Senin, 26 Maret 2012

Rumah Siapa?

Aku terseok seperti kehilangan kendali. Hak tinggi yang kukenakan membuat kakiku tak mampu lagi menopang berat tubuh dengan berjuta sesak di hati. Pikiranku bukan saja menerawang ke segala arah, aku hilang pikir, aku hilang arah. Aku mau pulang….

Bukan tidak punya rumah, bukan tak ada yang menampung. Muka lusuh, pakaian lecek yang kukenakan akan mengundang bertubi pertanyaan bagi mereka yang ku datangi. Padahal bukan itu yang aku kehendaki.

Bagaimana jika dia menawarkan aku sebuah pundak kokoh besar untuk menyangga badanku yang melemah, menyeka air mata yang turun setetes demi setetes namun tak kunjung berhenti.

Bagaimana jika dia menawarkan aku rangkulan hangat dan pelukan menenangkan, pertanda ia ingin aku ada di sampingnya dengan hati yang tentram. Ah… aku dengan sejuta khayalku…

Rumah pertama yang ingin aku datangi, dulu adalah tempat ternyaman yang sering aku datangi. Tapi, seingatku telah mengunci rapat pintunya untukku. Belagak tak mengenalku, kita dengan hidup kita masing-masing, katanya. Tak ada yang bisa aku selamatkan lagi dari ini. Hanya sebuah cerita dari masa lalu, takkan membuatku memiliki akses ke dalam rumahnya.

Paling tidak ini pertanda yang sudah teramat jelas, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana, di rumah itu. Meski aku berulang kali mengintip dari kejauhan keadaan rumah itu, di dalamnya, ia tidak lagi sendiri. Ya, bukan kehidupanku…. Bukan milikku….

Rumah kedua yang ingin aku singgahi, bahkan aku tak sempat bertandang dan memandang sudut kehidupannya begitu lekat begitu dalam, tak sempat. Aku melewatkan apa di bagian hidupnya? Aku rasa dia sudah tidak punya cukup tempat dalam rumahnya. Aku memutuskan keluar dan tidak pernah masuk untuk mengenal siapa dia. Hidupnya saja sudah terlalu sulit untuk dimengerti olehnya apalagi harus menampung bebanku. Kurasa dia tidak cukup sanggup untuk itu…

Hidupnya hanya untuknya. Terlalu sempit jika berbagi dengan yang lain.

Rumah ketiga, bukan tujuanku sebenarnya. Tak ayal penghuninya sering memaksaku untuk masuk dan bercengkrama hangat sekedar untuk minum kopi atau menemaninya mengobrol. Karena sejak awal tujuanku dengannya sudah tidak jelas, tidak ada kejelasan yang ingin kuperjelas. Tentu bukan rumah ini yang aku tuju…

Aku terlalu bosan untuk berada di tempat yang sama setiap hari. Di rumahnya yang biru kaku.

Rumah… Rumah… Rumah… Aku harus ke rumah yang mana?

Sibuk aku mencari rumah, pusing aku mencari kehangatan. Sebenarnya sedari tadi kakiku telah melangkah masuk pada sebuah rumah yang tidak terlihat pada mata. Tersadar aku telah dirangkul, dipeluk dan diberikan jaket hangat agar tidak kedinginan bahkan semenjak dari aku melangkahkan kaki keluar menapaki perjalanan hidup.

Setetes air mata jatuh bersamaan dengan tersiratnya senyum di wajahku.

Aku pulang… Aku kembali ke rumah-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar