Kamis, 13 Desember 2012

Nonton Konser Shah Rukh Khan Bersama Wardah


Yes! 8 Desember 2012, Shah Rukh Khan beneran datang ke Indonesia! Antara percaya sama enggak, tapi artis tenar asal India yang kini berusia 47 tahun sukses meraih perhatian masyarakat di tengah hebohnya dunia k-pop sekarang.

Meski Shah Rukh Khan tidak lagi di masa kejayaannya, lelaki dengan wibawa yang mempesona ini tetap dipuja oleh penggemar-penggemar setianya (khususnya para wanita ;p)

Saya memang bukanlah penggemar musik dan film India akan tetapi saya sangat tertarik dengan budaya dan tarian dari India. Seperti layaknya negara ke-tiga, India memiliki banyak budaya yang unik dan tempat-tempat yang eksotis.

Mendapat undangan dari Wardah untuk nonton bareng konser Shah Rukh Khan tentu tidak akan saya lewatkan begitu saja. Saya mengajak Tiara sebagai sumber informasi yang juga pecinta Shah Rukh Khan garis keras.

Kesempatan menonton langsung penampilan dari Shah Rukh Khan yang ditemani oleh Rani Mukhrejee, Preity Zinta dan Bipasha Basu sebagai 'angels'-nya adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Saya mengira, toh, entah kapan konser ini akan hadir lagi di Indonesia.

Tidak cuma mendapat tiket konser gratis, saya dan Tiara benar-benar mendapat hari yang sangat baik bersama Wardah.

Meski letak konser yang jauh dari Jakarta, bersma dengan para bloggers dan wartawan lainnya berkumpul terlebih dulu di fx untuk makan siang lalu berangkat bersama-sama ke Sentul City.

Lucunya, sebelum berangkat, untuk mendukung kekompakan kita dibagikan kaos bertuliskan Shah Rukh Khan, Sari dan Bindi sebagi aksesori wajib dipakai saat menonton konser nanti. Supaya lebih berbaur dengan hawa India, mungkin...



Menempuh perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam, sama sekali tidak membosankan. Di dalam bis, Wardah juga melakukan sejumlah aktivitas menghibur. Games-games lucu berhadiah paket make-up senilai 250.000 menjadi cara seru untuk mewarnai sore itu sebelum menonton konser.

Sudah pasti ini mejadi rebutan. Saya dan Tiara pantang menyerah walau bersaing dengan belasan wanita lainnya. demi make-up kami rela mati. Hehehe :p

Perjuangan saya tidak sia-sia, walaupun muka memerah menahan malu karena berjoget ala India di tengah bis bersama dua pejuang lainnya, saya pun mendapat satu paket make up tersebut. Paket yang berisikan bedak, lipstick, foundation, body butter dan parfume kini mendarat nyaman di tangan saya.

Produk dari kosmetik berlabelkan halal yang paling saya senangi ini adalah lipsticknya. Teksturnya yang lembut di bibir belum pernah saya temui dari kosmetik manapun.

Sesampainya di tempat konser yang habis diguyur oleh hujan tentunya menambah kesan romantis, momen saya bertemu dengan Shah Rukh Khan. Sentul City tak ubahnya bagai sebuah India kecil bagi saya sore hari itu.

Sedikit mengecewakan saat tahu, konser yang belum dipersiapkan secara matang oleh promotor ini membuat saya dan ribuan penonton lainnya mesti menunggu hingga pintu dibuka jam 8 malam. Padahal menurut jadwal, acara sudah harus dimulai pada pukul tersebut.

Sudah berjam-jam menunggu, akhirnya kami masuk ke area konser. Satu per satu para artis India mulai menampilkan kebolehan menarinya masing-masing. Memang, sebagian besar penampilan adalah lip sing performance dan saya maklum.

Dibuka oleh Bipasha Basu, penonton teriak-teriak. lalu dlanjutkan oleh Preity Zinta, penonton tak hentinya berteriak. Saya tidak terlalu mengenal mereka (kecuali Shah Rukh Khan), alhasil saya senyum dan tertawa saat melihat sedari tadi teman saya, Tiara paling kenceng berteriak.

Saya tanya ke Tiara, "Kok semua orang pada teriak sama Preity Zinta? Emang fansnya banyak?"

"Wah yang ini masih belum, fansnya Rani Mukhrejee lebih 'hardcore' lagi"

Benar saja, saat Rani Mukhrejee tampil hampir semua orang berdiri dari tempat duduk untuk menyambutnya. Tetapi para 'angels' ini masih belum sebanding dengan fans-fans dari Shah Rukh Khan.

Meski tata panggung yang kurang menarik dan layar yang dominan berwarna kuning di kanan-kiri panggung, fan service dari raja Bollywood ini cukup terbilang mengagumkan. Aktivitas yang tak hanya menyanyi dan menari menghiasi dari awal hingga akhir penampilannya.

Konser ini ditutup dengan arak-arakan ala India yang berdiri di atas mobil (level yang lebih tinggi) untuk membagi-bagikan souvenir kepada penggemar diikuti oleh seluruh pendukung acara yang terlibat.

So far, penampilannya cukup memuaskan tapi saya kurang menikmati konser karena persiapan yang tidak cukup matang membuat konser sampai diundur.

Anw, selamat ulang tahun, Manooj Punjabi. :p

Rabu, 18 Juli 2012

Kisah Kereta di Jam 7 Pagi


Jika ingin menikmati perjalanan, jangan coba-coba naik kereta sekitar jam 7-8 pagi. Hiruk pikuk di transportasi yang mengangkut warga ke pusat Jakarta sebagai tempat mengadu nasib, tampak tumpah ruah di jam-jam sibuk seperti ini.

Senin pagi, saya tiba pukul 7.05 di Stasiun Tanjung Barat dan seperti biasa saya menaiki kereta jurusan Tanah Abang. Sudah lama tak berangkat sepagi ini dikarenakan libur kuliah, saya kehilangan sebagian aktivitas namun dapat membuat saya lebih menyesuaikan waktu di kantor (baca: masuk siang). Bosan keseringan berangkat siang, hari itu saya semangat menyisiri kota Jakarta lebih pagi, meski tingkat kepadatan sepertinya meningkat 200% dibanding hari-hari lainnya.

Sudah banyak yang menunggu di peron stasiun, dengan bermacam tujuan, aktivitas dan pikiran di dalam otaknya masing-masing. Saya tidak bisa membaca pikiran, tapi semua orang dewasa yang akan bekerja, yang akan menuju kantornya pastilah sedang terburu-buru. Mengejar waktu, menaiki kereta tercepat yang didapat.

Kereta dengan tujuan Tanah Abang belum tiba sesaat sesampainya saya di stasiun. Kereta dengan tujuan Jakarta Kota lah yang lebih dahulu sampai, lalu diikuti kereta tujuan Tanah Abang dibelakangnya. 
Di sebelah saya berdiri seorang ibu berpakaian kantoran bersama temannya yang sedang bercakap-cakap. Mereka tampak bahagia, tak sedikitpun tersirat wajah ngeri akan kepadatan seperti apa yang dihadapi nantinya, mereka sudah terbiasa, terlatih, mahir dan memilki trik-trik khusus dalam naik kereta di jam-jam padat. Bahkan dia sempat, berkata dengan petugas kereta:

“Mas, nanti bantu dorong ya,” ujarnya dengan gerak tubuh seperti mendorong sambil tersenyum kecil

Entah apa maksudnya, saya belum mengerti dorongan seperti apa yang dia maksud. Ah kita lihat saja lah nanti, rasa penasaran saya memburu sambil terus memperhatikan gerak-gerik si ibu.

Sekitar 10 Menit berselang, kereta yang akan saya tumpangi pun tiba.

Sempat hanya melirik ke dalam dan saya kemudian membandingkan isi manusia di dalam kereta Jakarta Kota yang tak ada bedanya kereta dengan tujuan Tanah Abang yang akan saya naiki, padatnya sama-sama tingkat dewa. Parah!

Tersirat keinginan mengurungkan niat menaiki kereta yang saat ini ada di depan mata saya. Benar-benar tak ada celah sedikitpun. Melalui pertimbangan akan jumlah kereta Tanah Abang yang  jauh lebih sedikit dibanding ke Jakarta Kota, saya pasrah melangkah masuk, terdorong-dorong, berkumpul dengan penumpang lainnya yang senasib menjadi ikan pepes di dalam gerbong wanita.

Membuktikan argumen saya bahwa ibu yang tadi berdiri tepat di samping adalah orang yang berpengalaman, rasa penasaran saya terbayar. Mereka dibantu didorong oleh petugas untuk masuk ke dalam kereta yang sudah penuh tanpa celah tersebut. Didorong terus, terus dan terus hingga si ibu dan temannya muat masuk ke dalam dan pintu pun tertutup. Hahaha, ada-ada saja usaha orang untuk menumpang kereta.

Semua orang rela menahan perut, menahan nafas, menguruskan badan sesaat. Ya! Semua orang di dalam kereta jam padat tengah berjuang. Perjuangan dimulai di hari yang sepagi itu. Naik kereta  pun membuat  mereka harus bersaing, tak jarang bahkan di antara mereka yang sengaja tak sengaja saling sikut menyikut di dalam kereta. 

Yang sudah paham dengan kehidupan di kereta, mungkin akan pasrah dan membiarkannya berlalu, berbeda dengan yang berakal pendek, pantang disulut, ada yang akan  mencari masalah,  dia akan meladeni keributan meski di keramaian kereta. Namun biasanya mereka yang berkelahi akan disambut dengan sorakan dari seluruh penumpang di gerbong tersebut.

Syukur, tak ada keributan di kereta yang saya tumpangi pagi itu. Melewati stasiun demi stasiun, Pasar Minggu, Pasar Minggu baru, Duren Kalibata dan Cawang, penumpang terus bertambah, tak imbang dengan penumpang yang keluar. 

Perjuangan mempertahankan posisi berdiri pun menjadi satu-satunya hal yang saya perhatikan saat itu. Saat kereta berjalan tersendat-sendat, menjaga diri agar tidak terjatuh bukanlah hal utama yang saya pikirkan di kereta padat tanpa celah seperti pagi itu, saya bahkan tidak memiliki ruang untuk menggerakkan tangan kaki. Saya hanya menjaga agar saya tidak mati tergencat kehabisan nafas di tengah lautan manusia ini. Itu saja.

Namun, begitu kereta berhenti sampai di Stasiun Tebet. Perjuangan  lainnya pun dimulai lagi, saya harus berjuang agar saya tidak terikut arus penumpang yang  hendak turun atau sekadar mengubah posisi diri ke dekat pintu agar lebih mudah turun di stasiun Manggarai

Berapa banyak yang turun di Tebet? Ratusan. Lebih.

Seperti layaknya separuh warga Indonesia adalah penduduk Tebet, kerja di Tebet, nongkrong di Tebet dan hidup untuk Tebet.  Kereta tampak lebih lengang sesaat setelah menurunkan penumpang jurusan Tebet. Populasi kepadatan penduduk Tebet membuat saya berdecak kagum dan heran.

Mungkin tak ada masalah dengan sebagian penumpang lainnya yang (juga tak kalah banyak) turun di Manggarai atau Sudirman. Manggarai, sebagai pusat alih arus KA, pusat perpindahan penumpang yang ingin ke Tanah Abang yang semula naik Commuter jurusan Kota akan pindah dan begitu pula sebaliknya. Sedangkan di Sudirman, di sinilah 7/8 manusia yang tersisa di dalam kereta akan bermuara, di pusat Jakarta, jantung kota.

Sebelum kereta tiba di Stasiun Sudirman, sayup-sayup saya mendengar suara microphone diketuk-ketuk disertai bunyi deheman dari speaker kereta yang biasanya digunakan untuk meginformasikan nama stasiun yang akan dituju selanjutnya. Saya ingat betul, sedari tadi tak ada informasi serupa. Sudah cukup telat saya kira untuk memberitahukan (atau tiba-tiba mengingatkan) bahwa stasiun selanjutnya adalah Stasiun Sudirman. Semua orang sudah tau toh.

Lalu masinis pun mengeluarkan suara:

“Good Morning….” Katanya dengan nada penuh ceria, menimbulkan semburat senyum di wajah saya. Melihat ke samping saya, orang di sebelah juga tersenyum kecil mendengar hal yang sama.
“Sesaat lagi kita akan mencapai stasiun sudirman. Penumpang yang akan turun, diharapkan segera mempersiapkan diri. Perhatikan barang bawaan Anda seperti tas, laptop dan handphone jangan sampai ada yang ketinggalan. Hati-hati melangkah, selamat bekerja dan sampai bertemu kembali”

Belum puas menyerocos, masinisnya kembali menambahkan

“Dan… hati-hati,” kali ini dia mengulang kata-kata tersebut dengan nada seperti Jeremy Tety.  Seketika suasana menjadi sedikit riuh di gerbong wanita paling depan ini. Mereka berbisik-bisik terkikik. Tak bisa bohong, segaris senyum tipis terlukis mewarnai wajah setiap perumpang yang turun di Stasiun Sudirman dan sejumlah penumpang yang tersisa lainnya

Keadaan kereta tentu jauh lebih lengang lagi saat kereta telah menurunkan sebagian besar penumpangnya di Sudirman. Seharusnya saya turun di sana, berjuang mempercepat langkah ,memburu barisan paling depan agar bisa ke luar dengan selamat, sebelum pintu ditutup.

Aaa! Tapi tidak, saya mohon ampun.  Saya lelah berjuang dengan jalan yang sama dengan 7/8 isi penumpang dari kereta yang saya naiki. Sudah terlintas bayangan di kepala saya, kami akan melewati jalan yang sama, eskalator yang sama, pintu keluar yang sama dengan berdesak-desakan, saling sikut ingin cepat, ingin mendahului berjuang lagi untuk… menaiki Kopaja 19. Siapa cepat dia dapat, yang tangguh tentu mendapatkan tempat duduk yang nyaman, sedangkan yang lainnya bernasib sama seperti penumpang kereta tadi. Berdiri berdesakan.

Tidak, saya mohon ampun untuk kali ini. Saya tidak akan melewati hal yang sama lagi. Untungnya pengalaman pernah tersasar ke Stasiun Karet mengajarkan saya lebih tahu sedikit jalan pilihan. Saya turun di stasiun Karet, memilih menjalani jalan yang berbeda dengan mereka yang melintas jalan raya Sudirman. 

Tiba pukul 8 di Karet, saya sudah merasa menang hari itu dengan segenap kesabaran atas kerepotan yang terjadi  di balik penderitaan sepatu hak tinggi dan kereta yang padat. Saya melangkah dengan bahagia, keluar dari stasiun Sudirman. Tapi sepertinya takdir menjawab lain pada saya pagi ini. 

Tentu seperti biasa saya mendapat kursi yang nyaman di Kopaja 615 menuju Senayan, tempat kantor saya terletak. Namun, tak ada yang menyangka, kawasan Karet yang biasanya lancar, pagi itu harus diwarnai dengan kemacetan dikarenakan adanya kebakaran di jalan tol. 

Sial! Saya terjebak selama satu jam di dalam kopaja tanpa buku dan bermandikan sinar matahari yang mulai terik dengan sempurna di atas kepala.

Kamis, 05 Juli 2012

Buku yang asik dibaca saat perjalanan


Berdasarkan pengalaman pribadi dan referensi selera diri sendiri, saya memberikan 3 buku yang asik dibaca saat melakukan perjalanan.
 
Perjalanannya naik apa dan ke mana? Entahlah, mungkin sedang menumpang kereta, bepergian dengan mobil pribadi (sebagai penumpang) atau sekadar membuang  waktu untuk menunggu pesawat yang hendak bertolak ke suatu tempat yang biasanya tak menghabiskan terlalu banyak waktu.

Karena apa? Ya, jika perjalanannya menghabiskan waktu lebih dari 2 jam, saya yakin dan amat sangat yakin akan memakan sebagian besar waktu untuk… tidur.  

Untuk tidur yang tak ada cukupnya itu.

Sebisa mungkin saya mencari buku yang tipis dan cepat selesai. Upaya ini ditujukan agar saat saya dapat  membaca seluruh bagian cerita tanpa harus penasaran dan terbayang kelanjutan cerita yang membuat rasa penasaran saya memuncak seperti ingin membunuh diri sendiri (tapi bohong).

Jadi buku-buku apa sajakah itu?

Malaikat juga tahu, KumCer lah juaranya 

1. Madre
Siapa tak mengenal Dewi ‘Dee’ Lestari, kumcer terbarunya Madre, beragam kisah unik yang terbungkus dalam kata-kata khas seorang Dee. Banyak hal yang dapat kita pelajari dari buku ini (kumcer ini). Perjalanan, hidup, kebebasan dan hakikat kita sebagai manusia. Sebuah kisah ringan tapi seluruhnya dapat menyentuh sanubari hingga ke relung hati. Hihi
  
2. Perempuan dan 14 Laki-laki
Untuk pecinta fiksi dengan imajinasi liar dan gila. Buku ini menunjukkan bagaimana apiknya Djenar Maesa Ayu sebagai 1 perempuan yang berhasil ‘mengeroyok’ 14 sahabat-sahabat laki-lakinya. Masing-masing cerita memiliki identitas yang berbeda-beda.

3. Robohnya Surau Kami
Klasik ya? Haha.Coba ingat lagi ini cerita yang paling wajib di buku sekolah dasar milikmu. Tak ada salahnya mengulang waktu, dan memahami bahasa yang tersirat maupun tersurat di dalamnya. Sebuah pengalaman yang tak kalah menarik saat fantasi kita terbang ke masa lampau.

Selamat membaca, kawan!

Selasa, 26 Juni 2012

Cerita di Balik Puisi Ananda


Siapa yang mengira nantinya aku dapat berdiri dengan bangga, setengah tidak percaya di depan ribuan murid di sekolahku, SMA Harapan, SMA swasta terbaik di kotaku ini. Semuanya juga setengah tidak percaya, di hadapan teman-temanku disertai mata berbinar penuh harapan dari guru-guruku, terutama Pak Alex, pembimbingku, pembawa arah masa depanku saat memanggil namaku, menyuruhku naik ke atas podium.

Aku menitikkan air mata. Aku tidak pernah merasa sebahagia dan seberguna ini. Ya, paling tidak sehari sebelum hari ini, sehari sebelum diumumkannya pemenang lomba puisi online tingkat SMA se-Indonesia, kemarin. 

Cukup mudah bagi orang lain, mungkin. Mengarang kata-kata, membawakan perasaan dan larut dalam setiap jiwa dari dalam puisi tersebut. Tapi tidak untukku, menulis bukan hal yang mudah, apalagi harus unjuk gigi sampai sejauh ini.

Aku bukanlah juara kelas, juga bukan anak yang berprestasi. Aku juga tidak menaruh minat pada puisi, sebelum pada akhirnya aku mengenal alunan kata-kata indah itu lebih jauh, tiga bulan yang lalu.

Satu-satunya kelas dengan nilai sempurna adalah kelas bahasa yang diambil alih oleh Pak Joy setelah Bu Martha berhenti mengajar karena harus pindah ke luar kota, ikut suami. Mereka adalah idolaku, kemampuannya menelaah bahasa, mengingat sejumlah pengarang asing sebagai bahan referensi bacaan kami ketika liburan adalah hal terkeren yang pernah aku temui, terlebih lagi Pak Alex, dia lebih atraktif.
Tapi tetap saja keberadaanku tidak pernah diperhitungkan. Antara ada dan tiada.

Dan aku tidak protes. Memang beginilah aku.

Kelebihanku hanya senang membaca buku, tanpa penah memberi kesempatan pada potensi dalam diriku. Temanku hanyalah buku, dan beberapa orang yang terkadang menanyai kabarku jika aku tidak masuk sekolah, Sophie dan Robby. Kupikir mereka yang paling perhatian

Kami pun sama gilanya. Berkutat dalam buku, menghabiskan seluruh waktu istirahat di perpus dan terkadang kami tertawa saat berbagi kutipan-kutipan lucu yang didapat dari buku yang kami baca. Hal yang paling menyenangkan buatku dan (kurasa) kedua temanku.

Anehnya, kami bisa berjam-jam membahas tentang pengarang novel dengan kehidupan pribadinya atau bisa juga dengan kekasih gelapnya, seperti Hemingway dan Gelhorn. Itu yang membuat kami berbeda, tak heran jika teman-teman kami lainnya menyebut kami sebagai Trio Kutu Buku. Kami menjadi sedikit pendiam dan tersisih sebenarnya.

Dan hari ini, merekalah yang paling meriah bertepuk tangan mengiringi langkahku saat aku menapakkan kaki satu demi satu menuju podium.

Aku telah tiba di sini, di podium, di hadapan ribuan pasang mata yang menyorot ke arahku. Aku bingung akan berkata apa. Aku hanya merasa lebih diperhitungkan saat ini. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur dan aku yakin aku akan menguarkan suara yang bergetar, itu tidak bisa disembunyikan.

Aku mengawali pidato singkatku dan kuharap ini benar-benar singkat. Aku malu bercampur aduk dengan sejuta perasaan lainnya di atas sini

“Selamat pagi” sapaku di Senin pagi hari yang cerah, menjemur semua murid di tengah lapangan.

“Upacara hari ini menjadi sesuatu yang spesial buatku setelah hampir mencapai 3 tahun bersekolah di sini”

Sementara bibirku terus berbicara tentang segala macam hal yang mereka ingin tahu dariku.
…pikiranku menerawang. Ke tiga bulan yang lalu, Ke masa ketika cerita ini dimulai.
Sebuah rahasia yang tak akan aku ungkap bahkan di media sosial sekalipun

Rabu pagi, kelas bahasa, kelas favoritku sepanjang masa.
Lelaki bertubuh gagah setinggi lebih dari 170cm, berkacamata dan membawa dua buah buku di genggamannya, bergegas memasuki kelas. Mari kutebak umurnya, sekitar 28 tahun kah? Atau mungkin 33? Ah, yang jelas dia tampak lebih muda untuk seusianya, begitulah kesan pertamaku.

Dia menuliskan namanya di papan tulis.

“Christian Alexander” dia mengeja kembali nama yang telah ditulisnya.

“Kalian boleh memanggil saya Pak Chris atau Pak Alex. Dua nama yang cukup berbeda. Jika kalian menyebutkannya satu per satu seperti: Chris dan Alex. Maka kedengarannya kalian seperti memanggil dua orang kan?” lalu dia tertawa kecil, sendirian sementara kami tetap mematung.

“Bukan nama yang serasi menurutku” dia kembali melanjutkan guyonannya.Dan tetap tidak berhasil. Kami tetap membisu.

“Well, kalian boleh memanggil saya apa saja” ujarnya berusaha mencairkan suasana. Anak-anak dalam kelas mulai berisik, gaduh dan sepertinya telah dapat membaca bahwa dia adalah guru yang payah.

Lelaki berkemeja biru pucat dengan garis-garis putih tipis horizontal itu menghela nafas. Tampaknya dia menunjukkan gelagat grogi atau mungkin ini pengalaman pertamanya mengajar. Dia memandang sekeliling kelas, mata kami beradu, mataku dan guru kelas bahasa itu. Dia seperti kehilangan akal.

Dia berdiri tepat di depan mejaku, meja dengan barisan paling depan di kelas ini. Aku angkat bicara, setengah berbisik, mungkin hanya aku, sophie -teman sebangkuku-, dan dia saja yang mendengar. Yah, memang itu maksudku.

“Saya lebih senang memanggil Anda dengan Pak Alex” kataku sambil menatap mata di balik kacamatanya yang kusadari ternayat itu berwarna cokelat muda. Indah sekali.

Dia menoleh padaku dan tersenyum manis sehingga menunjukkan lesung yang dalam d sebelah kiri pipinya.

 “Siapa namamu?” tanyanya.

 “Ananada, saya biasa dipanggil ‘Anda’, maksudku benar-benar Anda untuk  sebuah nama. Bukan Anda untuk panggilan kamu atau kau dalam arti sebenarnya. Yeah, seperti bapak tahu aku juga memiliki kesulitan dalam menjelaskan nama sepertimu”

Kami tertawa kecil dan Sophie juga ikut tertawa. Begitulah awal mula aku bercakap-cakap dengannya.
Dia mengawali kelasnya dengan puisi. Tak hanya menyuruh kami nantinya satu per satu membacakan puisi yang telah kami buat, tapi dia juga terlebih dahulu telah membacakan puisi karangan mendadaknya di depan kelas dengan aksen menawannya

Giliranku, aku tak suka puisi. Aku tak bisa membuat puisi dan aku mulai frustasi, kulihat di sekeliling temanku sudah mulai mengerjakan puisinya. Aku memandang ke arahnya, Pak Alex. Di meja guru, dia membaca satu buku karangan Pramoedya Ananta Toer, yang telah aku baca sebelumnya.

Ada yang berbeda dengan Pak Alex, sekonyong-konyong hatiku ikut berdebar saat aku mencuri pandang padanya. Ribuan kata terjalin dengan indah di dalam otakku. Puisi pertama yang kutuliskan lahir untuknya, puisi untuk cinta.

Aku mengehela nafas dan kembali sadar bahwa aku harus menyudahi pidato yang kuharap singkat itu.

“Sekali lagi aku berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungku” ujarku mengakhiri kegembiraan pagi ini yang disertai dengan riuhnya tepuk tangan.

Aku melangkah turun dengan perlahan dan menatap (tak berkesudahan) ke arah Pak Alex yang bertepuk tangan tak kalah heboh di deretan guru-guru lainnya.

Untuk Pak Alex yang membangkitkan semangatku. Semoga aku tetap menjadi murid favoritmu.

Senin, 18 Juni 2012

555 = HaHaHa

Well, sebenarnya saya cukup senang saat mendapati salah satu akun Twitter yang berisikan info tentang Thailand dan juga bahasanya. Sedikit banyaknya, saya tertarik dengan akun ini dan memutuskan untuk memencet tombol following.

Ada satu hal baru yang saya dapatkan dari akun ini. Saat itu, saya tengah membaca percakapannya dengan followers akun ini yang bertanya tentang arti 555.

Reka ulang kejadiannya digambarkan seperti ini, salah seorang teman dari followers akun pecinta Thailand tersebut, bertanya langsung pada mereka, apa arti dari 555 karena dia sering melihat temannya sering menggunakan angka tersebut di akhir tweetnya. Namun sialnya, temannya malah tak memberi tahu artinya.

Bertanya sendiri dengan akun ini pun pilihan yang salah. Bukannya dijawab, malah diberi angka 55555 (lagi). Setelah cukup puas menertawakan (mungkin) akhirnya akun ini menjawab bahwa arti dari 555 di sini adalah hahaha. Bingung? Saya pun begitu

Jadi, ternyata, di sana penyebutan untuk angka 5 adalah Ha. Sehingga kalau 5555 adalah HaHaHaHa.

Tak puas dengan penjelasannya sampai di situ, saya pun bertanya melaui Twitter:

Saya: Wow baru tau kalo 5 dibacanya ha, 555 jadi hahaha. Tp apakah dengan itu 555 sama artinya dgn 'hahaha' atau 'lol' di sini?

Akun itu: iya 5555 jadi hahahaha ketawa disini :)

Saya: Tapi kalo di sana enggak kan? Artinya tetap 555 walaupun dibaca hahaha? Jadi kalo mereka ketawa gimana dong? #banyaknanya :))

Tapi gak dijawab lagi sama mereka. Huh!

Lah kan saya emang ga tau artinya dan saya masi bingung. Pengen belajar maksudnya gitu daripada udah digunakan taunya salah kan malu, ceu.

Yah mungkin sayanya juga yang terlalu banyak nanya. Akhirnya mencari tahu dengan mesin pencarian sakti yang kita sebut Google, dengan keyword: 555 Hahaha.

MUNCUL!

Terjawablah semua misteri itu. Saya mendapat jawaban itu (di mana lagi kalo bukan...) di Yahoo! Answer. Benar ternyata kalo di sana penyebutan 5 adalah Ha.

Semacam bahasa prokem, penggunaan 555 juga dipakai oleh orang Asia khususnya orang Thailand sendiri untuk menuliskan/melukiskan hahaha saat sedang chatting dengan orang.

Mari kita contohkan, misalkan:

X: Hei! Gue kemarin kepleset kulit pisang depan kelas
Y: 5555555 ---> yang artinya  "HaHaHaHaHaHaHa" atau "Ketawa sampe guling-guling di tanah" (becanda)

Yah intinya begitu. 555 adalah Hahaha di sana.

Penggunaannya sedikit aneh bagi kita dan juga orang-orang normal lainnya. Apalagi digunakan untuk orang yang tidak mengerti 555 = Hahaha. Mesti repot menjelaskannya lagi.

Jadi ngapain pula harus repot-repot menggunakan 555 yang jelas-jelas membutuhkan waktu ekstra untuk menjelaskan sedangkan pengucapannya sama dengan hahaha.

Mungkin bagi orang Thailand ini dapat menyingkat waktu dan kata. Tapi tidak dengan kita. Yah, hanya sebagian dari kita saja yang terlalu kreatif menggunakan hal tersebut.

5555555555555555555555555555555555555.

Jumat, 01 Juni 2012

9 Sambilan Mahasiswa

Tinggal jauh dari orang tua. Menghadapi kerasnya gaya hidup di ibukota membuat kita harus pintar-pintar cari rezeki tambahan. Berharap subsidi ibu dan bapak di kampung, tak akan membuat kita bertahan hidup, sob...

1. Online shop
Sebagai mahasiswa, ini adalah kegiatan yang paling mudah dikerjakan sambil berkuliah. Kamu bisa berjualan apa saja mulai dari baju, sepatu, handphone, jasa reperasi laptop hingga ke jualan akun dota. Asalkan bisa menghasilkan duit... dan iPad. :p

2. Jualan di kelas
Kamu akan menjadi orang yang paling dicari di kampus sekaligus paling dihindari. Ketika calon pembeli merasa membutuhkan kamu maka dia akan mencari kamu hingga ke antero jagad raya. Tapi kalau dia belum melunasi hutang pulsa denganmu, kurasa dia tidak akan masuk kuliah selama seminggu agar tidak ditagih.

3. Joki kelas
Teman kamu adalah orang sibuk. Jadwal syutingnya sedang kejar tayang dan kamu adalah orang yang awalnya berbaik hati menawarkan diri untuk mengabsenkannya di kelas yang jatah absen miliknya telah habis. Namun ternyata, dia malah menawarkan sejumlah uang.

OK, jangan tolak uangnya...

4. Calo tiket
Manfaatkan kedatangan artis mancanegara dengan menjual tiketnya. Kamu hanya perlu modal dan sedikit energi untuk kuat mengantri selama berjam-jam saat tiket konser, (presale 1 dengan potongan harga yang jauh lebih murah dari aslinya) dijual. beli 5-10 tiket. Ketika permintaan membludak, jual tiketnya di forum online itu dengan harga yang standar (atau 2x lipat). Mantep kan tuh...

5. Model online shop
Alasan pada awalnya sih kamu ingin bantu-bantu temen. Dari yang dibayar hanya dengan nasi kotak untuk makan siang dan jangan lupa untuk mulai pasang-pasang tarif saat kamu mulai terkenal. Siapa tau kan kamu bisa jadi model professional... siapa tau lho.

6. Kuis hunter
Daripada begadang gak jelas dan galau mikirin pacar kamu yang mikirin mantannya yang lebih kaya. Ada baiknya kamu browsing, cari-cari info kuis berhadiah jutaan rupiah + rumah + mobil. Mungkin Dewi Fortuna sedang berpihak padamu dan tanpa disangka kamu menjadi milyuner. Dijamin pacar kamu gak akan mikirin mantannya lagi deh.

7. Penonton bayaran
Kamu harus punya koneksi 'orang dalam' di stasiun televisi atau paling tidak kamu harus punya teman yang punya koneksi 'orang dalam' tersebut atau temannya teman yang punya... (ah sudahlah ribet). Intinya saat kamu menjadi mahasiswa, ada saatnya kamu mendapat informasi yang menawarkan kamu pada pekerjaan ini. Tidak harus melakukan goyangan sehina penonton di acara musik pagi hari di televisi nasional itu. Masih banyak yang lain kok.

8. SPG-an
Merasa punya tampang yang menarik dan punya skill 'menjual'. Silahkan jadi SPG. Gak dosa kok, asal yang bener-bener aja, inget ibu, bapak, adek dan nenek di kampung. Kasian kan udah dikuliahin mahal-mahal, malah bikin kuliah keteteran.

9. Spesialis cari pacar kaya.
Gak perlu capek-capek, Gak perlu pusing nyari kerjaan tambahan. Bermodalkan cinta dan drama, kamu cukup tebar pesona senyumin sama mahasiswa kaya yang kuliahnya naik Ferrari ke kampus. Dijamin hidup kamu aman sentosa, bahagia selamanya kayak Cinderella.

4 Tanda Menyebalkan Ketika 'Mau Dapet'

1. Marah-marah
Sepertinya ini adalah saat yang tepat buat kamu untuk sebal dan membenci semua orang. Ketika teman kamu sedang berlaku sedikit aneh, itu akan merusak moodmu. Dan ketika seseorang bertanya tentang keadaanmu, serta merta kamu akan menjawab "bukan urusanmu" sambil menunjukkan muka ketusmu.

2. Menangis
Tidak perlu alasan yang tepat untuk menangis. Ketika kamu (dan saya) sedang di bawah pengaruh masa akan menstruasi, kita bisa menangis tanpa sebab. Jangan tanya mengapa, karena hal ini akan berdampak pada poin no. 1. "Kalian akan merusak moodku"

3. Konspirasi Dunia
Setelah marah-marah karena sebal dengan semua orang dan menangis tanpa sebab, kamu akan merasa bahwa dunia tidak adil, semua orang bersekongkol ingin menjatuhkanmu dan kamu akan merasa menjadi orang yang paling hina yang sedang berada pada status manusia yang paling rendah. "Tak ada yang peduli padaku"

4. Nungging manja
Kontraksi yang terjadi begitu hebatnya di dalam perut kamu, membuat kamu merasa berhak mendapat perhatian lebih. Selain menungging, untuk menghilangkan rasa sakitnya, satu-satunya yang membuat kamu nyaman adalah bermanja.

Masalahnya, dengan siapa kamu akan bermanja? Jika pertanyaan ini tidak bisa terjawab, maka kamu akan menimbulkan masalah baru dan di saat itu pula kamu akan bertingkah seperti "Plis siapa saja, manjakan aku"

Abang Angkot yang Budiman


Saya sudah menghabiskan waktu lebih dari setengah jam hanya untuk menunggu giliran lampu merah, dari dalam angkot. Macet yang biasa terjadi dari depan kontrakan menuju jalan raya Pasar Minggu.

Biasanya, jika tidak macet waktu yang dibutuhkan hanya 10 menit naik angkot dan 5 menit naik ojek.

Tak ada pilihan pagi itu, berangkat jam 9 dan keinginan sampai lebih awal membuat saya mengambil keputusan naik angkot tersebut dan menyambungnya naik metro mini untuk sampai di kantor. Tapi hal yang paling mendesak adalah karena itu adalah alternative termurah berhubung saya sedang ngirit.

OK! Macetnya luar biasaaa…

“Ya, ini biasa terjadi” kata saya dalam hati menyabarkan diri sendiri. Jam 7-10 pagi adalah jam-jamnya macet di Kalibata. Beberapa yang tidak tahan akan keluar dari angkot atau momen yang paling parah adalah ketika si abang supir angkot yang tidak sabaran menyerobot jalan dari arah arus sebaliknya yang terkadang kosong.

Tapi abang yang satu ini berbeda…

Di dalam, sedari tadi kami menanti dengan sabar, menaati aturan. Tak menyerobot dan cenderung pasrah. Si abang bahkan sempat membeli telur rebus dan emping goreng di warung soto di jalan yang kami lintasi. Dia tampak begitu menikmati perjalanannya. Yah, sepertinya….

Tiba-tiba pemandangan yang biasa terjadi melintas di depan mata kami. Salah satu angkot bernomor dan berjenis sama dari arah  belakang menyerobot jalan dari arah arus balik.

Salah satu penumpang, menyeletuk

“Nah bang itu die jalan sebelah sana, bang”

Si abang menjawab.

“Ye biarin aje, ntar kan kalo kite ikutan, ditrangkap polisi, kan berabe”

Tak peduli sebenarnya dengan jawaban si abang yang ngeles itu tapi dengan dia tidak tergoda untuk ikutan angkot lain itu, seketika saya ingin standing applause.

Kamis, 24 Mei 2012

Kehidupan yang Semakin Jelas

3 Tahun telah berlalu, sebentar lagi waktunya berpisah dengan teman-teman kuliah gue. Beberapa dari mereka tentu sudah ada yang menentukan jalan hidupnya, mau seperti apa, siapa dan bagaimana mereka nanti semuanya sudah terlihat semakin jelas...

Mungkin di awal kuliah, gue, mereka dan kita masih bingung seperti apa tujuan kita nantinya. Ikutan kegiatan sana-sini, mencari identitas.

Hingga pada akhirnya, bahkan sebelum semester ini berakhir. Kita sudah terlihat memiliki kesibukan masing-masing sesuai dengan minatnya, sesuai dengan karir yang ingin ditempuhnya. Seperti gue yang mencari pengalaman dengan magang sana-sini.

Gue menyadari hal ini setelah kemarin saat yang tidak disengaja bertanya pada temen gue, Lani.

Gue: Eh, gue nanti ikutan workshop jurnalistik lho.
Lani: Eh, gue ikutan seminar entrepreunership, lo mau ikutan gak?
Gue: lah kan gue ikutan worksh op jurnalistik
Gue dan Lani: *tertawa*
Lani: Wah, kita semakin jelas yah keliatan minat-minatnya apa

Ya, inilah kehidupan yang semakin jelas itu. Selamat datang, teman...

Ps: Lani ini yang kemarin pas ulang tahun gue ngasi dream catcher. Hihihihi. Tau aja dia, gue mupeng abis sama dream catcher. Thank you, Lani...

Dream catcher yang dipajang di mejaku. :D

Sensasi Kamera Lubang Jarum

Senin siang, saya dan teman sekantor, Gege, mengalahkan teriknya panas matahari demi mendapat konten untuk Beranda Komunitas di Yahoo! Indonesia, tentunya... ;p

Awalnya, saya hanya mewawancarai lewat telepon berdiskusi tentang Komunitas Lubang Jarum yang dibuat oleh Ray Bachtiar. Sampai akhirnya mas Ray berkata, mbak harus rasakan sendiri bagaimana caranya membuat kamera.

Manggarai, tidak sedikit mengurangi sedikitpun volume panasnya siang itu. Saya pun tak mau menyerah, meski Gege sudah ngos-ngosan karena dipaksa jalan dari stasiun ke jalan Pariaman (yang katanya deket) padahal menurut Gege ini sama sekali koloborasi ga nyantai antara matahari dan jalanan.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan saat saya telah tiba di depan rumah mas Ray. Rumahnya tampak begitu asri dengan beberapa tanaman hijau di halaman depan, batu bata merahnya sebagai pagar juga menambah kesan rumah 'seniman' banget.

Benar saja, setelah dipersilahkan masuk. Rumah yang merangkap sebagai kantor tersebut benar-benar membuat saya dan Gege merasa betah.

Setelah bercakap-cakap dengan mas ray, tentang kamera lubang jarum dan fotografi. Saya dan Gege melakukan 'tugas', tidak ini keseruan...

Membuat kamera lubang jarum luar biasa seru. Benar kata mas ray, prosesnya tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Bagaiman awal pembuatan kamera, hunting foto (saya sempat jadi model lho.. :P) hingga ke tahap pencetakan foto.



Saya menjadi model dari kamera lubang jarum. Fotografer: Damar

Proses pengambilan foto menggunakan kamera lubang jarum. Foto: KLJI
Proses mencetak foto di kamar gelap. Foto: KLJI
Foto pun akhirnya dijemur. Foto: KLJI

Ini loh hasil dari kamera KLJ-ku. Foto: KLJI



Wohooooo, saat foto tersebut dicuci di kamar galap, saat gambar itu mulai muncul dan melekat sempurna pada kertas ah.. ah.. ah.. cant say it by words. Kamu harus coba sendiri

Ah, Mengenal komunitas itu seru...

Note: Kita pulangnya naik taksi, intern (pura-pura) kaya :))

Motor Dilarang Parkir Di Sini




Foto ini saya ambil sepulang kuliah, pada 10 Mei 2012 di Gedung B Vokasi UI,  merupakan fakultas yang terpojok dari teman-teman lainnya. Seharusnya hal tersebut tak menjadi alasan bagi pihak manajemen kampus untuk tidak memperhatikan pengelolaan lingkungan Vokasi, termasuk tempat parkir.

Motor-motor ini berparkir tepat di depan pintu masuk gedung Vokasi. Akan menjadi kesulitan buat mahasiswa yang melintas keluar dan masuk jika pada suatu ketika motor ini menutupi jalan.

Sudah larangan kok masih belum tertata? Salah siapa?

Mahasiswa dan pengelolanya. Mahasiswa yang tidak mencerminkan manusia berilmu seolah buta dengan tulisan larangan tersebut.  Apakah tulisan sebesar itu tidak membuat malu untuk berparkir di sana?

