Minggu, 09 Oktober 2011

Sudut Hidup

Aku sedang duduk sendirian di salah satu rumah makan, kawasan Blok M. Suasananya tak begitu ramai, hanya terlihat di luar sana banyak yang melintas dan lalu lalang. Entah kemana arah tujuan mereka, yang aku tau setiap kepala memilki urusannya sendiri-sendiri.

Ya, terminal dengan sejuta jenis orang yang tidak aku kenali, aku hanya suka mengamati, dari dalam sini.

Hanya ada tiga meja yang terisi di rumah makan ini. aku memilih pojokan ruangan dan menghadap ke jalan. Sengaja aku memilih kursi yang terdalam letaknya, aku bukan ingin berlama-lama, tetapi ini adalah tempat favoritku untuk menunggu sampai pada waktu kekasihku tiba. Dia akan langsung mengenali tempat ini nantinya.

Biasanya, aku lebih senang untuk berada disini berdua dengannya. Untuk saling mengisi perut sebelum kami melanjutkan perjalanan kemana kencan akan direncanakan setelah ini. Tetapi tidak dengan kali ini, Gadis, kekasihku, memberitahuku untuk makan terlebih dahulu, karena jalanan yang dilaluinya sebelum sampai ke terminal Blok M ini sedang padat merayap khas ibukota.

Setelah menyelesaikan makanan nasi ayam gulai yang aku pesan, aku menyeruput es teh manis yang kurasa begitu segar melintasi kerongkonganku di siang hari yang terik seperti ini. Aku mengusap peluh yang kusinyalir sebagai campuran akibat panasnya cuaca dengan sambal cabe pedasnya nasi ayam gulai yang membuat mulutku secara spontan mengeluarkan bunyi huh.. hah.. huh… hah…

Aku merogoh kantongku celanaku, mengambil sebungkus rokok dari dalamnya. Masih utuh, kubuka segelnya dan menyalakan sebatang. Aku tarik isapan pertama berbarengan dengan masuknya seorang bocah pengemis yang kemudian menghampiri salah satu meja berisikan seorang lelaki paruh baya dengan perawakan tinggi besar yang sedang makan, sendirian. Sama sepertiku.

Hanya saja aku disini, disudut ruang rumah makan ini hampir tak terlihat oleh orang-orang diluar sana. Ini titik ternyaman memang, aku bisa melihat kesegala arah tapi orang –orang akan mengabaikanku. Penghuni lainnya, adalah kumpulan pemuda seumurku sekitar enam orang yang sedari tadi suara merekalah yang membahana di rumah makan ini, tertawa, caci maki, dan obrolan mereka yang tidak akan menarik untukku. Mereka senantiasa memamerkan sesuatu, entah apa itu.

Aku mencuri dengar percakapan antara pengemis anak itu dengan bapak tersebut. Sepertinya si anak meminta belas kasihan si bapak, namun dia tidak meminta uang….

Bajunya kumal, rambutnya berantakan apalagi wajahnya. Sayup matanya menatap mata si bapak , lemas badannya memegang sudut meja dimana bapak tersebut menyantap makanannya. Suaranya lemah….

“Pak, saya boleh minta makanannya… sedikit…” anak itu terdiam, tertunduk takut

Si bapak tertegun dengan ekspresi kaget sekaligus iba, menghentikan aktifitas makannya…

“kau belum makan ?” Tanya bapak itu hati-hati

Anak itu menggeleng dan tetap tertunduk

“kau mau makan? mari duduk sini, sampingku”

Anak itu mengangguk cepat sambil tersenyum sumringah

Aku melihat, di meja bapak itu memang tersedia ala prasmanan banyak lauk pauk, serta sepiring nasi tambah. Aku tetap menyaksikan, aku melihat si bapak memberikan sepiring nasi tambah miliknya dan mengambilkan lauk ayam untuk pengemis anak yang telah duduk disampingnya.

Pemandangan ini telah membuatku tersentak. Terdiam cukup lama melihat keharmonisan keindahan yang barusan aku saksikan di depan mataku sendiri .

Entah sudah hisapan keberapa rokok ini. Aku masih duduk di sudut yang sama, ketika salah seorang pengemis anak berpenampilan serupa dengan yang sebelumnya, masuk ke dalam rumah makan ini.

Dia melihat di jarak yang cukup jauh dengan meja dimana temannya tengah menyantap makan dengan seorang bapak yang memberi makan di sampingnya.

Dia berdiri di depan cukup lama, terpaku seperti bingung. Melihat ke arah sekumpulan pemuda yang jaraknya lebih dekat jika dibandingkan dengan keberadaanku di sudut sana.

Si anak menghampiri kumpulan pemuda tersebut… dan belum berkata apa-apa.
Awalnya, mereka masih sibuk dengan obrolan mereka sambil menyantap makanan mereka dengan lahapnya tanpa memerdulikan keberadaan pengemis anak tersebut. Si anak memberanikan diri mengeluarkan suara…

“Bang, minta makan bang…”

Semuanya tertegun, diam dan pura-pura tidak mendengar. Si anak mengulangi…

“Bang, boleh minta makannya bang…”

Seorang pemuda berbaju kaos biru muda berposisi paling dekat dengan anak itu, sepertinya sedang menggeram menghentikan aktifitas makannya… menatap dalam-dalam ke arah pengemis itu. Sinis.

Si anak tersebut menunduk namun tak beranjak. Takut dan meremas bajunya.

“mau makan ?” pemuda itu bersuara lantang. Membuat semuanya tertegun termasuk teman-temannya.

Dia mengangkat piring nasi yang dihadapannya, dan menumpahkan sisa nasi dari dalam piringnya… ke lantai…

Dan dia tertawa, menertawakan tingkah lakunya yang tak pantas dan tidak lucu sama sekali

Seketika semua orang kaget, terperanjat melihat tingkah laku binatang yang begitu nyata didepan mata. Aku sentak berdiri, mematikan rokok. Demikian dengan bapak yang berada lebih dekat dari situ. Dia langsung beranjak dari kursinya dan datang menghampiri mereka.

Menggebrak meja. Berteriak keras dan marah besar.

“Kalian sudah kaya ya ? membuang-buang makanan seenaknya, memperlakukan anak itu seperti binatang “ emosinya membludak, memuncak sampai ke kepala.

Si bapak menunjuk tepat ke muka pemuda berbaju biru tersebut.

“ Kau… Kau yang binatang ! dasar iblis, pikiran apa yang meracunimu sampai kau tega berbuat demikian”

Si pemuda tersebut menantang, menatap lantang bapak itu.

“memangnya kenapa kalau saya begitu, toh itu bukan urusan bapak”

Si bapak naik pitam, terlihat dia mengepalkan tangan untuk menonjok muka anak yang kurang ajar dan petentengan di depannya itu.

Salah satu teman wanitanya berteriak,

“Je, Jangan konyol !”

Suasana berubah kisruh, beberapa orang yang kebutulan melintaspun ikut menonton. Kedua pengemis anak tersebut masih berada di posisinya masing-masing. Sang pemilik rumah makan berdiri dan mendekati asal dari kerusuhan di rumah makannya siang ini.
Si bapak kembali bersuara sambil menahan emosi agar tak segera melayangkan tinju ke pemuda itu.

“Sebaiknya kalian keluar dari sini sebelum saya benar-benar marah dan menghajar kalian satu persatu, terutama dia. Kalian memang tidak punya hati !”

Teman-temannya seketika menarik lengan pemuda berbaju biru tadi sebagai isyarat untuknya agar menghentikan kerusuhan ini. Dengan air muka yang sama, teman-temannya kesal bukan main terhadap lelaki tak bermoral yang sayangnya adalah teman mereka sendiri. Beberapa di antara mereka segera menyelesaikan pembayaran dan sekumpulan pemuda itu beranjak pergi.

Si bapak merangkul anak tersebut, mengajaknya ke mejanya, memesankan makanan sepiring penuh untuk anak itu.

Anak itu… dia tidak menangis sama sekali. Namun raut wajahnya… dia tidak bisa menyembunyikan rasa takut serta pedih begitu dalam karena rasa hina dan berbagai jenis sandiwara dalam dunia nyata yang telah dialaminya beberapa kali.

Dan aku… entah masuk kedalam peran apa kali ini. kediamanku, membawaku kedalam kesia-siaan… tak berbuat apa-apa. Seperti benda mati, Aku menjadi saksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar