Jumat, 01 Juli 2011

Ibuku yang kuat

Pekerjaanku selalu menuntutku untuk pulang malam, larut malam atau bahkan hingga pagi.

Demikian juga dengan hari ini yang memaksaku harus pulang pada jam sebelas malam. Bukan waktu yang wajar untuk seorang pekerja kantoran, bagiku ini suatu hal yang biasa atau sengaja aku biasakan disaat umurku yang masih muda, energik dan bersemangat seperti sekarang.

Aku ingin meraih kesuksesan . beberapa memang terlupakan. Aku sadar benar hal itu terkadang terjadi. Semua itu aku lakukan untuk keluargaku, aku dan masa depanku. Aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Setidaknya, ini menurutku.

Aku memasuki rumah. Sunyi dan senyap. Aku tinggal berdua saja dengan ibuku. Kakak-kakak ku sudah menikah dan sukses. Ini pula lah yang menjadi cambukan buatku. Agar aku terpacu menjadi anak yang juga ingin dibanggakan.

Aku melihat jam. Ibu pasti sudah tidur. melihat keadaan rumah yang begitu sepi, aku merasa kurang akan suatu hal. entah apa itu.
Aku merebahkan diri sebentar di kursi yang ada di ruang tamu, pikiranku lega mengingat besok adalah hari sabtu. Yang berarti aku dapat beristirahat satu harian di rumah.

Mataku langsung tertuju pada album foto serta foto-foto yang berserakan di atas meja.

“tumben sekali ibu tidak merapikan foto-foto ini” batinku

Aku telah berulang kali melihat album itu, aku ingin membuka kembali album foto itu.

Tapi aku dan tubuhku seperti tidak sedang kuasa untuk bercengkrama dengan masa lalu.
Aku berlalu masuk ke kamar, dan mengabaikannya

***

Usapan lembut telah membangunkan aku di sabtu pagi ini. pelan-pelan kubuka mataku, kulihat ibu yang sedang duduk disampingku.

“kamu mau kemana hari ini dek ?” bisiknya dengan perlahan

“aku ada janji ma, sama temen-temen aku” jawabku dengan nada yang masih setengah mengantuk mengisyaratkan aku ingin istirahat lebih hari itu.

lama ibu menjawab kembali,
“oh yaudah, mama udah siapin sarapan ya di meja makan”

“iya ma” ujarku memutar badan membelakangi ibu, melanjutkan tidurku.

Ibu berlalu pergi, menutup pintuku dengan perlahan seolah mengerti sekecil apapun suara yang ditimbulkan oleh pintu itu dapat menganggu kenyenyakan tidurku.

***

Aku sengaja bangun lebih siang hari ini. sabtu dan minggu adalah alasan satu-satunya aku dapat beristirahat cukup di rumah, mengobrol dengan teman dan bertemu dengan kekasihku. Semua sudah sesuai jadwal, meski aku bukan orang yang perfeksionis tapi semenjak aku bekerja, aku sudah mengatur sedemikian rupa untuk berbagai kegiatanku.

Aku termasuk orang yang giat bekerja, ambisius lebih tepatnya. Senin hingga jumat aku kerahkan seluruh energi ku untuk mencapai hasil maksimal dalam bekerja.

Untuk lelaki seumuranku, aku sudah terbilang sukses. Atau paling tidak aku punya semangat untuk meraih semua kesempatan yang ada. Tak heran, banyak teman-temanku yang kagum padaku.

***

Aku berencana merapikan kamarku yang berantakan sebelum aku pergi nanti siang.
Sekitar jam setengah sepuluh, aku memutuskan untuk meninggalkan empuknya tempat tidur dan bergegas merapikan tempat tidur.

Kuraih handuk yang tergantung di balik pintu, aku ingin segera mandi, sarapan dan bertemu dengan teman-temanku.

Keluar kamar, sebelum menuju kamar mandi aku melintasi ruang tamu tempat aku beristirahat sebentar tadi malam. Aku masih melihat album-album yang berserakan diatas meja, foto-fotonya pun masih dalam keadaan yang berserakan.

Aku tahu ibu adalah seorang yang rapih. Apakah hal ini luput dari pandangannya saat ini ?

Aku menyampiri meja tersebut, mengurungkan niatku sebentar untuk mandi.

Aku meraih album-album tersebut. Aku tergoda membuka album yang pertama. Ditumpukan paling atas, yang terbesar dan berwarna putih.

Wajahku tersenyum, foto pernikahan ayah dan ibu. Terlihat jelas sekali wajah bahagia mereka. Ibu berulang kali menceritakan tentang hal ini padaku. Aku sampai hafal betul cerita dari foto per foto. Biasanya ibu selalu antusias menceritakan bagaimana proses ayah mengejar cinta ibu.

Ibu adalah kembang desa dulunya, wajah cantiknya masih bersisa dibalik kerutannya hingga kini. Dan aku tahu, ayah juga tipe pejuang sejati, meski beberapa kali ibu menolak diajak jalan. Akhirnya ibu luluh juga.

Sayangnya, pernikahan mereka tidak berlangsung lama. Kisah ini tidak semulus dan seindah kisah sewaktu mereka pacaran. Ayah meninggaalkan ibu, untuk alasan ter absurd yang pernah aku dengar.

Ibu berjuang sendiri, membesarkan ketiga anaknya. Aku dan kakak-kakakku.

Ibu adalah wanita tertangguh yang pernah aku kenal. Sekalipun ayah menyakiti hatinya, sama sekali dia tidak pernah mengajarkan kami untuk membenci ayah.

Aku membuka halaman album foto selanjutnya, ada foto ketika kakak-kakakku dan aku yang masih bayi. Semuanya terlihat polos, suci dan rapuh. Dan disaat itu aku sadar dalam keadaan kami yang sedemikian rapuh, hanya ibu… hanya ibu tempat kami berlindung.

Tanpa pernah tahu masalah terberat apakah yang sedang terjadi pada ibu.

Aku bangga pada ibu. Aku rindu masa-masa itu… saat aku tak pernah tahu apa yang terjadi di keluarga kami. Aku begitu riang gembiranya, aku selalu percaya saja tentang perkataan ibu yang selalu menyampaikan kabar bahwa ayah sedang bekerja di luar kota.

Aku juga kangen kakak-kakak ku yang selalu ikut serta melindungku, mereka tahu… belum saatnya aku untuk tahu masalah yang kami hadapi.

Aku menutup album pertama itu, album terindah dalam hidupku. Aku masih menyimpan rasa haru dalam hatiku.Tentang kenangan yang membentukku hingga aku menjadi "aku" pada hari ini dan tentang ibu sosok yang kuat.

Aku membereskan album-album itu. Menumpuknya dengan rapih. Aku tak berniat membuka album lainnya yang berisi foto-foto baru, aku hanya ingin bernostalgia.

Sedari tadi ada hal yang lebih menarik yang menjadi pusat perhatianku, foto-foto diluar album diatas meja yang berserakan… ada yang tebalik ada yang terbuka…

Kukumpulkan satu persatu… kususun… kurapihkan.. sambil kulihat-lihat…

Semuanya fotoku… kuperhatikan lembar perlembar… tidak ada yang lainnya…
Tidak ada foto kakak-kakakku… hanya aku…

foto-fotoku masih bayi … balita, masuk sekolah SD, SMP….

Beberapa kulihat fotoku berdua bersamanya…

Ada apa ini sebenarnya ? ibu sedang membenahi fotoku… mengeluarkannya dari album kemudian membiarkannya berserakan diatas meja…

Tanpa sengaja aku mulai merasakan air membasahi ujung mataku, hatiku tertegun…

Ibu kangen denganku…

Aku anaknya yang selalu ditemuinya setiap hari, namun aku selalu tak punya waktu cukup untuk berbagi canda dan bahagia dengannya di akhir pekan.

Aku meraih satu foto…

Foto aku yang berumur sekitar lima tahun, duduk di samping ibu yang sedang mengenakan pakaian formal, di kantor.

Nasib yang mengharuskan ibu untuk bekerja, ibu harus menghidupi anak-anaknya sendirian, ibu harus menjadi benteng pelindung terhadap anak-anaknya sedangkan saat itu dia sedang dihujat dunia, kami di benci keluarga.

Ibuku yang kuat selalu menyempatkan diri disela-sela waktunya untuk memberi perhatian semaksimal mungkin padaku, mengingat aku harus hanya merasakan kasih sayang tanpa seorang ayah. Dia bekerja dan dia mengurusku.

Membawaku sesekali ke kantornya, bercerita pada teman-temannya betapa membanggakannya aku, betapa menggemaskannya aku dan betapa kuatnya aku. Aku yang sama sekali tidak mengerti maksud ibu apa, memahaminya dengan betul sekarang.

Aku telah salah. Banyak salah. Aku dengan tega sering mengabaikannya. Terkadang berpikir seolah menenangkan diri bahwa ibuku masih ibu yang kuat, ibu yang bisa mengurus segala hal dengan sendiri.

Aku telah lupa sebagaimana keras dia membuat hidupku bahagia. Aku telah lupa,bahkan kakinya sekarang sudah tidak dapat menopang cukup kuat untuk berdiri berlama-lama.

“Anak macam apa aku, Tuhan ?”

Aku berteriak, berontak di dalam hati. Aku menangis teriris sejadi-jadinya. Inikah balasanku ? inikah caraku membuat dia bahagia ? materi tak akan cukup membuat dia bahagia, waktu kesepiannya, penantiannya setiap malam sebelum pulang, tak pernah terbayar olehku.

Sesekali saja dia memintaku untuk bergantian memberinya perhatian seperti dia memanjakan aku dulunya. Bahkan tak pernah aku penuhi.
Aku meletakkan kembali foto-foto yang telah menyadarkan aku,
bagi ibuku…

aku tetap anaknya yang polos, jujur dan kuat. Meski aku berubah menjadi dewasa….


Tulisan diatas terinspirasi dari Ronny Marchiano

Saat melihat masa kecil kita difoto, kaya ngaca sama diri sendiri betapa lucu dan polosnya kita waktu itu. Tanpa kita sadari masa telah lewat dan tanpa kita sadari pula kita sering kali melupakan kasih sayang ortu terutama ibu yang telah membesarkan kita sampai saat ini. - Ronny

Tidak ada komentar:

Posting Komentar