Jumat, 01 Juni 2012

Abang Angkot yang Budiman


Saya sudah menghabiskan waktu lebih dari setengah jam hanya untuk menunggu giliran lampu merah, dari dalam angkot. Macet yang biasa terjadi dari depan kontrakan menuju jalan raya Pasar Minggu.

Biasanya, jika tidak macet waktu yang dibutuhkan hanya 10 menit naik angkot dan 5 menit naik ojek.

Tak ada pilihan pagi itu, berangkat jam 9 dan keinginan sampai lebih awal membuat saya mengambil keputusan naik angkot tersebut dan menyambungnya naik metro mini untuk sampai di kantor. Tapi hal yang paling mendesak adalah karena itu adalah alternative termurah berhubung saya sedang ngirit.

OK! Macetnya luar biasaaa…

“Ya, ini biasa terjadi” kata saya dalam hati menyabarkan diri sendiri. Jam 7-10 pagi adalah jam-jamnya macet di Kalibata. Beberapa yang tidak tahan akan keluar dari angkot atau momen yang paling parah adalah ketika si abang supir angkot yang tidak sabaran menyerobot jalan dari arah arus sebaliknya yang terkadang kosong.

Tapi abang yang satu ini berbeda…

Di dalam, sedari tadi kami menanti dengan sabar, menaati aturan. Tak menyerobot dan cenderung pasrah. Si abang bahkan sempat membeli telur rebus dan emping goreng di warung soto di jalan yang kami lintasi. Dia tampak begitu menikmati perjalanannya. Yah, sepertinya….

Tiba-tiba pemandangan yang biasa terjadi melintas di depan mata kami. Salah satu angkot bernomor dan berjenis sama dari arah  belakang menyerobot jalan dari arah arus balik.

Salah satu penumpang, menyeletuk

“Nah bang itu die jalan sebelah sana, bang”

Si abang menjawab.

“Ye biarin aje, ntar kan kalo kite ikutan, ditrangkap polisi, kan berabe”

Tak peduli sebenarnya dengan jawaban si abang yang ngeles itu tapi dengan dia tidak tergoda untuk ikutan angkot lain itu, seketika saya ingin standing applause.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar