Rabu, 20 Juli 2011

antara palestina, kopaja, pelupa dan tukang tidur

penyakit lupa saya sepertinya semakin lama semakin kronis. bagaimana tidak kalau saya pernah meninggalkan kertas ujian take home saya disaat mau dikumpulkan pada sore itu, padahal saya sudah di kampus dengan niat mengantarkan tugas ke sekre. alhasil saya kembali ke rumah lagi dan kembali ke kampus dengan bercucuran keringat karena lari-larian di kejar waktu (plis, jangan bayangkan tubuh gempal saya yang berguncang-guncang karena berlari :P). tapi saya tidak akan menceritakan tentang kejadian itu lebih dalam.
sesuatu yang lebih luar biasa dari itu, menyangkut orang lain dan merugikan pihak yang terkait.

hari itu (saya lupa tepatnya kapan) saya dan tante saya mengikuti aksi damai tentang palestina. ini merupakan pengalaman pertama saya, selain karena topiknya yang menarik. saat itu saya memang sedang dekat dengan seseorang (aksi terselubung ceritanya, haha) yang mencintai palestina dengan teramat sangat. menjadi salah satu interest saya lah palestina semenjak saat itu.

saya dan tante saya mengenakan pakaian yang muslimah begitu juga dengan semua yang menjadi partisipan, menambah nuansa islami yang mewarnai hari indah itu. suasana disana terasa sangat damai namun berkali-kali saya di buat merinding. orasi-orasi yang membahana sukses membuat saya beberapa kali menitikkan air mata dan memikirkan bagaimana nasib saudara kita sesama umat manusia dalam kondisi genting seperti sekarang ini. berjalan dari monas ke bundaran HI dengan semangat dan harapan, serta bersama-sama mendoakan bahwa aksi damai kali ini juga dapat membawa perdamaian di palestina.

sepulang dari aksi tesebut, saya dan tante saya mampir sebentar ke blok m untuk melaksanakan sholat maghrib. berkeliling (cuci mata boo,namanya juga perempuan), makan dan melaksanakan sholat isya. seusainya kami bergegas untuk pulang. alternatif satu-satunya saat itu yang ke arah depok hanya naik kopaja 63 (sebelum saya mengenal 143) yang padet nya minta ampyuuun cin..

alhasil kami menemukan kopaja yang 'lumayan' sepi untuk ukuran 63. kami duduk terpisah. awalnya si tante duduk tepat di belakang saya. tapi ntah karena maksud apa dia malah berpindah tempat duduk ke bagian paling belakang kopaja. tapi ya sudah lah pikir saya.

selama di perjalanan penumpang nya semakin bertambah, semakin sesak kopajanya dan saya semakin sulit mengambil nafas. dan naiklah seorang ibu hamil, berjalan ke dalam kopaja dan mulai terhimpit dengan orang banyak. dia sedikit jauh dari saya. tetapi di samping di tempat ibu tersebut berdiri, wanita muda berjilbab duduk. saya kira dia akan memberikan tempat duduknya, hampir 10 menitan berlalu, namun tidak juga. saya sedih sekali melihat ke apatisan saudara saya. yah, saya tidak mengerti apakah dia tidak melihat atau memang tidak mau melihat kondisi ibu tersebut. lantas saya mengambil tindakan dengan memanggil ibu tersebut dan menuntunnya duduk di tempat duduk saya (walau sempat beberapa kali ada orang yang hendak medudukinya).
saya berdiri tepat di depan ibu tersebut.

selama berdiri, saya mulai mengkhayal (salah satu kebiasaan buruk).
saya masih berfikir tentang keapatisan masyarakat dewasa ini, apakah karena kejamnya hidup membuat orang menjadi lupa akan nilai-nilai kemanusiaan ? mengapa orang tidak berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan ? mengapa bangga dengan kemunafikan yang kalian perbuat ? apa benar sulit untuk menemukan orang tulus jaman sekarang ?
lalu kembali saya melihat kondisi ibu tersebut...
kemana suami ibu ini ? mengapa dia naik kopaja ? apa hidupnya susah ? derita apa yang dia alami saat ini ? lantas bagaimana jika ibu tadi adalah saya, yang sedang hamil, naik kopaja karena susahnya hidup. apakah masih ada yang mau menawarkan tempat duduk nya buat saya ?
saya masih terus berkhayal... (bahkan ketika saya sudah mendapat tempat duduk lagi dan hampir mendekati komplek perumahan)
apa yang harus saya lakukan dengan hidup saya ? saya akan terus berjuang untuk kebahagiaan hidup saya dengan menjadi seseorang yang sukses dan membahagiakan orang tua saya. yang jelas saya tidak akan menikah terlebih dahulu sebelum saya meraih kesuksesan dengan tangan saya sendiri.
saya mengakhiri khalayan saya dan tersadar bahwa saya harus turun.
lalu saya menghentikan kopaja dengan memberikan tanda berupa beberapa ketukan di langit-langit kopaja.
saat saya sedang berjuang melangkah turun di tangga turun terakhir, saya baru ingat satu hal.
saya berusaha memberi tahu si abang kenek.
tapi yang keluar dari mulut saya hanyalah
"bang... eh.. bang"
si abang malah ngomong
"nah neng hati-hati yah kalo turun liat kiri kanan" *si abang sok perhatian -____-
saya masih terpaku, si kopaja perlahan melaju..
saya diam memandangi kopaja, berharap ada yang menyusul keluar.
namun ternyata tidak, saya berusaha berlari kecil, melihat, dan berharap kopaja berhenti.
tiba-tiba saya mendapat kekuatan berteriak
"EH TANTE SAYA MASIH DI DALAM BANG"
namun sepertinya semua sudah terlambat...
kopaja sudah melaju terlalu jauh. sekarang saya makin bingung. apa yang harus saya lakukan. apalagi mengingat tante saya tidak memegang dompet dan handphone karena dititipkan pada saya.
saya mulai senyum-senyum sendiri, memutuskan untuk berjalan masuk ke komplek dan pulang.
ternyata dari tadi, pak satpam *nggak tau sapa namanya,sudah melihat adegan lari-lari kebingungan di tengah jalan dan kemudian bertanya kepada saya ?
"knapa neng ?" tanyanya
"TANTE SAYA KETINGGALAN PAK DI KOPAJA" ujar saya terengah-engah
*pak satpam terbahak-bahak
"lah neng kok bisa ? ga di telpon ?" *masih tertawa
"HP nya sama saya pak, dia ga megang duit juga karena semuanya di tas saya. dia cuma megang dvd bajakan MY NAME IS KHAN pak" *dengan tampang panik
si bapak malah tertawa-tawa.
tampaknya si bapak tidak mebantu sama sekali. lalu saya pulang ke rumah berharap medapatkan solusi dari saudara-saudara yang lain.
saya menceritakan kejadiannya...
dan mereka TERTAWA JUGA !
saya gundah gulana (halah) mengingat tante saya bisa saja ngamuk seperti banteng ketika dia pulang.

kurang lebih setengah jam berlalu...
akhirnya tante saya pulang dengan tertawa-tawa (menertawakan dirinya sendiri sepertinya) dia mengatakan dia sudah tertidur dengan lelapnya di dalam kopaja dari awal dia mulai duduk di bagian paling belakang kopaja.
haduuuuuuuuhhhh....
tetapi dia tidak marah sama sekali dengan kelupaan saya sehingga meninggalkanya di kopaja, karena ini merupakan tindakan konyol kami berdua.
BEGINILAH JADINYA KETIKA PELUPA BERTEMU DENGAN TUKANG TIDUR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar