Kamis, 24 Mei 2012

Kehidupan yang Semakin Jelas

3 Tahun telah berlalu, sebentar lagi waktunya berpisah dengan teman-teman kuliah gue. Beberapa dari mereka tentu sudah ada yang menentukan jalan hidupnya, mau seperti apa, siapa dan bagaimana mereka nanti semuanya sudah terlihat semakin jelas...

Mungkin di awal kuliah, gue, mereka dan kita masih bingung seperti apa tujuan kita nantinya. Ikutan kegiatan sana-sini, mencari identitas.

Hingga pada akhirnya, bahkan sebelum semester ini berakhir. Kita sudah terlihat memiliki kesibukan masing-masing sesuai dengan minatnya, sesuai dengan karir yang ingin ditempuhnya. Seperti gue yang mencari pengalaman dengan magang sana-sini.

Gue menyadari hal ini setelah kemarin saat yang tidak disengaja bertanya pada temen gue, Lani.

Gue: Eh, gue nanti ikutan workshop jurnalistik lho.
Lani: Eh, gue ikutan seminar entrepreunership, lo mau ikutan gak?
Gue: lah kan gue ikutan worksh op jurnalistik
Gue dan Lani: *tertawa*
Lani: Wah, kita semakin jelas yah keliatan minat-minatnya apa

Ya, inilah kehidupan yang semakin jelas itu. Selamat datang, teman...

Ps: Lani ini yang kemarin pas ulang tahun gue ngasi dream catcher. Hihihihi. Tau aja dia, gue mupeng abis sama dream catcher. Thank you, Lani...

Dream catcher yang dipajang di mejaku. :D

Sensasi Kamera Lubang Jarum

Senin siang, saya dan teman sekantor, Gege, mengalahkan teriknya panas matahari demi mendapat konten untuk Beranda Komunitas di Yahoo! Indonesia, tentunya... ;p

Awalnya, saya hanya mewawancarai lewat telepon berdiskusi tentang Komunitas Lubang Jarum yang dibuat oleh Ray Bachtiar. Sampai akhirnya mas Ray berkata, mbak harus rasakan sendiri bagaimana caranya membuat kamera.

Manggarai, tidak sedikit mengurangi sedikitpun volume panasnya siang itu. Saya pun tak mau menyerah, meski Gege sudah ngos-ngosan karena dipaksa jalan dari stasiun ke jalan Pariaman (yang katanya deket) padahal menurut Gege ini sama sekali koloborasi ga nyantai antara matahari dan jalanan.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan saat saya telah tiba di depan rumah mas Ray. Rumahnya tampak begitu asri dengan beberapa tanaman hijau di halaman depan, batu bata merahnya sebagai pagar juga menambah kesan rumah 'seniman' banget.

Benar saja, setelah dipersilahkan masuk. Rumah yang merangkap sebagai kantor tersebut benar-benar membuat saya dan Gege merasa betah.

Setelah bercakap-cakap dengan mas ray, tentang kamera lubang jarum dan fotografi. Saya dan Gege melakukan 'tugas', tidak ini keseruan...

Membuat kamera lubang jarum luar biasa seru. Benar kata mas ray, prosesnya tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Bagaiman awal pembuatan kamera, hunting foto (saya sempat jadi model lho.. :P) hingga ke tahap pencetakan foto.



Saya menjadi model dari kamera lubang jarum. Fotografer: Damar

Proses pengambilan foto menggunakan kamera lubang jarum. Foto: KLJI
Proses mencetak foto di kamar gelap. Foto: KLJI
Foto pun akhirnya dijemur. Foto: KLJI

Ini loh hasil dari kamera KLJ-ku. Foto: KLJI



Wohooooo, saat foto tersebut dicuci di kamar galap, saat gambar itu mulai muncul dan melekat sempurna pada kertas ah.. ah.. ah.. cant say it by words. Kamu harus coba sendiri

Ah, Mengenal komunitas itu seru...

Note: Kita pulangnya naik taksi, intern (pura-pura) kaya :))

Motor Dilarang Parkir Di Sini




Foto ini saya ambil sepulang kuliah, pada 10 Mei 2012 di Gedung B Vokasi UI,  merupakan fakultas yang terpojok dari teman-teman lainnya. Seharusnya hal tersebut tak menjadi alasan bagi pihak manajemen kampus untuk tidak memperhatikan pengelolaan lingkungan Vokasi, termasuk tempat parkir.

Motor-motor ini berparkir tepat di depan pintu masuk gedung Vokasi. Akan menjadi kesulitan buat mahasiswa yang melintas keluar dan masuk jika pada suatu ketika motor ini menutupi jalan.

Sudah larangan kok masih belum tertata? Salah siapa?

Mahasiswa dan pengelolanya. Mahasiswa yang tidak mencerminkan manusia berilmu seolah buta dengan tulisan larangan tersebut.  Apakah tulisan sebesar itu tidak membuat malu untuk berparkir di sana?

Pengelolanya, jelas-jelas yang lebih berdosa. Pihak kampus memang sudah menyediakan lahan parkir di bagian belakang gedung, jauh dan penuh. Tidak bisa menampung kuota dari membludaknya mahasiswa yang berparkir di sana, jangan sepenuhnya serta merta menyalahkan mahasiswa yang berparkir di depan gedung (yang gratis).

Semoga ada tidak lanjutnya ya. Sehingga mata saya agak perih meilhat plang "MOTOR DILARANG PARKIR DISINI" dengan kaidah bahasa yang salah. Ya, seharusnya 'DISINI' itu dipisah, DI SINI...

Berbicara Dengan Seniman

Saya mengenal banyak seniman, tak secara harfiah merujuk kepada mereka yang telah memiliki nama besar atas karya-karya yang dihasilkan. Di ruang lingkup yang lebih kecil, mereka yang dekat dengan saya tentu punya sisi seni dan nyentrik yang merupakan ekspresi diri mereka.

Tak usah jauh-jauh, adik saya. Hidupnya memang untuk seni, setidaknya begitulah arti hidup menurutnya. Si ibu memang sudah menyadari sikap pembangkangnya terhadap pertauran sekolah dan mangkir dari kelas-kelas, buat orangtua panik.

Tak disekolahkan SMA, hanya mempelajari secara home-schooling, sempat membuatnya putus asa untuk meraih impian. Tapi tidak dengan saya yang memperjuangkannya agar tetap masuk kuliah dnegan memberi motivasi dan mencarikannya kampus seni, tempat orang-orang semacam dia berkumpul.

Beruntung pada saat itu, saya juga tengah berhubungan dengan lulusan IKJ. Banyak informasi yang kami dapat darinya, dan beberapa kali memberi wejangan kepada adik saya mengenai proses masuknya.

Saat ini, dia sudah berkuliah, mengecap duania pendidikan formal dengan situasi tak formal seperti yang diinginkannya. Tentunya masih dengan biaya orangtua. hehehe :p

Kemarin sore, kami sedang bersantai di rumah petak yang kami sewa di daerah Kalibata. Jika sedang tidak memiliki kegiatan, kami terbiasa bersenda gurau, mengisi kekosongan satu sama lain. Ah... kakak beradik ini...

Sadar betul, bahwa hidup saya tidak akan sesantai saat saya masih kuiah. Saya bertanya pada adik, "Apa rencanamu selama setahunatau dua tahun ke depan?"

Maksud tujuan dari pertanyaan saya adalah ingin mengetahui visi dan misi dalam hidupnya, sehingga saya merasa aman atas hidupnya yang tersusun rapi, jika suatu waktu saya membiarkannya mandiri.

Dia hanya terdiam. Cukup lama. kami masih tidur bersampingan menatap langit-langit kamar. Dan kemudian dia angkat bicara

"Oh.. Seniman itu biarkan berpikir bebas. Selama aku masih meproduksi karya aku yakin itu adalah ukuran kesuksesanku," ujarnya mantap.

Kini gantian gue yang terdiam dengan jawabannya. Dasar (sok) seniman!, ledekku dalam hati. ;p

Jerawat Kenapa?

Pertanyaannya sekarang telah diubah dari "ini jerawat siapa hayooo?" menjadi "Sekarang jerawatan kenapa hayooo?"

Lagi-lagi temen gue membahas sesuatu hal yang ehem uhuk sat kami tengah melakukan perjalanan pulang, bertiga, di mobil. Perempuan semua.

Tiba-tiba saja dia berceletuk, "eh masa ya katanya kah lau orang yang jerawatan itu karena dia udah lama ga having sex, katanya karena hasrat sexnya tidak tersalurkan makanya hormonnya berlebih dan timbul jerawat" kata temen gue yang lagi nyetir.

Gue dan teman yang satunya saling tatapan. OK! gue dan dia sedang jerawatan sekarang. Meski tidak sebanyak dia, tapi gue merasa hal yang disampein temen gue tadi ada benernya. Toh gue gak punya pacar juga... :))

Nah, temen gue yang satu lagi, biasanya sih mukanya mulus. Gue gak tau kenapa, jadilah di bahan cengan kita.

"Jadi lo jerawatan karena apa? pasti karena kurang puas ya sama cowo lo"

"cowoknya nanggung kali"

celetukan demi celetukan keluar dari para gadis muda belia, berumur 20 tahun ini. Dan pada akhirnya menertawakan pembahasan tak senonoh itu.

"eh gue seneng dong, gue masih perawan, yang kemarin gue gak diapa-apain," temen gue yang nyetir kembali mencari topik pembicaraan baru.

SHIT! Dia mulai lagi...

Brondong di Atas

Ada pembicaraan random antara gue dan beberapa teman perempuan lainnya yang sedang ngumpul di kosannya Tiara beberapa pekan lalu. Tidak menceritakan sesuatu yang jelas, hanya saja topiknya mengalir bagai air, tak terkontrol dan mulai menjurus.

Bermula dari beberapa teman yang memisahkan diri untuk menonton film Korea atau China (saya lupa, pastinya) yang terkadang isi adegannya berisikan hmmm.... uhuk... adegan seks.

Melihat mereka begitu serius di pojokan, mengundang rasa penasaran. Jadi, mereka tengah memperhatikan salah satu adegan saat si ratu sedang berselingkuh dengan tangan kanan rajanya. posisinya di atas...

dan terjadilah pembicaraan random itu...

"Eh kalo cewe di atas, women on top kan namanya?"
"iya, nah kalo cowonya yang di atas apa dong?"

*semuanya berpikir keras*

"itu mah biasa"
"tapi kalo cowo muda di atas gue tau, Young On Top"

*ketawa bareng-bareng*

"Hahahaha, Young on Top, Brondong di atas"
"Merusak citra banget tuh. hahaha"

Lalu setelah selesai dengan percakapan tersebut. Kami melanjutkan film tersebut yang ternyata mengandung unsur sadisme, saat kemaluan dari tangan kanan si raja dipotong karena rasa cemburu si raja yang ternyata mencintai sesama jenis, tangan kanannya tersebut.

Tapi saya lupa judulnya apa. ya sudah lah ya...