Senin, 05 Desember 2011

Minggu Ceria

27 November 2011



Kerja gila bareng Chai di Munas ILUNI UI 2011.




Malamnya. Jadi usher dadakan sambil nonton Teater "Baju Baru Sang Raja".

Cepi itu manusia robot... abis perform teater, paginya keja, malamnya perform lagi. Sinting!

Ps: Anyway, Thankyou Cepi melibatkan saya seharian dalam Minggu sibuk-mu :*

Minggu, 04 Desember 2011

Malam Mingguan Bersama FimelaFest

Sabtu, 26 November 2011



Terus terang, ini baru kali pertamanya saya mendengar tentang www.fimela.com tepat di hari ulang tahunnya yang pertama, FIMELAFEST. Oh men… kemana saja saya setahun ini? -_-“

Kedatangan saya yang secara tidak sengaja ternyata tidak sia-sia. Banyak acara yang menarik selama tiga hari (25-27 Nov 2011) di atrium dan level one Grand Indonesia. Mulai dari berbagai workshop, seminar, talkshow, dll yang semuanya terangkum dan berkaitan dalam tema “Three Days of Empowerment & Lifestyle Experience.”

Awalnya, saya hanya ingin datang untuk melihat-lihat dan pulang –jika tidak ada yang menarik- Namun, perkiraan saya salah, acara ini membuat saya betah menghabiskan waktu malam minggu saya yang kelabu (curhat dikit :p).

Keputusan pertama adalah ketika saya mengikuti talkshow yang diadakan oleh Dove yang berjudul “Don’t be stupid: Know whats on his mind”. Ya, saya mengerti, dengan mengikuti talkshow semacam ini saya akan kelihatan semakin putus asa terhadap pikiran laki-laki.

Acara ini dipandu oleh Indy Barends dan tiga orang laki-laki yang akan di interogasi tentang apa isi pikirannya mengenai perempuan, Surya Saputra, Tompi dan Tities. Keseluruhan acara berlangsung menarik dan tidak membosankan terutama di bagian saat seorang pengunjung bertanya hal-hal yang menurut saya luar biasa. Seperti contohnya:
- Bagaimana mengejar wanita yang maunya dikejar-kejar mulu, kan capek.
- Bagaimana padangan Tities mengenai jatuh cinta dari mata turun ke hati.

Sebenarnya, alasan yang sejujur-jujurnya saya mau ikut talkshow ini adalah saat saya pertama kali melihat FEBRIAN sebagai pembuka acara. Saya bagai tersihir, terpesona dan berteriak labil saat dia menyanyikan everything-nya Michael Buble. Saat itu, yang terlintas dibenak saya adalah, “saya harus modusin dia buat acara di kantor nanti” dan hari itu juga saya resmi menjadi followers Febrian di twitter (entah ini kabar gembira buat dia atau tidak) :p

Lanjut ke “Writing Workshop With Plot Point”, tentu ini menarik perhatian saya tanpa perlu ditanya lagi saya selalu haus dengan ilmu yang berkaitan dengan penulisan.
Temanya, “Being a Writer: A Crisis Proof Job” boleh dikatakan sebelum saya benar-benar terjun dan mendalami dunia penulisan, saya merasakan hal yang sama dengan tema tersebut. Namun, ternyata tak hanya saya, banyak juga yang merasakan kelabilan kegelisahan dan kegalauan tentang identitas menjadi seorang penulis.

Salman Aristo banyak membagi imu terutama pengalamannya saat dia harus menentukan pilihan menjadi seorang jurnalis atau penulis skenario. Dia juga memberi saya inspirasi tentang menulis dengan mengasah mata batin. Sounds good :”)

Selepasnya dari workshop tersebut yang diadakan di Fimela House yang tak jauh dari GI Atrium. Saya kaget saat seorang lelaki berbaju seragam O’channel datang menghampiri saya dan bertanya “maaf, barusan ikutan workshop di dalam ya?”

Di dalam benak saya, “oh Tuhan, jika kau mengirimkan laki-laki yang mau modusin saya hari ini, saya berterimakasih karena dia cukup good looking tapi kenapa harus orang TV lagi ya? Gak cukup RCTI doang nih yang buat patah hati” #eaaaa

Okay, back to the topic….

Tenyata orang tersebut hendak mewawancarai saya dan menanyai mengenai beberapa hal yang terjadi di workshop tersebut. Kabar buruknya mas-masnya ternyata ga jadi modusin saya. entah mungkin sayanya terlalu kecentilan. Padahal saya sudah cukup jaim loh *sedih*

Bagaimana pun juga ini malam minggu yang terbaik dengan diri saya sendiri.

Senin, 28 November 2011

Tulisan Pertama di Yahoo!



*ciyum se-yahoo*

Kongkow Humas Muda: Humas dan Kekuatan Komunitas.

Pernah mendengar tentang Kongkow Humas Muda? Ya, acara ini diprakasain oleh Perhumas Muda yang merupakan Youth Generation dari Perhumas, Perhimpunan Humas se-Indonesia. Kongkow Humas Muda merupakan agenda wajib dari Perhumas Muda setiap tahunnya.

Ada alasan tersendiri bagi Perhumas Muda tentang alasan mengapa mereka mengambil kata kongkow, karena mereka menginginkan acaranya sendiri berlangsung sangat santai dalam saling berbagi ilmu sesuai dengan apa yang anak muda inginkan serta tidak terlalu formal.

Perhumas Muda sendiri beranggotakan mahasiswa atau humas muda yang berumur maksimal 29 tahun. Karena lebih dari batasan umur tersebut akan dihitung masuk ke Perhumas.

Acara ini diselenggarakan pada hari Sabtu (26/11/2011) di LSPR Campus B.

Topik mengenai peran humas dalam mebangun dan menjaga hubungan baik dengan komunitas sangat menarik perhatian saya. Sebagai mahasiswi Humas tingkat akhir, tentu saya harus banyak belajar dari para praktisi humas tentang bagaimana menjalin hubungan maupun menciptakan komunitas yang loyal dan memiliki visi yang sama, agar tidak terlalu kaget jika berada di dunia kerja.

Ternyata, pembicara Kongkow Humas Muda kali ini benar-benar luar biasa. Ada Mas Pandu Padmanegara yang bercerita tentang hubungan Humas, komunitas dengan social media. Menurutnya suatu komunitas saat ini lebih dimudahkan dalam berbagi informasi sesuai dengan minat yang sama antar anggota komunitas.

Lain pula dengan Mas Hadityo selaku Community Manager dari Trans TV. Dia menceritakan pengalamannya dalam membentuk TransMania, sebuah komunitas pecinta program trans tv. Bedanya, komunitas ini tidak hanya berkumpul dan menonton acara di studio tv saja. Komunitas ini juga diajarkan tentang bagaimana bekerja sebagai tim produksi dan melakukan kegiatan off air sesama pecinta Trans tv.

Berdasarkan dari hal ini, saya mengambil kesimpulan bahwa seorang humas dalam membangun komunitas tidak hanya harus memiliki isi dan kemasan yang menarik dalam menciptkan komunitas maupun menyelenggarakan acara pada satu komunitas. Namun juga diperlukan inovasi ide yang baru agar orang tertarik untuk bergabung dalam minat yang sama.

Ingin mendaftar sebagai Perhumas Muda? klik di sini http://on.fb.me/rKIxIq

Minggu, 09 Oktober 2011

Sudut Hidup

Aku sedang duduk sendirian di salah satu rumah makan, kawasan Blok M. Suasananya tak begitu ramai, hanya terlihat di luar sana banyak yang melintas dan lalu lalang. Entah kemana arah tujuan mereka, yang aku tau setiap kepala memilki urusannya sendiri-sendiri.

Ya, terminal dengan sejuta jenis orang yang tidak aku kenali, aku hanya suka mengamati, dari dalam sini.

Hanya ada tiga meja yang terisi di rumah makan ini. aku memilih pojokan ruangan dan menghadap ke jalan. Sengaja aku memilih kursi yang terdalam letaknya, aku bukan ingin berlama-lama, tetapi ini adalah tempat favoritku untuk menunggu sampai pada waktu kekasihku tiba. Dia akan langsung mengenali tempat ini nantinya.

Biasanya, aku lebih senang untuk berada disini berdua dengannya. Untuk saling mengisi perut sebelum kami melanjutkan perjalanan kemana kencan akan direncanakan setelah ini. Tetapi tidak dengan kali ini, Gadis, kekasihku, memberitahuku untuk makan terlebih dahulu, karena jalanan yang dilaluinya sebelum sampai ke terminal Blok M ini sedang padat merayap khas ibukota.

Setelah menyelesaikan makanan nasi ayam gulai yang aku pesan, aku menyeruput es teh manis yang kurasa begitu segar melintasi kerongkonganku di siang hari yang terik seperti ini. Aku mengusap peluh yang kusinyalir sebagai campuran akibat panasnya cuaca dengan sambal cabe pedasnya nasi ayam gulai yang membuat mulutku secara spontan mengeluarkan bunyi huh.. hah.. huh… hah…

Aku merogoh kantongku celanaku, mengambil sebungkus rokok dari dalamnya. Masih utuh, kubuka segelnya dan menyalakan sebatang. Aku tarik isapan pertama berbarengan dengan masuknya seorang bocah pengemis yang kemudian menghampiri salah satu meja berisikan seorang lelaki paruh baya dengan perawakan tinggi besar yang sedang makan, sendirian. Sama sepertiku.

Hanya saja aku disini, disudut ruang rumah makan ini hampir tak terlihat oleh orang-orang diluar sana. Ini titik ternyaman memang, aku bisa melihat kesegala arah tapi orang –orang akan mengabaikanku. Penghuni lainnya, adalah kumpulan pemuda seumurku sekitar enam orang yang sedari tadi suara merekalah yang membahana di rumah makan ini, tertawa, caci maki, dan obrolan mereka yang tidak akan menarik untukku. Mereka senantiasa memamerkan sesuatu, entah apa itu.

Aku mencuri dengar percakapan antara pengemis anak itu dengan bapak tersebut. Sepertinya si anak meminta belas kasihan si bapak, namun dia tidak meminta uang….

Bajunya kumal, rambutnya berantakan apalagi wajahnya. Sayup matanya menatap mata si bapak , lemas badannya memegang sudut meja dimana bapak tersebut menyantap makanannya. Suaranya lemah….

“Pak, saya boleh minta makanannya… sedikit…” anak itu terdiam, tertunduk takut

Si bapak tertegun dengan ekspresi kaget sekaligus iba, menghentikan aktifitas makannya…

“kau belum makan ?” Tanya bapak itu hati-hati

Anak itu menggeleng dan tetap tertunduk

“kau mau makan? mari duduk sini, sampingku”

Anak itu mengangguk cepat sambil tersenyum sumringah

Aku melihat, di meja bapak itu memang tersedia ala prasmanan banyak lauk pauk, serta sepiring nasi tambah. Aku tetap menyaksikan, aku melihat si bapak memberikan sepiring nasi tambah miliknya dan mengambilkan lauk ayam untuk pengemis anak yang telah duduk disampingnya.

Pemandangan ini telah membuatku tersentak. Terdiam cukup lama melihat keharmonisan keindahan yang barusan aku saksikan di depan mataku sendiri .

Entah sudah hisapan keberapa rokok ini. Aku masih duduk di sudut yang sama, ketika salah seorang pengemis anak berpenampilan serupa dengan yang sebelumnya, masuk ke dalam rumah makan ini.

Dia melihat di jarak yang cukup jauh dengan meja dimana temannya tengah menyantap makan dengan seorang bapak yang memberi makan di sampingnya.

Dia berdiri di depan cukup lama, terpaku seperti bingung. Melihat ke arah sekumpulan pemuda yang jaraknya lebih dekat jika dibandingkan dengan keberadaanku di sudut sana.

Si anak menghampiri kumpulan pemuda tersebut… dan belum berkata apa-apa.
Awalnya, mereka masih sibuk dengan obrolan mereka sambil menyantap makanan mereka dengan lahapnya tanpa memerdulikan keberadaan pengemis anak tersebut. Si anak memberanikan diri mengeluarkan suara…

“Bang, minta makan bang…”

Semuanya tertegun, diam dan pura-pura tidak mendengar. Si anak mengulangi…

“Bang, boleh minta makannya bang…”

Seorang pemuda berbaju kaos biru muda berposisi paling dekat dengan anak itu, sepertinya sedang menggeram menghentikan aktifitas makannya… menatap dalam-dalam ke arah pengemis itu. Sinis.

Si anak tersebut menunduk namun tak beranjak. Takut dan meremas bajunya.

“mau makan ?” pemuda itu bersuara lantang. Membuat semuanya tertegun termasuk teman-temannya.

Dia mengangkat piring nasi yang dihadapannya, dan menumpahkan sisa nasi dari dalam piringnya… ke lantai…

Dan dia tertawa, menertawakan tingkah lakunya yang tak pantas dan tidak lucu sama sekali

Seketika semua orang kaget, terperanjat melihat tingkah laku binatang yang begitu nyata didepan mata. Aku sentak berdiri, mematikan rokok. Demikian dengan bapak yang berada lebih dekat dari situ. Dia langsung beranjak dari kursinya dan datang menghampiri mereka.

Menggebrak meja. Berteriak keras dan marah besar.

“Kalian sudah kaya ya ? membuang-buang makanan seenaknya, memperlakukan anak itu seperti binatang “ emosinya membludak, memuncak sampai ke kepala.

Si bapak menunjuk tepat ke muka pemuda berbaju biru tersebut.

“ Kau… Kau yang binatang ! dasar iblis, pikiran apa yang meracunimu sampai kau tega berbuat demikian”

Si pemuda tersebut menantang, menatap lantang bapak itu.

“memangnya kenapa kalau saya begitu, toh itu bukan urusan bapak”

Si bapak naik pitam, terlihat dia mengepalkan tangan untuk menonjok muka anak yang kurang ajar dan petentengan di depannya itu.

Salah satu teman wanitanya berteriak,

“Je, Jangan konyol !”

Suasana berubah kisruh, beberapa orang yang kebutulan melintaspun ikut menonton. Kedua pengemis anak tersebut masih berada di posisinya masing-masing. Sang pemilik rumah makan berdiri dan mendekati asal dari kerusuhan di rumah makannya siang ini.
Si bapak kembali bersuara sambil menahan emosi agar tak segera melayangkan tinju ke pemuda itu.

“Sebaiknya kalian keluar dari sini sebelum saya benar-benar marah dan menghajar kalian satu persatu, terutama dia. Kalian memang tidak punya hati !”

Teman-temannya seketika menarik lengan pemuda berbaju biru tadi sebagai isyarat untuknya agar menghentikan kerusuhan ini. Dengan air muka yang sama, teman-temannya kesal bukan main terhadap lelaki tak bermoral yang sayangnya adalah teman mereka sendiri. Beberapa di antara mereka segera menyelesaikan pembayaran dan sekumpulan pemuda itu beranjak pergi.

Si bapak merangkul anak tersebut, mengajaknya ke mejanya, memesankan makanan sepiring penuh untuk anak itu.

Anak itu… dia tidak menangis sama sekali. Namun raut wajahnya… dia tidak bisa menyembunyikan rasa takut serta pedih begitu dalam karena rasa hina dan berbagai jenis sandiwara dalam dunia nyata yang telah dialaminya beberapa kali.

Dan aku… entah masuk kedalam peran apa kali ini. kediamanku, membawaku kedalam kesia-siaan… tak berbuat apa-apa. Seperti benda mati, Aku menjadi saksi.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Testpack

Sekiranya ada hari pada satu titik dimana aku akan menjadi sebuah bentuk ketidakpastian antara peran mulia di dalam sini dengan hujatan dari luar sana. Aku sudah membayangkannya, dan itu akan segera terjadi, pasti. Dalam waktu yang sangat dekat.

Atau aku akhiri saja sudah semuanya? berkali-kali pertanyaan itu menghujam masuk tanpa permisi ke dalam pikiranku. Boro-boro berpikir dengan jernih bahkan ketika mengambil nafas saja, tercekat di rongga tenggorokan. Lampu remang-remang kamar mandi, mendukung suasana lembab basah yang menuntun tubuhku untuk mengambil keputusan, segera dan apa saja.

Aku menutup mataku, menghela nafas. Merasakannya, meski ia belum terlihat, hanya aku, sang calon ibunya yang tahu keberadaanya dalam ruang sempit gelap gempita ditemani seliweran-seliweran kemerahan yang membalutnya di dalam perutku. Aku masih tidak bisa beranjak, kakiku melemah. Terduduk di kloset, menatap awang-awang dengan pandangan kosong, sementara tanganku masih saja terus bergemetaran memegangi lunglai testpack, dua garis.

Aku sentuh ia, mengusapnya perlahan, inginku menidurkannya hingga terlelap. berlaku seakan aku tak ingin ia tahu apa yang terjadi dengan calon ibunya di luar, di sini, di kamar mandi remang-lembab-basah. Tempatku pertama kali mengenalnya.

Aku mencintainya, sekaligus berharap ia segera diambil dengan keikhlasan yang Tuhan punya. 16 tahun, aku belum cukup siap untuk semua ini. semoga Tuhan mengerti.

Tidak, seharusnya tidak begini.

Aku pasrah, biarkanlah. Hanya aku yang pantas mati, sedang ia.... tak bersalah. tangisku pecah, menjadi-jadi.

"bersama akan kita hadapi segalanya, nak. apapun pilihanmu dan kemanapun kau ajak aku, sekalipun harus aku yang mengalah untuk kehidupanmu. aku rela"

Senin, 08 Agustus 2011

Free Sample dari Unilver, Ponds White Beauty Natural

Barusan saya histeris kegirangan, tiba-tiba pak pos mengantarkan sebuah paket yang ditujukan atas nama Sabrina Utami. awalnya saya sempat bingung karena merasa tidak pernah mengikuti lomba apapun, surat menyurat dengan siapapun.

setelah menerima paket tersebut, barulah saya tahu bahwa saya mendapat free sample tersebut hasil dari mendaftarkan biodata dan mengikuti games di websitenya.



Baiklah, terimakasih Unilever, terimakasih Ponds.
Saya akan segera mencobanya dan menuliskan kembali review dari Produk ini :)
*fingers crossed*

Minggu, 07 Agustus 2011

Dari Oriflame Beauty Demo hingga ke Sunsilk Hair Studio

29 Juli 2011

Sudah hari jumat, seharusnya ini hari terakhir saya di kantor untuk menyelesaikan masa magang. namun karena diminta untuk mengajari anak magang baru, di hari senin-lah saya baru nantinya akan benar-benar beberes pamit dan bebas.

Di hari yang sama laurene (magang dari prancis) juga mengakhiri masa magangnya, sebenarnya saya diajak untuk ikut serta jalan-jalan dengan laurene dan atasannya ke puncak. pulang hari. ya... untuk orang indonesia waras semacam saya, lebih baik saya memilih mengendap di kantor daripada ngendap di jalan, macet dan makan jagung bakar... dan ya pulang :(. dengan sangat yakin, laurene akan kapok begitu mendengar kata "puncak" setelah ini.

Di kantor juga sedang ada acara, yang tadinya 'Oriflame beauty class' diganti menjadi 'Oriflame beauty demo' karena tidak ada peminat, (sebenarnya, karena di suruh bayar, maklum bulan tua).

awalnya saya pikir ini akan menjadi menyenangkan, ternyata selama beberapa jam 'kita' para ciwi-ciwi ini disuruh liat model di depan (yang katanya sebentar lagi mau kawin) di dandanin pake produk oriflame. ngantuk.

tiba-tiba cewe keturunan india disebelah saya, nyeletuk... (sebut saja melati, saya lupa namanya)

M : eh, sini ai cabutin yu punya alis...
S : ah... kan sakit...
M : Beauty is pain *sambil nyabutin alisnya*
S : ...

saya diam saja, mulai memandangi alis-tidak-sempurna saya di kaca.



caption : ini ibu-ibu yang lagi nanya-nanya -_-"


caption : produk yang ditanyakan -_-"

sepulang dari kantor, kita (para ciwi-ciwi, magang-ers)memaksa mau tak mau harus ke sunsilk hair studio hari ini. karena... ini adalah hari terakhir masa penukaran berlaku dari voucher yang didapat dari facebook.

setelah melakukan perjalanan panjang, dan melelahkan karena masih memakai high heels naik turun busway dari ragunan ke Grand Indonesia.

sampailah kami pada tempat yang dituju, mengantri dan menunggu giliran.



dari awal kami sudah di wanti-wanti bahwa kuota dari pengunjung hari ini sudah melampaui kapasitas sehingga bisa jadi, treatmentnya akan ditukar menjadi CUCI-RAMBUT-SAJA.

satu persatu, teman saya sudah dipanggil. saya giliran terakhir dan sudah saya tebak.. sayalah yang terkena treatment tidak sesuai itu. INI-TIDAK-ADIL.
KEMBALIKAN-UANG-SAYA, eh iya saya lupa ini gratis.

mau nangis rasanya, saya sudah merelakan perayaan sembilan bulanan saya, (eh, ini lebay)

Baiklah, saya ikhlas... ikhlas kok *lirik sunsilk hair studio

saya jadi gak bisa komentar apa-apa sekarang, wong treatmentnya saja sudah tidak puas.kalo mau CUCI-RAMBUT-SAJA dirumah juga sepulang kantor, pasti cuci rambuttttt...

sembari menunggu ketiga teman saya, daripada bengong baiklah, saya ikuti CUCI-RAMBUT-SAJA itu.

Mbak yang nyuci itu ramah, sampai akhirnya dia curhat...

Mbak yang nyuci rambut saya : Mbak, jangan bilang-bilang saya pake sendal ya
Saya yang dicuci rabutnya sama mbaknya : (hah....emangnya gue tau lo pake sendal atau kagak mbak, kaki lo ngambang sekalipun gue juga kaga tau) (eh, maaf masih kebawa emosi) loh kenapa mbak ?
Mbak yang mijet kepala saya : Iya mbak, soalnya saya capek pake sepatu
Saya yang dipijet kepalanya sama mbaknya : ... *hening*

lalu saya dilempar ke mas yang menangani rambut saya selanjutnya untuk di keringin pake hair dryer (saja :D)
saya duduk, dan masnya... curhat juga..

Saya : capek ya mas ?
Masnya : iya mbak, hari ini tuh rame banget. semua orang ya pada dateng hari ini buat ngabisin voucher itu. saya sampe keteteran, banyak banget yang mau creambath, tapi sebelnya itu kita kan sering ngebantuin anak 'potong rambut' tapi kenapa mereka tuh gak pernah bantuin kita. padahal mah kita disini itu ya mbak ya digaji patok mati. yah gak ada salahnya gitu bantuin temen-temennya. paling penghasilan kita nambah, kalo ada yang ngasi tips ke kita aja.
saya : *hening lama* sabar ya mas...



Caption : Ini Masnya... *sengaja diblur* #apeu

sepertinya saya benar-benar datang di hari yang salah...
tapi setidaknya, foto gratis dan bingkisan dari sunsilk mengobati hati saya yang rapuh :")



Terimakasih sunsilk :)


notes : saya kurang baik dalam menjelaskan foto (caption). harap maklum. sekian

Jumat, 22 Juli 2011

An International Treat, Ismaya Catering



Kamis, 21 Juli 2011 kemarin saya ditawari untuk menghadiri sebuah acara jamuan makan yang diselelnggarakan oleh Ismaya catering di wisma nusantara, annex building dan lebih tepatnya di Upper room.

Undangan ini ditujukan untuk atasan saya, namun karena beliau berhalangan hadir maka acara kehadirannya di acara ini diwakilkan oleh saya dan laurene, teman magang saya yang berasal dari perancis.

Berangkat dari kantor sekitar pukul 10.00 dengan estimasi waktu kami dapat hadir ke acara tersebut tepat waktu sekitar 11.30 untuk menghindari macet dan mencari-cari lokasi. dan benar saja, perjalanan dari ragunan melintasi kuningan ke arah thamrin memakan waktu hampir dua jam.

Setelah mencari-cari lokasi dan berunding dengan supir taksi mengenai letak annex building yang ternyata terletak di dalam wisma nusantara. akhirnya tibalah saya dan laurene, di sekitar pukul 12.00 dan berpikir kami telah terlambat.

Perkiraan kami salah, kami datang sebagai tamu yang pertama. makanan belum juga disiapkan. namun dekorasi yang menarik mengobati sedikit rasa kecewa kami atas acara yang kurang tepat waktu itu.

well, berhubung kami tidak diharuskan balik ke kantor lagi. saya dan laurene santai dan berkeliling melihat ruangan tempat acara berlangsung.





dalam acara tersebut mereka menyediakan banyak jenis makanan, dari awal pintu masuk kami disambut dengan booth makanan yang menyediakan nasi bakar, kemudian sushi, dan seterusnya terdapat booth-booth yang menyediakan mille feuille, crepes, soup, main course untuk makanan indonesia yang disediakan secara prasmanan, pho bho, pasta dan pizza.

dan dilengkapi pula dengan booth seperti baverages yang menyediakan minuman-minuman unik, kemudian booth wine and cocktail, booth appetizer sebagai penyedia makanan pencuci mulut yang beragam.

contoh design ruangan yang bisa diprovide untuk wedding :



Lets enjoy :)

laurene dan saya memutuskan untuk mengambil minuman terlebih dahulu sembari menunggu makanannya disiapkan. dimulai dari mengambil white wine...



laurene dan saya mencari tempat duduk, dan kami ditawarkan cupcakes yang saya sinyalir sebagai "obat kesabaran"...



akhirnya, tamu sudah mulai ramai, makanan pun sudah mulai banyak yang tersedia. berhubung saya yang sedang kelaparan, saya langsung mencari sesuatu makanan yang mengenyangkan, saya lebih memilih untuk mencoba nasi bakar.

sangat tidak beruntung setelah sedikit lama mengantri, ternyata saya kehabisan nasi bakar. beralih ke maincourse, saya mengambil sedikit nasi putih dan ayam. lumayan pedas.

masih belum kenyang saya dan laurene berkeliling mencari makanan yang sudah bisa disantap... here is...









secara keseluruhan makanannya cukup enak, terutama hingga saat ini saya masih terbayang dengan rasa yang unik dari pho bho makanan khas dari vietnam. sayangnya, saya lupa mengambil fotonya sebelum dimakan. :D

mungkin saya pulang dengan menambah beberapa kilo di dalam bobot tubuh saya. karena seperti kelihatannya, saya benar-benar lupa diri.

kami tidak mengikuti acara hingga akhir, kami memutuskan pulang di jam 15.00. setelah menuliskan komentar di sebuah post-it yang akan ditempelkan di dinding yang berisi post-it lainnya. pulangnya, kami dibekali goodie bag yang berisi beberapa informasi mengenai ismaya catering dan satu hal menarik lainnya... Cupcake :D



Terimakasih Ismaya catering ^,^

Kamis, 21 Juli 2011

Untuk Bumi yang Lebih Baik



Siapa yang tidak prihatin dengan kondisi bumi saat ini? sampah yang bertebaran di mana-mana, polusi udara yang berdampak pada kesehatan serta gangguan habitat flora dan fauna yang tentu dapat merusak ekosistem lingkungan.

Terutama di Indonesia, hal ini telah menjadi masalah sosial yang pelik. Kita hidup dalam keadaan di mana masyarakat mempunyai kebiasaan “serba buang”. Dan telah menjadi suatu kemakluman jika masyarakat secara homogen menjalankan gaya hidup praktis, “ beli, sekali pakai dan buang.”


Dengan keadaan seperti ini tak heran jika kita turut andil dalam perusakan lingkungan. Penggunaan dan konsumerisme kita terhadap penggunaan barang sekali pakai menyumbang sampah sekitar 0,8 kg/hari setiap orangnya. Sehingga Jakarta mempunyai sampah yang diakumulasikan mencapai 6000 ton/hari. Dengan demikian, Indonesia memiliki sampah hampir 176.000 ton/hari. Lantas bagaimana dengan sampah di Indonesia selama seminggu? Setahun?


Kurangnya perhatian dari setiap individu berpengaruh besar terhadap penimbunan sampah tersebut. Dengan kepadatan penduduknya, sampah yang dihasilkan Jakarta hinga 2,2 juta dalam kurun waktu setahun. Dan hal tersebut di analogikan dapat membangun sebuah candi Borobudur yang berisi sampah. Mengerikan.

Kenali Sampahnya


Penggunaan plastik untuk berbagai keperluan sudah menjadi hal yang sangat lazim dan erat kaitannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari pembungkus makanan, wadah air minum sekali pakai, dan beberapa kepentingan lainnya seperti bahan baku kemasan, tekstil, bagian-bagian mobil dan juga alat-alat elektronik.

Semenjak maraknya supermarket di kota-kota besar, lebih dari 17 milyar kantong plastik dibagikan secara gratis oleh supermarket di seluruh dunia, setiap tahunnya. Sedangkan plastik termasuk salah satu jenis sampah yang berbahaya dikarenakan membutuhkan waktu 1000 tahun untuk menguraikan secara terdekomposisi atau terurai dengan sempurna. Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari tanah dan air tanah.

Sampah plastik yang proses pembakarannya tidak sempurna dan tidak menggunakan teknologi tinggi akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan, plastik akan mengurai di udara sebagai senyawa yang disebut dioksin. Senyawa ini dapat terbentuk pada pembakaran dengan temperatur yang rendah.

Dioksin dapat menimbulkan kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf, memacu depresi dan juga dapat bertindak sebagai pengacau hormon yang mempengaruhi sistem reproduksi. Selain mengakibatkan penyakit tersebut, dioksin mempengaruhi kemampuan belajar oleh anak yang sangat peka terhadap pencemaran udara.

Saya sedang menjalani “Gaya Hidup Hijau”. dimulai dengan hal terkecil seperti membawa tempat minum dan makan di kantor.



Sekarang giliran Anda :)

Rabu, 20 Juli 2011

antara palestina, kopaja, pelupa dan tukang tidur

penyakit lupa saya sepertinya semakin lama semakin kronis. bagaimana tidak kalau saya pernah meninggalkan kertas ujian take home saya disaat mau dikumpulkan pada sore itu, padahal saya sudah di kampus dengan niat mengantarkan tugas ke sekre. alhasil saya kembali ke rumah lagi dan kembali ke kampus dengan bercucuran keringat karena lari-larian di kejar waktu (plis, jangan bayangkan tubuh gempal saya yang berguncang-guncang karena berlari :P). tapi saya tidak akan menceritakan tentang kejadian itu lebih dalam.
sesuatu yang lebih luar biasa dari itu, menyangkut orang lain dan merugikan pihak yang terkait.

hari itu (saya lupa tepatnya kapan) saya dan tante saya mengikuti aksi damai tentang palestina. ini merupakan pengalaman pertama saya, selain karena topiknya yang menarik. saat itu saya memang sedang dekat dengan seseorang (aksi terselubung ceritanya, haha) yang mencintai palestina dengan teramat sangat. menjadi salah satu interest saya lah palestina semenjak saat itu.

saya dan tante saya mengenakan pakaian yang muslimah begitu juga dengan semua yang menjadi partisipan, menambah nuansa islami yang mewarnai hari indah itu. suasana disana terasa sangat damai namun berkali-kali saya di buat merinding. orasi-orasi yang membahana sukses membuat saya beberapa kali menitikkan air mata dan memikirkan bagaimana nasib saudara kita sesama umat manusia dalam kondisi genting seperti sekarang ini. berjalan dari monas ke bundaran HI dengan semangat dan harapan, serta bersama-sama mendoakan bahwa aksi damai kali ini juga dapat membawa perdamaian di palestina.

sepulang dari aksi tesebut, saya dan tante saya mampir sebentar ke blok m untuk melaksanakan sholat maghrib. berkeliling (cuci mata boo,namanya juga perempuan), makan dan melaksanakan sholat isya. seusainya kami bergegas untuk pulang. alternatif satu-satunya saat itu yang ke arah depok hanya naik kopaja 63 (sebelum saya mengenal 143) yang padet nya minta ampyuuun cin..

alhasil kami menemukan kopaja yang 'lumayan' sepi untuk ukuran 63. kami duduk terpisah. awalnya si tante duduk tepat di belakang saya. tapi ntah karena maksud apa dia malah berpindah tempat duduk ke bagian paling belakang kopaja. tapi ya sudah lah pikir saya.

selama di perjalanan penumpang nya semakin bertambah, semakin sesak kopajanya dan saya semakin sulit mengambil nafas. dan naiklah seorang ibu hamil, berjalan ke dalam kopaja dan mulai terhimpit dengan orang banyak. dia sedikit jauh dari saya. tetapi di samping di tempat ibu tersebut berdiri, wanita muda berjilbab duduk. saya kira dia akan memberikan tempat duduknya, hampir 10 menitan berlalu, namun tidak juga. saya sedih sekali melihat ke apatisan saudara saya. yah, saya tidak mengerti apakah dia tidak melihat atau memang tidak mau melihat kondisi ibu tersebut. lantas saya mengambil tindakan dengan memanggil ibu tersebut dan menuntunnya duduk di tempat duduk saya (walau sempat beberapa kali ada orang yang hendak medudukinya).
saya berdiri tepat di depan ibu tersebut.

selama berdiri, saya mulai mengkhayal (salah satu kebiasaan buruk).
saya masih berfikir tentang keapatisan masyarakat dewasa ini, apakah karena kejamnya hidup membuat orang menjadi lupa akan nilai-nilai kemanusiaan ? mengapa orang tidak berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan ? mengapa bangga dengan kemunafikan yang kalian perbuat ? apa benar sulit untuk menemukan orang tulus jaman sekarang ?
lalu kembali saya melihat kondisi ibu tersebut...
kemana suami ibu ini ? mengapa dia naik kopaja ? apa hidupnya susah ? derita apa yang dia alami saat ini ? lantas bagaimana jika ibu tadi adalah saya, yang sedang hamil, naik kopaja karena susahnya hidup. apakah masih ada yang mau menawarkan tempat duduk nya buat saya ?
saya masih terus berkhayal... (bahkan ketika saya sudah mendapat tempat duduk lagi dan hampir mendekati komplek perumahan)
apa yang harus saya lakukan dengan hidup saya ? saya akan terus berjuang untuk kebahagiaan hidup saya dengan menjadi seseorang yang sukses dan membahagiakan orang tua saya. yang jelas saya tidak akan menikah terlebih dahulu sebelum saya meraih kesuksesan dengan tangan saya sendiri.
saya mengakhiri khalayan saya dan tersadar bahwa saya harus turun.
lalu saya menghentikan kopaja dengan memberikan tanda berupa beberapa ketukan di langit-langit kopaja.
saat saya sedang berjuang melangkah turun di tangga turun terakhir, saya baru ingat satu hal.
saya berusaha memberi tahu si abang kenek.
tapi yang keluar dari mulut saya hanyalah
"bang... eh.. bang"
si abang malah ngomong
"nah neng hati-hati yah kalo turun liat kiri kanan" *si abang sok perhatian -____-
saya masih terpaku, si kopaja perlahan melaju..
saya diam memandangi kopaja, berharap ada yang menyusul keluar.
namun ternyata tidak, saya berusaha berlari kecil, melihat, dan berharap kopaja berhenti.
tiba-tiba saya mendapat kekuatan berteriak
"EH TANTE SAYA MASIH DI DALAM BANG"
namun sepertinya semua sudah terlambat...
kopaja sudah melaju terlalu jauh. sekarang saya makin bingung. apa yang harus saya lakukan. apalagi mengingat tante saya tidak memegang dompet dan handphone karena dititipkan pada saya.
saya mulai senyum-senyum sendiri, memutuskan untuk berjalan masuk ke komplek dan pulang.
ternyata dari tadi, pak satpam *nggak tau sapa namanya,sudah melihat adegan lari-lari kebingungan di tengah jalan dan kemudian bertanya kepada saya ?
"knapa neng ?" tanyanya
"TANTE SAYA KETINGGALAN PAK DI KOPAJA" ujar saya terengah-engah
*pak satpam terbahak-bahak
"lah neng kok bisa ? ga di telpon ?" *masih tertawa
"HP nya sama saya pak, dia ga megang duit juga karena semuanya di tas saya. dia cuma megang dvd bajakan MY NAME IS KHAN pak" *dengan tampang panik
si bapak malah tertawa-tawa.
tampaknya si bapak tidak mebantu sama sekali. lalu saya pulang ke rumah berharap medapatkan solusi dari saudara-saudara yang lain.
saya menceritakan kejadiannya...
dan mereka TERTAWA JUGA !
saya gundah gulana (halah) mengingat tante saya bisa saja ngamuk seperti banteng ketika dia pulang.

kurang lebih setengah jam berlalu...
akhirnya tante saya pulang dengan tertawa-tawa (menertawakan dirinya sendiri sepertinya) dia mengatakan dia sudah tertidur dengan lelapnya di dalam kopaja dari awal dia mulai duduk di bagian paling belakang kopaja.
haduuuuuuuuhhhh....
tetapi dia tidak marah sama sekali dengan kelupaan saya sehingga meninggalkanya di kopaja, karena ini merupakan tindakan konyol kami berdua.
BEGINILAH JADINYA KETIKA PELUPA BERTEMU DENGAN TUKANG TIDUR

Jumat, 15 Juli 2011

Seminar Perhumas: Manajemen Reputasi, Tantangan Negara dan Korporasi Indonesia



sebelumnya saya tidak pernah mendengar tentang apapun mengenai Perhumas, ya... padahal saya adalah mahasiswi komunikasi jurusan hubungan masyarakat (humas) sudah seharusnya saya cepat tanggap terhadap perhumas yang merupakan wadah organisasi tempat bernaungnya humas-humas perusahaan (Perhumas) dan mahasiswa jurusan humas (Perhumas Muda)

berawal dari ajakan teman di kantor tempat saya magang, saya diminta untuk ikut membantu sebagai Perhumas Muda yang turut menjadi panitia dalam acara yang diselenggarakan oleh Perhumas. yaitu sebuah Seminar Nasional dengan judul Manajemen Reputasi: Tantangan Negara dan Korporasi Indonesia dan di hari yang sama ( 16 Juni 2011)

saya sudah menginap di Hotel sultan (tempat acara diadakan), dari malam sebelum acara Seminar tersebut dilangsungkan. bersama teman-teman Perhumas Muda lainnya, kami mendapat dua kamar terpisah untuk laki-laki dan perempuan.

pada seminar itu, saya diminta untuk bertugas sebagai LO. awalnya saya berpikir saya akan berurusan dengan seseorang dan mengurusi semua kepentingannya seperti tugas LO pada biasanya.

well, sepertinya semua tidak terwujud. saya kehilangan arah komando. bahkan yang memberi saya perintah juga turut bingung. dan sesuai inisiatif, saya dan temen saya hanya bertugas sebagai penyambut tamu dan mengantar tamu ke kursi yang kosong.

selama sesi berlangsung, tentu saya ikut juga mendengarkan dan belajar. apalagi mengingat biaya seminar ini cukup mahal untuk ukuran mahasiswa seperti saya. sudah menjadi keharusan untuk mengambil keuntungan semacam ini :D. beberapa presentasi menarik yang sempat saya ingat, adalah dari Telkomsel,Aqua dan Pertamina.

secara keseluruhan presentasi yang lain juga menarik, mereka membecirakan tentang tantangan yang pernah di lewati dari suatu perusahaan. bagaimana cara menyelesaikannya, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan "kerjaan humas perusahaan"

sambil bekerja sambil belajar, saya turut mengumpulkan slide-slide dari pembicara pada seminar. dan dalam acara ini peserta dan panitia juga kebagian buku secara gratis. buku ini berisi tentang indonesia dalam headline, maksudnya adalah berbagai permasalahan yang dihadapi indonesia serta pemberitaan yang muncul di media.

ini kali pertama juga saya mengikuti Munas, segalanya temapak menarik dan menegangkan. berbagai pihak mengeluarakan pendapatnya. awalnya saya takut akan terjadi semacam pertengkaran, namun ternyata semuanya berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. tujuan dari Munas Perhumas ini adalah untuk melakukan pemilihan ketua umum Perhumas periode 2011-2014. dan pemenangnya adalah Ibu Prita Kemal Gani.



The Extras

hal lain yang saya dapat dari acara ini adalah, saya bertemu dengan berbagai profesional dari perusahaan. tentu saya belajar banyak tentang menjaga citra atau reputasi termasuk how to speak with the professional :)

mengira saya adalah salah satu Perhumas yang telah lulus kuliah atau sedang bekerja. beberapa kenalan saya pada acara tersebut mewakili perusahaannya menawarkan saya bekerja disana.

its so fun :)

Rabu, 13 Juli 2011

GCC Youth Camp 2011, Bring me back to life :)


Mengutip kata-kata dari nita, salah satu teman serumah saya semasa GCC Youth Camp di lembang.
GCC Youth Camp 2011 “bring me back to life”

hal serupa yang ikut saya rasakan

GCC Youth Camp 2011, membawa saya ke dunia yang baru. Saya belajar banyak tentang segala hal disini. Semua dari hal yang paling mendasar, ilmu yang berkaitan dengan kepribadian diri sendiri, orang-orang dan lingkungan di sekitar kita, hingga ke detail cara untuk membuat suatu perubahan tersebut.

Semua perubahan itu dimulai dari diri kita, mencintai diri sendiri adalah satu bentuk bukti bahwa kita merupakan pribadi yang dapat diandalkan. Tentu saja, setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Tetapi bagaimana cara untuk dapat merubah diri kita menjadi pribadi yang positif dan menginspirasi orang banyak tanpa harus minder dengan kekurangan yang kita miliki adalah sebuah nilai plus. Tidak akan mungkin seseorang dapat mencintai orang lain, jika dia tidak mencintai dirinya sendiri.

Adanya perhatian dan rasa simpatik kita terhadap hal-hal lain yang diluar dari kepentingan diri kita sendiri merupakan tahap awal dimana kita tanggap terhadap isu-isu sosial. Banyak permasalahan yang terjadi di dunia ini, semuanya akan terasa kompleks ketika semua orang hanya berpikir tentang dirinya saja.

Beberapa diantara kita tinggal dalam zona yang nyaman, tempat tinggal, makanan, sekolah, lingkungan dan keluarga yang baik. Terkadang kita memang lupa bersyukur, dan kemudian berpikir… melihat kenyataan bahwa masih banyak orang yang memiliki nasib tidak seberuntung kita. Dan kita tersenyum.

Sudah seharusnya kita marah. Karena berpikir saja tidak pernah cukup, permasalahan tersebut merupakan tantangan buat kita. Bagilah senyum kita untuk mereka, untuk bumi.
Mari lakukan perubahan dimulai dari hal terkecil yang kita bisa lakukan 

New friends


di kantor Mercy Corps, Sebelum berangkat ke lembang

Ada satu hal baru yang saya dapat sebagai GCC leaders untuk masa bakti 2011-2012. Sesuatu yang menjadi sebuah pengalaman berharga yang tidak ternilai, saya bertemu dengan teman-teman leaders hebat lainnya.

Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Saya bukan termasuk orang yang cepat akrab. Ketika pertama kali berada di tempat tersebut, saya merasa aneh. Tak banyak yang dapat saya kerjakan karena sifat saya yang seperi ini.

Awalnya pun saya kira pertemanan ini hanyalah sebagai formalitas selama 5 hari saja. Namun atmosfer keakraban dan keramahan begitu kental terasa menjelang beberapa hari terakhir.


narsis ketika makan :D


saat break makan siang atau malam, biasanya para leaders bermain tebak-tebakan :)

Mereka berpikir dengan kritis ketika bekerja bersama kelompok, bermain dan menghabiskan banyak waktu bersama ketika break makan, sholat dan waktu istirahat.
Well, saya benar-benar merasa enjoy disini. Saya merasa seperti berada di rumah sendiri.




salah satu games, yang dimainkan sebelum sesi dimulai



dengan kelompok kecil saya, membangun GCC building :p


dengan kelompok besar (sebelum diubah)

Di hari terakhir, saya benar-benar merasa sedih karena harus berpisah tinggal dengan teman-teman yang hebat seperti mereka. Untuk malam terakhir kami bersama, para leader melalui kelompok yang telah dibentuk diharuskan menampilkan sesuatu pada malam talent show.

Syaratnya adalah, pesan yang disampaikan harus jelas dan haruslah menghibur. Kelompok saya mendapat tema yang menarik untuk dipertunjukkan “human rights and gender”. Kita memutuskan untuk membuat suatu pertunjukan drama kecil-kecilan.


with rian, di dalam drama dia menjadi pacar saya yang ternyata gay


masih dalam drama :p

Meskipun drama kami bukanlah yang terbaik, namun tanpa disangka, drama tersebut membawa saya sebagai the most talented pada malam itu. Para juri atau kakak fasilitator mengaku kesulitan mencari pemenangnya. Sebagai hadiahnya saya mendapat sebuah bingkisan yang ternyata berisi sebuah buku yang sudah lama saya impikan untuk dibeli. Yaitu, 1 perempuan 14 laki-laki.


wohooo... i got the prize !!

seusai pertunjukan, sebelum pengumuman pemenang dan renungan kebersamaan selama beberapa hari ini. seperti biasa kami menghabiskan waktu untuk banyak bermain, bernyanyi dan yah... menari ! saya merasa seperti sedang berada di camp rock :p


haha, break the rules :d

Anyway, saya memiliki kelompok yang hebat, mempunyai teman serumah yang lucu-lucu dan keseluruhan teman yang ramah.


bersama kelompok kecil, di hari terakhir


bersama kelompok besar (sesudah diubah) yang juga kelompok drama :)

and then, this is the whole leaders batch 1 :


Leaders ? I'm the change

Tempatnya

Villa Air - Lembang, 4-8 Juli 2011




its amazing place, isnt it ?



foto : koleksi pribadi dan dari berbagai sumber yang saya dapat di facebook. thank youuuu :D

Jumat, 01 Juli 2011

Ibuku yang kuat

Pekerjaanku selalu menuntutku untuk pulang malam, larut malam atau bahkan hingga pagi.

Demikian juga dengan hari ini yang memaksaku harus pulang pada jam sebelas malam. Bukan waktu yang wajar untuk seorang pekerja kantoran, bagiku ini suatu hal yang biasa atau sengaja aku biasakan disaat umurku yang masih muda, energik dan bersemangat seperti sekarang.

Aku ingin meraih kesuksesan . beberapa memang terlupakan. Aku sadar benar hal itu terkadang terjadi. Semua itu aku lakukan untuk keluargaku, aku dan masa depanku. Aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Setidaknya, ini menurutku.

Aku memasuki rumah. Sunyi dan senyap. Aku tinggal berdua saja dengan ibuku. Kakak-kakak ku sudah menikah dan sukses. Ini pula lah yang menjadi cambukan buatku. Agar aku terpacu menjadi anak yang juga ingin dibanggakan.

Aku melihat jam. Ibu pasti sudah tidur. melihat keadaan rumah yang begitu sepi, aku merasa kurang akan suatu hal. entah apa itu.
Aku merebahkan diri sebentar di kursi yang ada di ruang tamu, pikiranku lega mengingat besok adalah hari sabtu. Yang berarti aku dapat beristirahat satu harian di rumah.

Mataku langsung tertuju pada album foto serta foto-foto yang berserakan di atas meja.

“tumben sekali ibu tidak merapikan foto-foto ini” batinku

Aku telah berulang kali melihat album itu, aku ingin membuka kembali album foto itu.

Tapi aku dan tubuhku seperti tidak sedang kuasa untuk bercengkrama dengan masa lalu.
Aku berlalu masuk ke kamar, dan mengabaikannya

***

Usapan lembut telah membangunkan aku di sabtu pagi ini. pelan-pelan kubuka mataku, kulihat ibu yang sedang duduk disampingku.

“kamu mau kemana hari ini dek ?” bisiknya dengan perlahan

“aku ada janji ma, sama temen-temen aku” jawabku dengan nada yang masih setengah mengantuk mengisyaratkan aku ingin istirahat lebih hari itu.

lama ibu menjawab kembali,
“oh yaudah, mama udah siapin sarapan ya di meja makan”

“iya ma” ujarku memutar badan membelakangi ibu, melanjutkan tidurku.

Ibu berlalu pergi, menutup pintuku dengan perlahan seolah mengerti sekecil apapun suara yang ditimbulkan oleh pintu itu dapat menganggu kenyenyakan tidurku.

***

Aku sengaja bangun lebih siang hari ini. sabtu dan minggu adalah alasan satu-satunya aku dapat beristirahat cukup di rumah, mengobrol dengan teman dan bertemu dengan kekasihku. Semua sudah sesuai jadwal, meski aku bukan orang yang perfeksionis tapi semenjak aku bekerja, aku sudah mengatur sedemikian rupa untuk berbagai kegiatanku.

Aku termasuk orang yang giat bekerja, ambisius lebih tepatnya. Senin hingga jumat aku kerahkan seluruh energi ku untuk mencapai hasil maksimal dalam bekerja.

Untuk lelaki seumuranku, aku sudah terbilang sukses. Atau paling tidak aku punya semangat untuk meraih semua kesempatan yang ada. Tak heran, banyak teman-temanku yang kagum padaku.

***

Aku berencana merapikan kamarku yang berantakan sebelum aku pergi nanti siang.
Sekitar jam setengah sepuluh, aku memutuskan untuk meninggalkan empuknya tempat tidur dan bergegas merapikan tempat tidur.

Kuraih handuk yang tergantung di balik pintu, aku ingin segera mandi, sarapan dan bertemu dengan teman-temanku.

Keluar kamar, sebelum menuju kamar mandi aku melintasi ruang tamu tempat aku beristirahat sebentar tadi malam. Aku masih melihat album-album yang berserakan diatas meja, foto-fotonya pun masih dalam keadaan yang berserakan.

Aku tahu ibu adalah seorang yang rapih. Apakah hal ini luput dari pandangannya saat ini ?

Aku menyampiri meja tersebut, mengurungkan niatku sebentar untuk mandi.

Aku meraih album-album tersebut. Aku tergoda membuka album yang pertama. Ditumpukan paling atas, yang terbesar dan berwarna putih.

Wajahku tersenyum, foto pernikahan ayah dan ibu. Terlihat jelas sekali wajah bahagia mereka. Ibu berulang kali menceritakan tentang hal ini padaku. Aku sampai hafal betul cerita dari foto per foto. Biasanya ibu selalu antusias menceritakan bagaimana proses ayah mengejar cinta ibu.

Ibu adalah kembang desa dulunya, wajah cantiknya masih bersisa dibalik kerutannya hingga kini. Dan aku tahu, ayah juga tipe pejuang sejati, meski beberapa kali ibu menolak diajak jalan. Akhirnya ibu luluh juga.

Sayangnya, pernikahan mereka tidak berlangsung lama. Kisah ini tidak semulus dan seindah kisah sewaktu mereka pacaran. Ayah meninggaalkan ibu, untuk alasan ter absurd yang pernah aku dengar.

Ibu berjuang sendiri, membesarkan ketiga anaknya. Aku dan kakak-kakakku.

Ibu adalah wanita tertangguh yang pernah aku kenal. Sekalipun ayah menyakiti hatinya, sama sekali dia tidak pernah mengajarkan kami untuk membenci ayah.

Aku membuka halaman album foto selanjutnya, ada foto ketika kakak-kakakku dan aku yang masih bayi. Semuanya terlihat polos, suci dan rapuh. Dan disaat itu aku sadar dalam keadaan kami yang sedemikian rapuh, hanya ibu… hanya ibu tempat kami berlindung.

Tanpa pernah tahu masalah terberat apakah yang sedang terjadi pada ibu.

Aku bangga pada ibu. Aku rindu masa-masa itu… saat aku tak pernah tahu apa yang terjadi di keluarga kami. Aku begitu riang gembiranya, aku selalu percaya saja tentang perkataan ibu yang selalu menyampaikan kabar bahwa ayah sedang bekerja di luar kota.

Aku juga kangen kakak-kakak ku yang selalu ikut serta melindungku, mereka tahu… belum saatnya aku untuk tahu masalah yang kami hadapi.

Aku menutup album pertama itu, album terindah dalam hidupku. Aku masih menyimpan rasa haru dalam hatiku.Tentang kenangan yang membentukku hingga aku menjadi "aku" pada hari ini dan tentang ibu sosok yang kuat.

Aku membereskan album-album itu. Menumpuknya dengan rapih. Aku tak berniat membuka album lainnya yang berisi foto-foto baru, aku hanya ingin bernostalgia.

Sedari tadi ada hal yang lebih menarik yang menjadi pusat perhatianku, foto-foto diluar album diatas meja yang berserakan… ada yang tebalik ada yang terbuka…

Kukumpulkan satu persatu… kususun… kurapihkan.. sambil kulihat-lihat…

Semuanya fotoku… kuperhatikan lembar perlembar… tidak ada yang lainnya…
Tidak ada foto kakak-kakakku… hanya aku…

foto-fotoku masih bayi … balita, masuk sekolah SD, SMP….

Beberapa kulihat fotoku berdua bersamanya…

Ada apa ini sebenarnya ? ibu sedang membenahi fotoku… mengeluarkannya dari album kemudian membiarkannya berserakan diatas meja…

Tanpa sengaja aku mulai merasakan air membasahi ujung mataku, hatiku tertegun…

Ibu kangen denganku…

Aku anaknya yang selalu ditemuinya setiap hari, namun aku selalu tak punya waktu cukup untuk berbagi canda dan bahagia dengannya di akhir pekan.

Aku meraih satu foto…

Foto aku yang berumur sekitar lima tahun, duduk di samping ibu yang sedang mengenakan pakaian formal, di kantor.

Nasib yang mengharuskan ibu untuk bekerja, ibu harus menghidupi anak-anaknya sendirian, ibu harus menjadi benteng pelindung terhadap anak-anaknya sedangkan saat itu dia sedang dihujat dunia, kami di benci keluarga.

Ibuku yang kuat selalu menyempatkan diri disela-sela waktunya untuk memberi perhatian semaksimal mungkin padaku, mengingat aku harus hanya merasakan kasih sayang tanpa seorang ayah. Dia bekerja dan dia mengurusku.

Membawaku sesekali ke kantornya, bercerita pada teman-temannya betapa membanggakannya aku, betapa menggemaskannya aku dan betapa kuatnya aku. Aku yang sama sekali tidak mengerti maksud ibu apa, memahaminya dengan betul sekarang.

Aku telah salah. Banyak salah. Aku dengan tega sering mengabaikannya. Terkadang berpikir seolah menenangkan diri bahwa ibuku masih ibu yang kuat, ibu yang bisa mengurus segala hal dengan sendiri.

Aku telah lupa sebagaimana keras dia membuat hidupku bahagia. Aku telah lupa,bahkan kakinya sekarang sudah tidak dapat menopang cukup kuat untuk berdiri berlama-lama.

“Anak macam apa aku, Tuhan ?”

Aku berteriak, berontak di dalam hati. Aku menangis teriris sejadi-jadinya. Inikah balasanku ? inikah caraku membuat dia bahagia ? materi tak akan cukup membuat dia bahagia, waktu kesepiannya, penantiannya setiap malam sebelum pulang, tak pernah terbayar olehku.

Sesekali saja dia memintaku untuk bergantian memberinya perhatian seperti dia memanjakan aku dulunya. Bahkan tak pernah aku penuhi.
Aku meletakkan kembali foto-foto yang telah menyadarkan aku,
bagi ibuku…

aku tetap anaknya yang polos, jujur dan kuat. Meski aku berubah menjadi dewasa….


Tulisan diatas terinspirasi dari Ronny Marchiano

Saat melihat masa kecil kita difoto, kaya ngaca sama diri sendiri betapa lucu dan polosnya kita waktu itu. Tanpa kita sadari masa telah lewat dan tanpa kita sadari pula kita sering kali melupakan kasih sayang ortu terutama ibu yang telah membesarkan kita sampai saat ini. - Ronny

Kamis, 23 Juni 2011

google or goggle

Hari ini cukup hectic tapi santai. kenapa santai ? karena atasan saya sedang ada banyak meeting dan membuatnya tidak dapat hadir ke kantor seharian ini. tapi meskipun begitu suasana tetap hectic, boss saya memberikan banyak tugas yang harus dilakukan sebagai pengganti ketidakhadirannya di kantor.

sangkin ribet dan belibetnya. saya sampai beberapa kali lupa harus mencari data apa di google. bolak-balik google ternyata tak membuat saya lancar mengingat nama google dengan benar. yah... lagi-lagi si ceroboh ini melakukan tindakan konyol

- saya masuk ke www.goggle.com
- shock melihat gambar ini :

- semangat kuis hunter saya langsung membabibuta, melihat waktu yang dibatasi saya tidak memperhatikan lagi secara seksama. semuanya mempermainkan emosional ternyata.
- setelah menjawab beberapa pertanyaan
- muncul lah gambar ini

yang saya kira google sedang melakukan promosi besar-besaran
- saya semakin menggila, tiba-tiba teman sebelah saya ikut nimbrung, "eh, itu tulisan googlenya salah." saya masih konsentrasi mengikuti semua petunjuknya.
- sampai akhirnya, website tersebut meminta no handphone... dan masuklah sms yang berisi ...

Hai kesempatan kamu untuk beli Ipad 2 cuma 10.000 tinggal selangkah lagi. ketik SMS REG MURAH kirim ke 57xx sekarang juga!



DANG YOU DIE ! barulah saya sadar sedari tadi yang saya buka adalah website si goggle bukan google !

Finger Print di Pagi yang Random

Holaaa... saya sangat bersemangat sekali bangun pagi ini. di kantor tempat saya magang. hari ini memberlakukan sistem finger print pada absensi untuk anak magang. okay... ini dia... finger printnya...



jam diatas menunjukkan pukul 8.51. tapi bukan berarti saya datang untuk waktu yang demikian.
tadinya saya mau memoto diri saya ketika melakukan absent, tapi dikarenakan ketika saya masuk, mencobanya pertama kali dan saya gemetaran... huaaa tidaakkk... saya berhasil.... !! yes... oke, saya norak.
saya masuk sekitar pukul 8.10 dan belum punya keberanian untuk memotret si finger print itu, akhirnya saya naik ke atas dan belum menemukan siapapun di dalam kantor.
selang berapa menit kemudian, apri datang... iva datang...
saya pun memaksa iva menemani saya ke bawah dengan alibi mau beli jajanan. hahaha...
dia tidak tahu saja bahwa tujuan utama saya untuk memotret si finger print itu.

Rabu, 15 Juni 2011

pemalas

huaaaa.... sudah lama tidak menulis... harus dicambuk... !!!


Hayoo ! Lebih semangatttt.....

Selasa, 03 Mei 2011

Company Visit to Unilever



Ini adalah kali pertama saya ikut Company Visit secara resmi dari kampus. well, mungkin sebagian dari kalian akan bertanya kemana saja saya semasa SD, SMP, SMA. jangan tanya kenapa. saya tinggal di tempat yang tidak pernah anda bayangkan.

Berdasarkan mata kuliah Internal Relation, dosen saya yang akrab dipanggil mbak icha mengajukan company visit di tempat dia bekerja yaitu Unilever.

berangkat bersama-sama dengan seluruh angkatan humas 2009 vokasi UI yang menggunakan bis kuning UI, kami tiba disana sekitar pukul 9 (sudah ditambah macet)

Unilever, mempunyai suasana lingkungan kerja yang menarik, para karyawannya yang sangat antusias bekerja juga di fasilitasi oleh banyak fasilitas dan hiburan yang menunjang.

kami mengitari gedung Unilever, diperkenalkan dengan budaya yang tercipta, berhubung Unilever memegang brand yang cukup banyak, masing-masing divisi memiliki budayanya tersendiri, serta cara-cara kerja yang interaktif.

yang menarik disini adalah bagaimana para internal-relation membuat para karyawan untuk tetap bekerja dengan baik dan juga memilki gaya hidup yang seimbang.



caption : Bersama Humas Unilever, Aurellio Kaunang
pesan tersirat : Ya Allah gantengnya... *susah nafas*

Kamis, 10 Maret 2011

Say Hello to The New Me



Selamat pagi semuanya...
Sekedar informasi, bahwa ini bukanlah postingan pertama saya. Dikarenakan kebodohan yang (tidak) disengaja, saya berhasil menghapus seluruh tulisan saya di blog ini. Dan 15 menit kemudian saya menyesal.

Butuh waktu yang cukup lama untuk membangkitkan lagi mood menulis. Walaupun tersirat rasa penyesalan yang cukup mendalam, susah sekali menggerakan tangan dan memulai sesuatu yang baru di sini.

Dan hari ini akhirnya datang juga... (catat tanggal ini, plis...)
Hari ketika saya (harus) membangkitkan kembali blog ini dari tidur panjangnya. mulai dari mengubah tampilannya... serta menerapkan rules baru atau semacam komitmen terhadap diri sendiri dalam hal menulis.

okay, lets do it... lets writing... lets dreaming :)