Senin, 16 April 2012

Bukan Pertemuan

Ini bukan permainan yang sebenarnya kita hendaki. Saat itu aku masih yang terlalu muda untuk mengerti dan kau menganggap dirimu terlalu tua untuk mencampuri.

Mungkin baru kini kau sadar, bukan usia jaminannya… Hanya pengalaman masa lampau yang membedakan, untuk sebuah rasa tak tertahankan yang kita selalu menganggap ini tidak nyata.

Ya, saat itu… Aku dan kau terjebak dalam satu rentang waktu yang seluruh orang-orangnya akan memandang sinis kehadiran kita, kemesraan kita….

“Persetan dengan orang bilang apa” katamu demikian sambil memeluk erat pinggangku dari belakang, membisik manja. Seolah kau mengerti kekhawatiranku tentang pertemuan ini.

“Ini bukti cinta kita dari 10 tahun lalu” katamu lagi, sambil membalikkan tubuhku tepat ke depanmu. Sosokmu masih sama, tinggi besar, hingga kau perlu sedikit menunduk untuk melihat lekat ke arah mataku.

“Tapi saat itu usiaku masih 25 tahun, tak ada yang berbeda, kita masih terpisah, kau yang sekarang pun tetap 15 tahun lebih tua dariku” Aku membalas pandanganmu… sama lekatnya saat aku memandangmu di waktu kita bertemu pertama kali.

“Percayalah, aku kehilangan aroganku saat bertemu denganmu”

“Itu juga mauku, dulunya. Seandainya kau lebih cepat mengerti saat itu” Aku membuang pandang, mengingat lagi ke masa bagaimana dulu dengan mudahnya kau meninggalkan aku dengan alasan yang aku sendiri tidak mau mengingatnya.

“Apa  saat ini masih kurang cukup lama untuk kita saling mengerti?”
Aku diam, tidak menjawab. Agak aneh memang, pembicaraan ini terlalu mendalam jika akan diteruskan di sini. Di sebuah rumah makan tua dengan ornamen antik di setiap dindingnya. Dengan posisi tatap-tatapan ala opera sabun. Aku yakin orang akan tertawa kecil dalam hatinya melihat tingkah kami saat ini.  

“Aku tidak akan dengan mudah melepasmu lagi” katamu dan mengenggam tanganku. Erat.
Aku memandangnya sekali lagi, kali ini penuh arti… Dan tersenyum.

“Ayo pesan sesuatu” kataku kemudian berlalu sambil menarik tangannya untuk duduk di meja dekat jendela. Agar bisa melihat hujan.

“Aku pesankan gado-gado kesukaanmu ya” ucapku.

“Kau masih suka kopi hitam kan? Aku mau saja sebenarnya membuatkannya untukmu. Tapi aku tak yakin rumah makan ini mengizinkan aku masuk ke dapurnya. Yah… Ku rasa mereka menyimpan naga di dalamnya” Aku mengulang percakapan yang sama seperti 10 tahun yang lalu, persis di tempat ini.

Kau tertawa kecil. Sedang aku kesal, aku tak dapat membaca pikiranmu… apa yang sedang kau tertawakan? Aku cemberut.

“Kau masih sama ya… cerewet… sok tahu… keras kepala…” katamu sambil menahan tawa.

“Ah… kalau kau masih ingin menertawakanku, aku pulang nih” ambekku


“Dan ah ya… tetap saja ngambekan. Aku merasa 10 tahun lebih muda”

“Aku pun” kali ini kami tertawa bersama.

“Kau tidak makan?” tanyanya

Aku menggeleng. “tidak lapar” ucapku.

Dia memanggil pelayan. Memesan satu teh hijau, kopi hitam dan gado-gado.

“Kau beneran tidak mau makan nih, sayang?” rayunya kepadaku.

Mukaku memerah dan aku tersenyum lebar tapi tetap menggeleng. Aku melihat pelayan itu memandang aneh ke arah kami. Ah… mungkin dia berdecak kagum saja. Sudah setua ini kami tetap mesra…

“Ya sudah itu saja mas” katanya sambil menutup dan menyerahkan menu makanan.

“Oh iya, sini sebentar” pria berambut keriting di depanku ini membisikkan sesuatu kepada pelayan. Dan kemudian si pelayan itu berlalu pergi dengan raut wajah ketakutan. Entah kenapa.

“Kau bilang apa padanya?”

“Aku bilang kau wanita spesialku” wajahnya bersemu merah. Dan aku tak berhenti tersenyum.

Dan mengalun lagu I will Always Love You di rumah makan tua itu. Ternyata dia memesan lagu yang sama saat dia melamarku saat itu.

Lalu kita bercerita banyak tentang banyak hal… tentang…Keshia.

“Pulang lah… Keshia sudah remaja sekarang” ucapmu

“Aku ingin tapi tak akan mungkin untuknya mengingat siapa aku yang sekarang”

“Dia pasti ingat… Kau ibunya”

Aku tersedak. Cangkir teh hijau, aku letakkan ke meja karena getaran dahsyat dari tanganku. Kembali aku mengingat momen pahit itu. Saat usia aku yang tak sepantasnya meninggalkan mereka atau lebih tepatnya memiliki mereka. Hanya saja aku tak sanggup… menanggung beban itu sendiri.

Aku dan Keshia. Aku yang seharusnya merawat Keshia. Aku yang seharusnya menjaganya. Aku yang seharusnya mengabaikanmu yang dahulu… yang membuatku patah asa karena  ulahmu yang masih ingin ‘bermain’ di belakangku.

“Kau jangan pergi lagi. Aku rindu. Aku tidak akan melepasmu”

Tidak terasa air mata mulai mengalir deras dari sudut mataku, mengalir ke pipi dan aku mulai terisak. Sempatku ucapkan “Aku cinta kau dan Keisha, percayalah”

Kemudian aku pamit ke kamar kecil untuk membenarkan riasan wajah alasanku. Sebenarnya aku ingin bersembunyi dari dalam sana untuk menangis sepuasnya. Timbul penyesalan 10 tahun lalu hingga kini tak kunjung usai…

Aku memandangnya dari balik tirai yang menjadi pembatas ruangan kamar mandi dan ruang makan itu. Aku rindu Keshia… Aku rindu kita…

Dia yang tidak lagi muda, wajahnya tak lagi setampan dulu. Kerutan di wajahnya, kantung matanya… Namun dengan perasaan yang masih sama. Dia masih cinta aku.

Tapi kita semua tahu… ini sudah terlambat. Percuma mengingkari waktu.

Lima jam berlalu, aku tidak kembali lagi dari kamar kecil untuk menghampirinya. Hanya bersembunyi dari balik sini mengamati kegelisahannya.

Waktu dan hari telah menggelap, dia melihat ke sekeliling. Dia tahu kali ini dia kecewa lagi… dia menyesal lagi… dia sadar akan satu hal lagi…

Dia memanggil pelayan dan bertanya, apakah melihat sosokku yang melintas keluar meninggalkan tempat ini. Aku terus mendengar percakapan mereka…

Dia terus memberi tahu ciri-ciriku, wanita yang duduk dengannya sedari siang tadi. Dia mencoba menjelaskan…

Aku menangis deras. Sekencang-kencangnya aku ingin berlari ke arahmu dan memelukmu. Menghadapinya bersama.

“Tapi bapak datang sendiri dan duduk sendirian dari tadi, pak…” ujar si pelayan yang berwajah ketakutan tadi, kemudian berlalu pergi.

 “Kau pergi lagi” bisikmu sambil terduduk lemas memandang pada rintik gerimis yang membasahi jendela. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar