Selasa, 26 Juni 2012

Cerita di Balik Puisi Ananda


Siapa yang mengira nantinya aku dapat berdiri dengan bangga, setengah tidak percaya di depan ribuan murid di sekolahku, SMA Harapan, SMA swasta terbaik di kotaku ini. Semuanya juga setengah tidak percaya, di hadapan teman-temanku disertai mata berbinar penuh harapan dari guru-guruku, terutama Pak Alex, pembimbingku, pembawa arah masa depanku saat memanggil namaku, menyuruhku naik ke atas podium.

Aku menitikkan air mata. Aku tidak pernah merasa sebahagia dan seberguna ini. Ya, paling tidak sehari sebelum hari ini, sehari sebelum diumumkannya pemenang lomba puisi online tingkat SMA se-Indonesia, kemarin. 

Cukup mudah bagi orang lain, mungkin. Mengarang kata-kata, membawakan perasaan dan larut dalam setiap jiwa dari dalam puisi tersebut. Tapi tidak untukku, menulis bukan hal yang mudah, apalagi harus unjuk gigi sampai sejauh ini.

Aku bukanlah juara kelas, juga bukan anak yang berprestasi. Aku juga tidak menaruh minat pada puisi, sebelum pada akhirnya aku mengenal alunan kata-kata indah itu lebih jauh, tiga bulan yang lalu.

Satu-satunya kelas dengan nilai sempurna adalah kelas bahasa yang diambil alih oleh Pak Joy setelah Bu Martha berhenti mengajar karena harus pindah ke luar kota, ikut suami. Mereka adalah idolaku, kemampuannya menelaah bahasa, mengingat sejumlah pengarang asing sebagai bahan referensi bacaan kami ketika liburan adalah hal terkeren yang pernah aku temui, terlebih lagi Pak Alex, dia lebih atraktif.
Tapi tetap saja keberadaanku tidak pernah diperhitungkan. Antara ada dan tiada.

Dan aku tidak protes. Memang beginilah aku.

Kelebihanku hanya senang membaca buku, tanpa penah memberi kesempatan pada potensi dalam diriku. Temanku hanyalah buku, dan beberapa orang yang terkadang menanyai kabarku jika aku tidak masuk sekolah, Sophie dan Robby. Kupikir mereka yang paling perhatian

Kami pun sama gilanya. Berkutat dalam buku, menghabiskan seluruh waktu istirahat di perpus dan terkadang kami tertawa saat berbagi kutipan-kutipan lucu yang didapat dari buku yang kami baca. Hal yang paling menyenangkan buatku dan (kurasa) kedua temanku.

Anehnya, kami bisa berjam-jam membahas tentang pengarang novel dengan kehidupan pribadinya atau bisa juga dengan kekasih gelapnya, seperti Hemingway dan Gelhorn. Itu yang membuat kami berbeda, tak heran jika teman-teman kami lainnya menyebut kami sebagai Trio Kutu Buku. Kami menjadi sedikit pendiam dan tersisih sebenarnya.

Dan hari ini, merekalah yang paling meriah bertepuk tangan mengiringi langkahku saat aku menapakkan kaki satu demi satu menuju podium.

Aku telah tiba di sini, di podium, di hadapan ribuan pasang mata yang menyorot ke arahku. Aku bingung akan berkata apa. Aku hanya merasa lebih diperhitungkan saat ini. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur dan aku yakin aku akan menguarkan suara yang bergetar, itu tidak bisa disembunyikan.

Aku mengawali pidato singkatku dan kuharap ini benar-benar singkat. Aku malu bercampur aduk dengan sejuta perasaan lainnya di atas sini

“Selamat pagi” sapaku di Senin pagi hari yang cerah, menjemur semua murid di tengah lapangan.

“Upacara hari ini menjadi sesuatu yang spesial buatku setelah hampir mencapai 3 tahun bersekolah di sini”

Sementara bibirku terus berbicara tentang segala macam hal yang mereka ingin tahu dariku.
…pikiranku menerawang. Ke tiga bulan yang lalu, Ke masa ketika cerita ini dimulai.
Sebuah rahasia yang tak akan aku ungkap bahkan di media sosial sekalipun

Rabu pagi, kelas bahasa, kelas favoritku sepanjang masa.
Lelaki bertubuh gagah setinggi lebih dari 170cm, berkacamata dan membawa dua buah buku di genggamannya, bergegas memasuki kelas. Mari kutebak umurnya, sekitar 28 tahun kah? Atau mungkin 33? Ah, yang jelas dia tampak lebih muda untuk seusianya, begitulah kesan pertamaku.