Pengelolanya, jelas-jelas yang lebih berdosa. Pihak kampus memang sudah menyediakan lahan parkir di bagian belakang gedung, jauh dan penuh. Tidak bisa menampung kuota dari membludaknya mahasiswa yang berparkir di sana, jangan sepenuhnya serta merta menyalahkan mahasiswa yang berparkir di depan gedung (yang gratis).

Semoga ada tidak lanjutnya ya. Sehingga mata saya agak perih meilhat plang "MOTOR DILARANG PARKIR DISINI" dengan kaidah bahasa yang salah. Ya, seharusnya 'DISINI' itu dipisah, DI SINI...

Berbicara Dengan Seniman

Saya mengenal banyak seniman, tak secara harfiah merujuk kepada mereka yang telah memiliki nama besar atas karya-karya yang dihasilkan. Di ruang lingkup yang lebih kecil, mereka yang dekat dengan saya tentu punya sisi seni dan nyentrik yang merupakan ekspresi diri mereka.

Tak usah jauh-jauh, adik saya. Hidupnya memang untuk seni, setidaknya begitulah arti hidup menurutnya. Si ibu memang sudah menyadari sikap pembangkangnya terhadap pertauran sekolah dan mangkir dari kelas-kelas, buat orangtua panik.

Tak disekolahkan SMA, hanya mempelajari secara home-schooling, sempat membuatnya putus asa untuk meraih impian. Tapi tidak dengan saya yang memperjuangkannya agar tetap masuk kuliah dnegan memberi motivasi dan mencarikannya kampus seni, tempat orang-orang semacam dia berkumpul.

Beruntung pada saat itu, saya juga tengah berhubungan dengan lulusan IKJ. Banyak informasi yang kami dapat darinya, dan beberapa kali memberi wejangan kepada adik saya mengenai proses masuknya.

Saat ini, dia sudah berkuliah, mengecap duania pendidikan formal dengan situasi tak formal seperti yang diinginkannya. Tentunya masih dengan biaya orangtua. hehehe :p

Kemarin sore, kami sedang bersantai di rumah petak yang kami sewa di daerah Kalibata. Jika sedang tidak memiliki kegiatan, kami terbiasa bersenda gurau, mengisi kekosongan satu sama lain. Ah... kakak beradik ini...

Sadar betul, bahwa hidup saya tidak akan sesantai saat saya masih kuiah. Saya bertanya pada adik, "Apa rencanamu selama setahunatau dua tahun ke depan?"

Maksud tujuan dari pertanyaan saya adalah ingin mengetahui visi dan misi dalam hidupnya, sehingga saya merasa aman atas hidupnya yang tersusun rapi, jika suatu waktu saya membiarkannya mandiri.

Dia hanya terdiam. Cukup lama. kami masih tidur bersampingan menatap langit-langit kamar. Dan kemudian dia angkat bicara

"Oh.. Seniman itu biarkan berpikir bebas. Selama aku masih meproduksi karya aku yakin itu adalah ukuran kesuksesanku," ujarnya mantap.

Kini gantian gue yang terdiam dengan jawabannya. Dasar (sok) seniman!, ledekku dalam hati. ;p

Jerawat Kenapa?

Pertanyaannya sekarang telah diubah dari "ini jerawat siapa hayooo?" menjadi "Sekarang jerawatan kenapa hayooo?"

Lagi-lagi temen gue membahas sesuatu hal yang ehem uhuk sat kami tengah melakukan perjalanan pulang, bertiga, di mobil. Perempuan semua.

Tiba-tiba saja dia berceletuk, "eh masa ya katanya kah lau orang yang jerawatan itu karena dia udah lama ga having sex, katanya karena hasrat sexnya tidak tersalurkan makanya hormonnya berlebih dan timbul jerawat" kata temen gue yang lagi nyetir.

Gue dan teman yang satunya saling tatapan. OK! gue dan dia sedang jerawatan sekarang. Meski tidak sebanyak dia, tapi gue merasa hal yang disampein temen gue tadi ada benernya. Toh gue gak punya pacar juga... :))

Nah, temen gue yang satu lagi, biasanya sih mukanya mulus. Gue gak tau kenapa, jadilah di bahan cengan kita.

"Jadi lo jerawatan karena apa? pasti karena kurang puas ya sama cowo lo"

"cowoknya nanggung kali"

celetukan demi celetukan keluar dari para gadis muda belia, berumur 20 tahun ini. Dan pada akhirnya menertawakan pembahasan tak senonoh itu.

"eh gue seneng dong, gue masih perawan, yang kemarin gue gak diapa-apain," temen gue yang nyetir kembali mencari topik pembicaraan baru.

SHIT! Dia mulai lagi...

Brondong di Atas

Ada pembicaraan random antara gue dan beberapa teman perempuan lainnya yang sedang ngumpul di kosannya Tiara beberapa pekan lalu. Tidak menceritakan sesuatu yang jelas, hanya saja topiknya mengalir bagai air, tak terkontrol dan mulai menjurus.

Bermula dari beberapa teman yang memisahkan diri untuk menonton film Korea atau China (saya lupa, pastinya) yang terkadang isi adegannya berisikan hmmm.... uhuk... adegan seks.

Melihat mereka begitu serius di pojokan, mengundang rasa penasaran. Jadi, mereka tengah memperhatikan salah satu adegan saat si ratu sedang berselingkuh dengan tangan kanan rajanya. posisinya di atas...

dan terjadilah pembicaraan random itu...

"Eh kalo cewe di atas, women on top kan namanya?"
"iya, nah kalo cowonya yang di atas apa dong?"

*semuanya berpikir keras*

"itu mah biasa"
"tapi kalo cowo muda di atas gue tau, Young On Top"

*ketawa bareng-bareng*

"Hahahaha, Young on Top, Brondong di atas"
"Merusak citra banget tuh. hahaha"

Lalu setelah selesai dengan percakapan tersebut. Kami melanjutkan film tersebut yang ternyata mengandung unsur sadisme, saat kemaluan dari tangan kanan si raja dipotong karena rasa cemburu si raja yang ternyata mencintai sesama jenis, tangan kanannya tersebut.

Tapi saya lupa judulnya apa. ya sudah lah ya...