lain jadi rasanya sedikit canggung untuk bermanis-manis membalas ucapan-ucapan basa-basi yang datang ketika aku berulang tahun. Padahal aku juga tidak akan apa-apa jika seseorang atau semua orang lupa dan tidak mengucapkan ucapan selamat kepadaku.

Memang, setidaknya dulu aku amat menyenangi ulang tahun, menanti-nantinya dan menjadikannya alasan pembenaran untuk mendapatkan sesuatu yang sedang aku inginkan saat itu. Perayaan setiap tahunnya hingga aku usia 17 tahun juga selalu heboh meramaikan rumah dengan kado-kado bertebaran yang semakin bertambah tahun semakin berkurang kadonya.

Tapi kini hal tersebut tidak berlaku lagi.

Tidak ada yang spesial selain menjadi lebih tua, tidak ada yang menyenangkan selain menghadapi kenyataan merenungkan nasib, bahwa selama 23 tahun hidup di dunia ini, aku sudah berbuat apa saja kepada diriku untuk menjadi yang lebih baik.

Aku mengalami satu per satu perjalanan hidup, mengambil keputusan dan membuat perubahan. Semuanya tidak mudah. Di dalam ulang tahun aku hanya akan semakin berterima-kasih dan bersyukur bahwa aku dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayangiku.

Selamat ulang tahun untuk, Taurusian lainnya! Horas!

Ps: kado tahun ini adalah soju, baju, tas dan es krim :D
Pps: semua kejutan dan kado mengharapkan balasan, aku harus mentrakir mereka makan dan karaoke. :))

Selasa, 11 Maret 2014

Bikin Paspor Tanpa Calo

Salah satu penyakit sosial kebanyakan orang Indonesia adalah malas. Tapi gak bisa disalahkan juga sih, sistem birokrasi di Indonesia yang sering kali berbelit-belit, merepotkan dan menyita banyak waktu membuat mau tak mau memilih jalan, menggunakan jasa calo.

Buat aku, paling pantang pake calo, selain gak punya duit, aku punya prinsip selagi muda, badan ini masih sanggup untuk bekerja dengan baik, lantas tidak ada salahnya menggunakan waktu pengacara (pengangguran banyak acara) ini untuk menunggu berhari-hari (oke, ini lebay) di imigrasi sampai pasporku selesai. Dan yang paling penting melawan praktek KKN. Hidup bikin paspor tanpa calo. Hidup!

Sebagai contoh, kasus aku untuk membuat paspor sebagai syarat perjalanan ke luar negeri pertama kali pada 27 Januari 2014. Sebelum tanggal tersebut tiba tentunya aku sudah harus 'menjadikan' paspor tersebut atau tidak jadi pergi. Aku mengancam diriku sendiri agar tidak malas.

Tahap I: Pengajuan Berkas dan Pembayaran (3 Januari 2014)

Aku mengajukan permohonan pembuatan paspor pada 3 Januari 2014 di Kantor Imigrasi kelas II Tanjung Balai, Asahan. Sudah pasti sebelum hari H, hidupku dibuat jungkir balik oleh urusan berkas sana-sini yang bikin heboh orang sedunia. Untuk antisipasi, bahkan sebulan sebelumnya aku juga sudah mencari informasi di internet agar lebih memudahkan saat mengurus paspor nantinya tapi ternyata tak satupun informasinya memuaskanku.

Aku juga sudah mencoba mengapply online melalui website resmi imigrasi yang ternayata berbuah nihil, data yang diinput tidak dapat diproses untuk kantor wilayah daerah. Berbeda dengan kantor imigrasi di Jakarta, mengurus paspor jauh lebih mudah karena untuk urusan pengecekan berkas sudah terlewati satu tahap karena dapat dilakukan melalui website, mereka menghemat satu hari.

Selain itu, aku berpura-pura mendatangi calo untuk mencari tahu berkas apa saja yang perlu disiapkan. Hasil rangkuman dari informasi yang kudapat dari sana-sini, mengharuskanku membawa berkas-berkas:
1. KTP; asli
2. KK; asli
3. Akte kelahiran; asli (bisa juga dengan menggunakan ijazah)
4. KTP Ayah/Ibu; asli
5. Buku Nikah Ayah/Ibu, asli dan fotokopi (yang ternyata sama sekali tidak diperlukan)
6. Fotokopi KTP, diperbesar seukuran setengah HVS (saat di fotokopi, untuk mengurus paspor)
7. Fotokopi KK, ukuran HVS
8. Fotokopi Akte kelahiran, ukuran HVS
9. Fotokopi KTP Ayah/Ibu, diperbesar seukuran setengah HVS
10. Surat izin orangtua, bermaterai (yang ternyata formulirnya sudah disediakan, tidak perlu dibuat)

catatan: adapun syarat-syarat di atas adalah sesuai dengan kondisiku sebagai anak perempuan berusia 22 tahun yang memiliki KTP berstatus pelajar/mahasiswa.

Selanjutnya, datanglah sepagi mungkin jika ada waktu senggang. Jadi kita bisa mencegah dan melengkapi berkas-berkas yang kurang atau mungkin direpotkan oleh petugas di kantor imigrasi.

Pengalamanku sempat diribetkan oleh petugas keamanan di pintu masuk kantor imigrasi hanya karena saya memakai rok  kembang di atas lutut, tidak bisa ditawar untuk dibujuk, entah peraturan dari mana, setahuku  syaratnya hanya berpakaian rapi, akhirnya aku dan teman-teman melengos pergi mencari solusi. 

Berhubung perjalanan antara kotaku, Kisaran ke kantor imigrasi Tanjung Balai cukup memakan waktu (sekitar setengah jam, naik mobil) aku memutuskan membeli rok kembang, dibawah lutut dengan harga 15.000 di Monza*

Aku tidak mau usaha kami menjadi sia-sia hari itu, maka kami kembali ke kantor imigrasi dan disetujui untuk masuk. Cerita punya cerita, dia ikut mengantarkan, berjalan beriringan dengan kami saat memasuki kantor, lalu kami ditawari... jasa calo. Rasanya ingin aku memaki tapi kutahan karena aku ingin ini cepat selesai.

Kami diharuskan mengisi formulir terlebih dahulu. Formulir dan surat izin dari orang tua bisa didapatkan secara gratis di koperasi tapi kami harus membeli map (meskipun tertulis kata 'gratis' di depannya), materai (sebuah) dan sampul paspor, semuanya dikenakan Rp 18.000/orang. Oh ya... jangan lupa bawa pulpen dan penghapusnya. Lumayan bisa menghemat...

Formulirnya harus diisi dengan data dan informasi identitas diri. Sedangkan surat pernyataan orang tua, harus ditandatangani oleh ayah/ibu, jadi keahlian meniru tandatangan sangat diperlukan di sini jika tidak ingin kembali lagi hanya karena bubuhan tandatangan. Atau jika tidak bisa menirukannya, maka sempatkanlah waktumu untuk membeli formulir dll, sehari sebelumnya untuk diisi di rumah.

Untuk yang sudah berkeluarga, maka yang didapat adalah surat pernyataan dari suami/istri yang bersangkutan, namun bagi yang sudah bekerja, dapat lebih dimudahkan dengan surat rekomendasi kantor terutam bagi yang akan melakukan perjalanan untuk pekerjaan.

Hari itu tidak terlalu ramai, biasanya setelah usut punya usut, orang-orang yang mengurus paspor di sini adalah calon jemaah haji atau TKI, makanya mereka agak ketat dalam menyeleksi para pengaju berkas. Waktu sudah meunjukkan hampir pukul 12, sesuai dengan ketentuan yang tertulis besar-besar di pintu masuk, bahwa paling lambat penerimaan berkas setiap harinya, diterima pukul 12 siang.

Jam 11. 55, kami sudah mendapat nomor antrian, setelah pertama kali diperiksa oleh ibu costumer service yang galak mukanya, yang juga bertanya "ini kapan ditandatangani surat dari orangtuanya?" lalu aku menjawab dengan berbohong "oh, ini kemarin dibawa pulang dulu bu"

Kami (aku dan temanku, Keke) menunggu sambil berdoa dalam hati agar kami masih termasuk dalam orang-orang beriman... eh yang diperiksa berkasnya hari ini karena waktu yang sebentar lagi menunjukkan waktu sholat Jumat dan kami harus menunggu hingga selesai waktu makan siang jika tidak kedapatan dipanggil.

Tapi ternyata keberuntungan masih milik kami. Keke dipanggil untuk diseleksi berkasnya terlebih dahulu, aku berdiri di belakangnya. Keke dihujani berbagai macam pertanyaan menyulitkan sehingga membuatnya berjanji membawa orang tua sebagai jaminan saat wawancara nanti. Aku pikir aku akan bernasib sama, namun setelah tiba giliranku si bapak menjadi melembut, malah menggodaku dengan beberapa pertanyaan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pembuatan paspor.
"masih sekolah atau udah kerja dek?"
"tinggal di mana?"
"kerja di mana?"
"ke sini sama siapa?"
astagaa.... aku sampai geli sendiri mengingatnya terutama ketika si bapak ditegur oleh atasannya agr tidak berlama-lama mengurus berkasku tapi berhubung kepergian kami bersama-sama, aku dan keke tetap harus membawa orang tua.

Aku tidak terlalu paham bahwa sebenarnya ketentuan tersebut ada di setiap kantor imigrasi atau hanya kebijakan petugasnya saja, tapi memang, buat pelajar/mahasiswa harus membawa wakil sebagai jaminan saat wawancara nanti. Setelah lewat tahap itu dan berkas kami di tahan, kami mendapat kertas putih berisikan cetakan nama, nomor pengajuan, jadwal (untuk wawancara, sidik jari dan foto) dan nilai yang harus dibayarkan pada Bank BNI, yaitu Rp 255.000 dan harus dibayarkan hari itu juga.

Dulunya, kita dapat langsung menyetorkan tunai di Imigrasi, tapi sekarang harus disetor tunai melalui Bank BNI, beberapa kantor Imigrasi terutama untuk di Ibukota sudah bisa melalui ATM BNI tapi tidak dengan Asahan-Tanjung Balai. Dan tidak sembarang Bank BNI, harus sesuai dengan Bank BNI yang telah ditunjuk jika ingin setor tunai. Total yang dibayar Rp 255.000 + Rp 5.000 untuk biaya administrasi.

Tahap II: Datang Lagi Untuk Foto, Wawancara dan Sidik Jari (7 Januari 2014)

Sebenarnya dulu, menurut D (yang ikut bersama kami), prosesnya bisa dipersingkat menjadi total dua hari saja, jika tidak sedang ramai karena tahap I dan II nya digabung. Sekarang tidak lagi, foto wawancara dan sidik jari dilakukan di hari yang berbeda.

Menurut jadwal kami harus tiba pukul 8-11 pagi, sesampainya di sana, kami (lengkap dengan membawa ibunya masing-masing) mengambil nomor antrian setelah menukarnya dengan bukti pembayaran di loket. Lalu tidak berapa lama aku dipanggill untuk foto & sidik jari, untuk syarat foto, harus berpakaian berkerah (kemeja), rapi dan tidak boleh berwarna putih. Tidak sampai lima menit aku berpindah ke meja wawancara yang hanya ditanya...
"mau kemana?"
"ngapain ke sana?"
setelah dicap sana-sini, tidak sampai lima menit lainnya proses wawancara sudah selesai, dan ibuku tidak ditanyai sedikitpun. Rasanya entah apa gunanya merepotkan ibu -_-

Aku mendapatkan kertas yang berisikan tanggal kedatangan untuk mengambil paspor pada tanggal 13 Januari 2014.

Tahap III: Pengambilan Paspor (13 Januari 2014)

Akhirnya penderitaan ini telah selesai, pasporku sudah selesai pada 13 Januari 2014, proses yang menyakitkan itu, yang mengeluarkan banyak keringat dan air mata akhirnya selesai juga. Hahaha. Semua orang berakhir bahagia. Liburan telah tiba.




Catatan:
*Monza = Pusat jual-beli baju, sepatu, tas, tali pinggang, kain, boneka dan bahkan pakian dalam bekas dari berbagai belahan negara yang dijual berpusat di Tanjung Balai. Biasanya sangat mudah menemukan pakaian bermerek terkenal yang dijual dengan harga sangat miring (lain waktu aku akan bercerita tentang ini)

Rabu, 26 Februari 2014

Hello, Miss Nami!

Mengikuti jejaknya idolaku, inspirasiku, kakak angkatku, Zooey Deschanel yang jadi guru bahasa inggris di serial tv 'New Girl' aku menerima tawaran Anton, teman sepemikiran dan sesama pelaku kriminal yang tidak normal di kota kecil yang sumpek ini.

Anton menawariku menjadi guru di kursus bahasa inggris milik keluarganya kerena mereka sedang terdesak mencari ganti dari pekerja sebelumnya yang kabur karena married by accident. Tanpa pikir panjang, aku menyanggupi jadwal kerja Senin - Sabtu maksimal 3 jam sehari dengan gaji yang lumayan buat beli tiket pesawat untuk traveling.

Tentu saja kegiatan ini dilakukan setelah mengantongi izin setengah memaksa dari orangtua yang teteup... aja sulit memberiku izin untuk berkeliaran secara bebas. Sehari sebelum hari pertama aku mengajar, Mam Jenni, atasan sekaligus ibunya Anton memberikan aku arahan untuk mengajar............ Kindergarten.

Dasarnya, aku senang berada di lingkungan bersama anak-anak jadi pada awalnya semua kelihatan mudah dan lancar. Berbekal ilmu berinteraksi dengan anak-anak yang dulu aku dapatkan saat siaran acara "Sahabat Kecil" selama 9 tahun sejak aku berumur 5 tahun dan juga sesekali memandu acara ulang tahun anak hingga sekarang, aku pikir tidak akan ada masalah.

Hari pertama... hmmm, ternyata mengajar agak tidak seperti yang aku bayangkan, berhubung ini adalah pendidikan informal atau kursus, anak-anaknya bertingkah lebih brutal. Ada yang berlarian di dalam kelas, ada yang terjatuh dari kursinya, ada yang menangis, ada yang tertidur bahkan ada yang memegang boobs-ku saat berebut menjawab pertanyaan yang diiming-imingin voucher.

Setelah seminggu mengajar, aku bahkan langsung terserang sakit tenggorokan karena keseringan berteriak. Aku mengambil libur sehari di hari Senin, karena kondisi tubuhku semakin memburuk.

Sehari melewati mengajar kelas-kelas yang bandel tapi ngangenin itu membuatku tersadar bahwa aku mencintai pekerjaan ini. Aku merindukan panggilan Miss Nami yang mereka teriakan setiap semenit sekali, setiap mereka berkelahi dan setiap mereka mengalami kesulitan.

Meski pada awalnya aku tidak terlalu menyukai anak-anak bandel dan bahkan tidak mau belajar.

Tapi... hari ini...
Setelah aku masuk di jadwal kelas yang aku lewati Senin lalu, ternyata mereka pun juga merindukanku. Terlebih karena guru pengganti kelas mereka ternyata lebih galak dari aku, hingga membuat mereka kapok dan selalu mendengarkan setiap perintah dan tugasku hari ini.

Aku tersenyum puas, anak-anak mulai menurut tanpa aku harus berteriak agar mereka tidak ribut di kelas.

Bahkan di kelas terendah yang aku ajar (berisi anak-anak TK atau SD kelas 1) di tempat kursus tersebut, saat kami bermain mencari pasangan untuk dijadikan kelompok belajar... seorang anak laki-laki berlari dari tempat duduknya dan berteriak
 "Aku mau sama Miss Nami.. Aku mau sama Miss Nami" katanya berulang-ulang sambil memelukku.

Aku terharu dan aku sungguh sangat mencintai mereka.

Salah satu kelompok menulis 'ikan' saat disuruh menulis nama hewan dalam bahasa inggris

Rebbit untuk kelinci. Mereka menggemaskan!

Senin, 24 Februari 2014

I'm Back

Sepertinya udah setahun lebih blogku mati suri. Mungkin, kalo gak karena hape canggih masa kini yang sedang sekolah ke Arab, aku gak akan rebutan komputer sama adek-adekku yang durjana untuk mengakses internet. Punya hape canggih bukannya produktif eh... malah sibuk eksis di media sosial sana-sini. Maafkan ya. ;p

Setahun lebih berlalu, aku udah gak inget cerita apa aja yang terjadi pada diriku. Perubahan yang paling besar adalah tentang kepulanganku ke kampung halaman. Udah keren-keren tinggal di ibukota, punya kerjaan tapi teteup... harus ngalah sama keinginan orang tua. 

Yooo.. sopo suruh jadi anak wedok toh nduk? hiks

Tiap kali mau nulis di blog, selalu saja terkalahkan dengan "ah nanti aja deh sekalian banyak nulisnya." lalu aku unduh aplikasi blogger, tumblr, and... whatever... whatever di hp, ceritanya biar bisa nulis dari mana aja padahal... teteup... jangankan nulis, login aja dari mobile gak pernah.

Ngeliat blog sendiri rasanya pengen muntah. Aku ngerasa gak punya blog yang tampilannya sejelek kemaren. Bikin gak semangat nulis dan mendadak terserang kepanikan yang mengakibatkan amnesia.

Udah banyak juga orang yang aku bo'ongin. Bahkan temen seper-blogan udah nyindir, "itu Shah Rukh Khan gak di ganti-ganti, udah bosen bacanya" katanya ngomentari posting-an blog terakhir aku melalui twitter. Alhasil aku bikin perjanjian sama dia untuk bikin proyek menulis dengan tema berbeda setiap hari. Ya... cuma biar aku rajin nulis aja, tapi... teteup...

Aku membiarkannya menulis proyek itu sendirian. Sedangkan aku? Punya draft untuk tulisan hari pertama juga enggak, apalagi punya niat menyelesaikan seluruh proyeknya. Gak tau deh, temenku itu jadinya menyelesaikan seluruh tantangan tersebut atau enggak.Aku terlalu malu untuk menyapanya sekarang. Hahaha (Maafkan aku, Eaz...)

Si anak metal (yang udah gak metal lagi, sekarang udah jadi anak namaste gitu deh) Tria, juga udah nanya kapan si butet ini nulis lagi, biasanya aku juga suka gak mau kalah kalo dia nulis blog, partner sehobby sekopi ini konsisten menulisnya sedangkan aku... sudahlah.

Jadi intinya, setelah tepat setahun menjadi pengangguran sekaligus anak perempuan yang dituntut cepat menikah tapi gak boleh asal-asal memilih pasangan, tapi harus kaya, boleh gak kaya tapi harus sayang sama mama, taat agamanya, banyak usahanya, bla.. bla... bla... bikin anaknya jadi pengen nyanyi lumpuhkanlah ingatanku...

Tapi baru-baru ini aku punya siasat, biar gak ditanya lagi tentang si jodoh yang tak kunjung datang. Aku berdalih ingin kuliah lagi di............. Inggris. -_-

"ya kan keren ya ma, ntar temen-temen mama nanya kapan aku nikah, ya bilang aja, wah dia lagi sibuk banget tuh, nyari-nyari beasiswa kuliah di Inggris. Bilang aja di Manchester, di Liverpool kek atau di Newcastle juga gak apa deh"

Ajaibnya. Mama setuju... padahal yang aku maksud klub-klub sepak bola asal Inggris bukan nama kotanya.

Bagi yang bernasib sama dengan aku. Silahkan coba di rumah.

Rabu, 29 Januari 2014

Hampir Ketinggalan Pesawat di Kuala Namu


Ini perjalanan paling gila yang pernah aku lakukan.

Awal tahun 2014 kemarin adalah peristiwa tidak terlupakan sepanjang sejarah hidupku, berkat tiket promo dari AA aku bisa berangkat ke luar negeri, Medan (KNO) - Kuala Lumpur (LCCT) dengan Rp. 280.700 (all in termasuk tax, boarding LCCT - KNO dan bus yang mengantar dari LCCT ke KL Sentral)

Tadinya itinerary disusun hanya seputar dan sekelilingan KL saja atau paling bermain ke Genting Highlands namun entah karena kondisi apa aku menyanggupi tantangan temanku untuk berjalan ke dua negara dalam tiga hari dua malam. Mengapa tidak?

Konsekuensinya adalah capek dan letih di perjalanan saja memang, terlebih kami harus menggendong sendiri barang bawaan kami nantinya. Tak pernah ada kata menyerah, selagi masih muda pikirku. Aku dan teman-teman tetap nekat jalan ke Singapore.

Perjalanan 3Hari2Malam itu dimulai pada tanggal 24 Januari - 27 Januari 2014.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, pasukan pejalan-pejalan nekat yang seharusnya terdiri dari lima orang (Aku, Putri, Keke, Devi dan Yudis) hanya menyisakan tiga orang untuk bertempur di medan perang (Aku, Putri dan Keke). Kami berangkat ke Medan terlebih dahulu dari Kisaran untuk menukar mata uang asing dan menitipkan mobil milik Putri di tempat Devi.

Saat berangkat Ivo juga ikut bersama kami menumpang ke Medan sekitar pukul 11 siang dari Kisaran, satu jam lebih lambat karena menunggu keke yang ke salon dulu sebelum berangkat dan kami tiba di Medan sekitar pukul 3 sore.

Karena belum menukar rupiah ke ringgit dan dollar Singapore kami terpaksa memutari Medan untuk mencari Money Changer. Dari kami berempat tidak ada yang hafal jalan, maka terjadi sedikit pertempuran mendebatkan jalan mana yang kami lewati. Kalo aku sih diam aja.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima, uang sudah di tangan, Ivo sudah turun bertemu dengannya temannya, sekarang kami harus menemui Devi untuk menitipkan mobil sekaligus mengantar kami ke bandara.
Bersama dengan pacarnya dan teman pacarnya, devi yang mengantar kami ikutan panik karena takut tak sampai bandara pukul 5 sedangkan medan ke kuala namu butuh waktu 45-60 menit.

Sebenarnya waktu keberangkatan kami adalah 17.55 namun karena mengantisipasi keterlambatan dan drama semacam ini aku memberitahukan mereka bahwa paling lambat untuk check-in adalah pukul lima, saat semua orang panik aku hanya senyum-senyum saja.

Kami tiba di bandara pukul 17.20, memang sudah hampir terlambat tapi ternyata kami masih diizinkan masuk. Setelah bayar boarding 40.000 dan melalui imigrasi (meski sempat tersangkut karena minyak rambut milik putri yang melebihi batas ml cairan) kami pun menunggu dengan tenang di ruang tunggu.

Tak berapa lama terdengar nomor pesawat kami diumumkan, kami pun bergegas masuk ke pesawat.