Dia menuliskan namanya di papan tulis.

“Christian Alexander” dia mengeja kembali nama yang telah ditulisnya.

“Kalian boleh memanggil saya Pak Chris atau Pak Alex. Dua nama yang cukup berbeda. Jika kalian menyebutkannya satu per satu seperti: Chris dan Alex. Maka kedengarannya kalian seperti memanggil dua orang kan?” lalu dia tertawa kecil, sendirian sementara kami tetap mematung.

“Bukan nama yang serasi menurutku” dia kembali melanjutkan guyonannya.Dan tetap tidak berhasil. Kami tetap membisu.

“Well, kalian boleh memanggil saya apa saja” ujarnya berusaha mencairkan suasana. Anak-anak dalam kelas mulai berisik, gaduh dan sepertinya telah dapat membaca bahwa dia adalah guru yang payah.

Lelaki berkemeja biru pucat dengan garis-garis putih tipis horizontal itu menghela nafas. Tampaknya dia menunjukkan gelagat grogi atau mungkin ini pengalaman pertamanya mengajar. Dia memandang sekeliling kelas, mata kami beradu, mataku dan guru kelas bahasa itu. Dia seperti kehilangan akal.

Dia berdiri tepat di depan mejaku, meja dengan barisan paling depan di kelas ini. Aku angkat bicara, setengah berbisik, mungkin hanya aku, sophie -teman sebangkuku-, dan dia saja yang mendengar. Yah, memang itu maksudku.

“Saya lebih senang memanggil Anda dengan Pak Alex” kataku sambil menatap mata di balik kacamatanya yang kusadari ternayat itu berwarna cokelat muda. Indah sekali.

Dia menoleh padaku dan tersenyum manis sehingga menunjukkan lesung yang dalam d sebelah kiri pipinya.

 “Siapa namamu?” tanyanya.

 “Ananada, saya biasa dipanggil ‘Anda’, maksudku benar-benar Anda untuk  sebuah nama. Bukan Anda untuk panggilan kamu atau kau dalam arti sebenarnya. Yeah, seperti bapak tahu aku juga memiliki kesulitan dalam menjelaskan nama sepertimu”

Kami tertawa kecil dan Sophie juga ikut tertawa. Begitulah awal mula aku bercakap-cakap dengannya.
Dia mengawali kelasnya dengan puisi. Tak hanya menyuruh kami nantinya satu per satu membacakan puisi yang telah kami buat, tapi dia juga terlebih dahulu telah membacakan puisi karangan mendadaknya di depan kelas dengan aksen menawannya

Giliranku, aku tak suka puisi. Aku tak bisa membuat puisi dan aku mulai frustasi, kulihat di sekeliling temanku sudah mulai mengerjakan puisinya. Aku memandang ke arahnya, Pak Alex. Di meja guru, dia membaca satu buku karangan Pramoedya Ananta Toer, yang telah aku baca sebelumnya.

Ada yang berbeda dengan Pak Alex, sekonyong-konyong hatiku ikut berdebar saat aku mencuri pandang padanya. Ribuan kata terjalin dengan indah di dalam otakku. Puisi pertama yang kutuliskan lahir untuknya, puisi untuk cinta.

Aku mengehela nafas dan kembali sadar bahwa aku harus menyudahi pidato yang kuharap singkat itu.

“Sekali lagi aku berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungku” ujarku mengakhiri kegembiraan pagi ini yang disertai dengan riuhnya tepuk tangan.

Aku melangkah turun dengan perlahan dan menatap (tak berkesudahan) ke arah Pak Alex yang bertepuk tangan tak kalah heboh di deretan guru-guru lainnya.

Untuk Pak Alex yang membangkitkan semangatku. Semoga aku tetap menjadi murid favoritmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar