Sabtu, 13 Agustus 2011

Testpack

Sekiranya ada hari pada satu titik dimana aku akan menjadi sebuah bentuk ketidakpastian antara peran mulia di dalam sini dengan hujatan dari luar sana. Aku sudah membayangkannya, dan itu akan segera terjadi, pasti. Dalam waktu yang sangat dekat.

Atau aku akhiri saja sudah semuanya? berkali-kali pertanyaan itu menghujam masuk tanpa permisi ke dalam pikiranku. Boro-boro berpikir dengan jernih bahkan ketika mengambil nafas saja, tercekat di rongga tenggorokan. Lampu remang-remang kamar mandi, mendukung suasana lembab basah yang menuntun tubuhku untuk mengambil keputusan, segera dan apa saja.

Aku menutup mataku, menghela nafas. Merasakannya, meski ia belum terlihat, hanya aku, sang calon ibunya yang tahu keberadaanya dalam ruang sempit gelap gempita ditemani seliweran-seliweran kemerahan yang membalutnya di dalam perutku. Aku masih tidak bisa beranjak, kakiku melemah. Terduduk di kloset, menatap awang-awang dengan pandangan kosong, sementara tanganku masih saja terus bergemetaran memegangi lunglai testpack, dua garis.

Aku sentuh ia, mengusapnya perlahan, inginku menidurkannya hingga terlelap. berlaku seakan aku tak ingin ia tahu apa yang terjadi dengan calon ibunya di luar, di sini, di kamar mandi remang-lembab-basah. Tempatku pertama kali mengenalnya.

Aku mencintainya, sekaligus berharap ia segera diambil dengan keikhlasan yang Tuhan punya. 16 tahun, aku belum cukup siap untuk semua ini. semoga Tuhan mengerti.

Tidak, seharusnya tidak begini.

Aku pasrah, biarkanlah. Hanya aku yang pantas mati, sedang ia.... tak bersalah. tangisku pecah, menjadi-jadi.

"bersama akan kita hadapi segalanya, nak. apapun pilihanmu dan kemanapun kau ajak aku, sekalipun harus aku yang mengalah untuk kehidupanmu. aku rela"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar